Pendidikan

MPLS Ramah Jadi Langkah Awal Mewujudkan Sekolah yang Menghargai Potensi Setiap Peserta Didik

Jakarta, RuangVeritas.com – Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) dipandang bukan sekadar kegiatan penyambutan peserta didik baru, melainkan momentum penting untuk membangun budaya sekolah yang aman, inklusif, dan menghormati setiap anak. Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat menghadiri pelaksanaan MPLS di Sekolah Santo Fransiskus, Jakarta, Rabu (15/7).

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik, menjadikan hari pertama sekolah sebagai awal terciptanya lingkungan belajar yang penuh kepedulian, saling menghargai, serta mampu mendukung setiap anak mengembangkan potensi terbaiknya.

Menurutnya, hari pertama masuk sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengenalkan fasilitas dan aturan sekolah. Masa tersebut merupakan langkah awal perjalanan pendidikan yang akan membentuk karakter, menanamkan harapan, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.

Abdul Mu’ti mengaku merasa optimistis setiap kali bertemu dengan anak-anak, terlebih saat melihat antusiasme peserta didik baru yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah sebagai simbol keberagaman Indonesia. Baginya, semangat dan keceriaan mereka menjadi gambaran harapan bangsa di masa mendatang.

Ia menegaskan bahwa setiap anak merupakan amanah yang harus dibimbing dengan penuh kasih sayang agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berilmu, dan siap melanjutkan estafet pembangunan bangsa. Karena itu, sekolah harus menghadirkan suasana yang aman, nyaman, dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Nilai tersebut menjadi dasar pelaksanaan MPLS RAMAH yang dikembangkan Kemendikdasmen. Melalui pendekatan ini, sekolah diharapkan menjadi ruang yang menyenangkan bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan belajar, membangun pertemanan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah sebagai tempat yang aman dan mendukung proses tumbuh kembang mereka.

Lebih jauh, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sekolah yang benar-benar ramah tidak hanya ditunjukkan melalui fasilitas yang memadai, tetapi juga melalui sikap seluruh warga sekolah dalam memperlakukan setiap peserta didik dengan hormat tanpa memandang latar belakang maupun kondisi mereka. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda dan layak memperoleh kesempatan untuk berkembang secara optimal.

Prinsip memuliakan peserta didik tersebut, lanjutnya, juga menjadi bagian dari pendekatan Deep Learning yang saat ini dikembangkan Kemendikdasmen. Ia menjelaskan bahwa proses belajar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga bertujuan membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter, serta mampu memanfaatkan pengetahuan untuk menghadirkan kemajuan dan kehidupan yang damai di tengah masyarakat.

Budaya tersebut telah diterapkan di Sekolah Santo Fransiskus. Ketua Yayasan Santo Fransiskus, Romo Vinsensius Darmnin Mbula, mengatakan bahwa sekolah menerima setiap anak sebagai pribadi yang bernilai tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi ekonomi keluarganya. Menurutnya, pendidikan harus menjunjung tinggi martabat setiap peserta didik melalui proses pembelajaran yang bermakna.

Ia menambahkan, tema MPLS tahun ajaran 2026/2027, “RAMAH dan Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan”, sejalan dengan semangat yang diusung Kemendikdasmen melalui pelaksanaan MPLS RAMAH. Sekolah berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang bersahabat, proses pembelajaran yang inklusif, serta akses pendidikan yang terbuka agar seluruh peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi. Pada tahun ajaran baru ini, Yayasan Santo Fransiskus menerima 88 peserta didik baru yang tersebar di jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Menutup kunjungannya, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa mendidik merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan komitmen seluruh ekosistem pendidikan. Ia mengibaratkan pendidikan seperti menanam pohon yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berbuah. Karena itu, ia mengajak guru, orang tua, dan seluruh masyarakat terus bekerja sama mendampingi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button