Kemendikdasmen Percepat Pemulihan Pendidikan Pascagempa di Flores
RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat proses pemulihan layanan pendidikan setelah gempa bumi melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahap awal penanganan bencana, yakni periode 0–14 hari setelah kejadian, Kemendikdasmen menjalankan berbagai langkah tanggap darurat untuk memastikan kebutuhan pendidikan di wilayah terdampak dapat segera ditangani.
SDK St. Stefanus Nangadhero, Nagekeo
Selama dua pekan pertama pascagempa, Kemendikdasmen melengkapi pendataan kebutuhan dari 306 sekolah yang sebelumnya belum memberikan data. Selain itu, akses menuju 22 sekolah yang belum terjangkau berhasil dibuka. Pemerintah juga mendirikan ruang kelas darurat di 10 sekolah yang menjadi prioritas, menyalurkan school kit dan family kit tahap pertama, serta melakukan verifikasi terhadap 630 sekolah yang memiliki perbedaan kategori tingkat kerusakan.
Berdasarkan data hingga 23 Agustus 2026, gempa bumi berdampak pada 1.918 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten dan 97 kecamatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 665 sekolah mengalami kerusakan berat dengan 6.927 ruang kelas turut terdampak. Kondisi tersebut menyebabkan 141.207 siswa harus menghentikan kegiatan belajar, sementara 48.164 warga sekolah terpaksa mengungsi.
Sebanyak 785 sekolah telah mengusulkan kebutuhan Ruang Kelas Darurat (RKD) dengan total kebutuhan mencapai 2.908 unit. Hingga Minggu (30/8), sebanyak 89 tenda telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar sementara. Selain itu, sembilan tenda masih dalam perjalanan menuju sekolah dari Pos Logistik Pendidikan Manggarai Timur, sedangkan dua tenda lainnya sedang dikirim dari Pos Logistik Labuan Bajo.
SMA S St. Gregorius Reo, Kabupaten Manggarai
Kerusakan paling banyak tercatat di Kabupaten Manggarai, dengan 381 sekolah dan 1.887 ruang kelas mengalami kerusakan. Selanjutnya, kerusakan juga cukup signifikan terjadi di Nagekeo sebanyak 1.487 dan Manggarai Timur sebanyak 1.200.
Dampak bencana juga membuat proses belajar 141.207 siswa terhenti. Sebanyak 1.221 sekolah masih diliburkan, sementara 37 sekolah telah mulai melaksanakan pembelajaran darurat dan 295 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di sisi lain, masih terdapat 1.568 sekolah yang belum mendapatkan penanganan. Dari keseluruhan sekolah terdampak, sebanyak 344 sekolah tercatat sebagai penerima program revitalisasi tahun 2025/2026.
Memasuki tahap berikutnya, yaitu masa transisi pembelajaran, penanganan tidak hanya berfokus pada penyediaan ruang belajar sementara. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan kepada para penyintas, khususnya melalui dukungan psikososial.
Salah satu kontribusi datang dari Universitas Diponegoro (Undip) melalui tim Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART). Kehadiran tim tersebut di sejumlah wilayah terdampak dinilai membantu membangun kembali semangat dan motivasi siswa untuk kembali belajar. Upaya ini sekaligus mendukung langkah Kemendikdasmen dalam memulihkan kegiatan pembelajaran yang terhenti di 1.221 sekolah.
D-DART Undip telah melaksanakan kegiatan pendampingan psikososial di Kabupaten Ngada pada Jumat (28/8), kemudian dilanjutkan di SD Woe Natarandang, Bejawa, pada Minggu (30/8).
Sesi pendampingan psikososial di SD Woe Natarandang, Bejawa oleh D-DART Undip
Pada periode transisi pembelajaran yang berlangsung selama dua minggu hingga tiga bulan mendatang, Kemendikdasmen akan melanjutkan sejumlah langkah pemulihan. Di antaranya adalah perbaikan fasilitas sanitasi serta asesmen teknis terhadap bangunan yang rusak dengan melibatkan tim ahli di bidang konstruksi.
Data yang dikumpulkan oleh Tim Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya mengenai ruang kelas. Sebanyak 418 laboratorium, 1.928 toilet, serta 370 rumah dinas guru juga mengalami kerusakan.
Bencana gempa bumi yang melanda Flores turut menggerakkan berbagai pihak untuk memberikan bantuan. Salah satu bentuk dukungan datang dari Yayasan Plan Indonesia. Organisasi yang bergerak dalam pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan tersebut turut memberikan bantuan berupa terpal dan berbagai kebutuhan logistik bagi masyarakat terdampak.
Plan Indonesia juga menyalurkan sekitar 300 ribu liter air melalui layanan water trucking, terutama untuk masyarakat di wilayah Lambaleda Utara, Manggarai Timur. Selain bantuan kebutuhan dasar, organisasi tersebut turut melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para penyintas gempa.
Dukungan Plan Indonesia untuk masyarakat terdampak gempa
Dalam upaya mendukung pemulihan pendidikan, Plan Indonesia juga mulai membangun ruang belajar sementara di wilayah Nagekeo. Selanjutnya, pelatihan mengenai penyelenggaraan pendidikan dalam situasi darurat direncanakan segera dilaksanakan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bencana tersebut menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Menurutnya, semangat partisipasi bersama harus diwujudkan melalui tindakan konkret, bukan hanya menjadi sebuah slogan.
Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi melalui pengiriman mahasiswa untuk memberikan pendampingan psikososial, dukungan organisasi kemanusiaan dalam memenuhi kebutuhan dasar, serta keterlibatan masyarakat merupakan bentuk kekuatan bersama yang dapat mempercepat proses pemulihan pendidikan di Flores.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bergerak bersama dalam membantu memulihkan layanan pendidikan bagi masyarakat terdampak gempa di Flores.





