Pendidikan

Formula Kemendikdasmen Dekatkan Pembelajaran STEM dengan Kehidupan Anak

RuangVeritas.com – Katak yang berada di sawah, belalang yang bergerak di antara rerumputan, semut yang berjalan berkelompok, hingga kupu-kupu yang beterbangan bisa menjadi sarana sederhana bagi anak untuk mulai mengenal sains. Pembelajaran sains tidak selalu membutuhkan laboratorium dengan biaya besar maupun perangkat berteknologi canggih. Lingkungan sekitar dan rasa ingin tahu anak justru dapat menjadi sumber belajar yang beragam dan bermakna.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM). Pendekatan ini mengedepankan prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menilai perubahan pola pikir menjadi faktor penting dalam menghadirkan pembelajaran sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Menurutnya, sains dapat dipelajari siapa saja dengan memanfaatkan berbagai hal yang ada di sekitar, tanpa harus bergantung pada peralatan laboratorium yang mahal.

Ia menekankan bahwa anak-anak dapat menemukan berbagai konsep sains melalui aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran sains tidak hanya mudah dan terjangkau, tetapi juga dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan, penuh kesadaran, serta memiliki makna bagi anak.

Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa pendekatan tersebut perlu diperkenalkan sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal itu sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun sekaligus upaya mengenalkan sains kepada anak sejak tingkat taman kanak-kanak.

Menurutnya, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung mengajukan berbagai pertanyaan secara spontan. Karena itu, rasa ingin tahu tersebut perlu diberikan ruang untuk berkembang agar proses belajar sains berlangsung secara menyenangkan dan tidak terasa membebani.

Ia mencontohkan kegiatan sederhana dengan mengajak anak mengunjungi sawah. Di sana, mereka dapat mengamati rumput, tanaman padi, katak, belalang, semut, maupun berbagai objek lain yang ditemui secara langsung. Pengalaman tersebut membuat anak memahami bahwa sains merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak terpisah dari lingkungan tempat mereka tumbuh.

Abdul Mu’ti juga menegaskan pentingnya memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksperimen, menciptakan sesuatu, serta mengeksplorasi berbagai hal. Pengalaman langsung tersebut dinilai mampu menumbuhkan rasa ingin tahu anak, terutama jika dilakukan dalam suasana belajar yang menyenangkan.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, mengatakan bahwa STEM selama ini masih kerap dipandang sebagai bidang yang membutuhkan biaya besar dan sulit diterapkan dalam pembelajaran. Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Kemendikdasmen mendorong pelaksanaan Program STEM secara lebih menyeluruh.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada penerapan STEM dalam pembelajaran, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan yang menggunakan prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Melalui pendekatan ini, Kemendikdasmen mendorong STEM agar tidak sekadar dipahami sebagai mata pelajaran atau bidang tertentu, tetapi menjadi pola berpikir yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Murid didorong untuk mengamati masalah, mengajukan pertanyaan, menemukan solusi, melakukan percobaan, mengevaluasi hasil, hingga menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat dan makna.

Dalam proses tersebut, guru memiliki peran penting sebagai penggerak pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang tumbuh secara alami, menyenangkan, serta sesuai dengan lingkungan dan kehidupan anak.

Nunuk menjelaskan bahwa peluncuran program STEM Nasional bukan sekadar penanda dimulainya kegiatan. Program tersebut diharapkan menjadi katalis untuk memperkuat praktik pedagogis yang menghubungkan berbagai konsep lintas disiplin dengan situasi nyata. Selain itu, pembelajaran juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi.

Guru RA Miftahul Falah Dawe, Fitri Anggraeni, menyambut positif peluncuran STEM Nasional. Ia mengaku baru menyadari bahwa sejumlah aktivitas pembelajaran yang selama ini dilakukan ternyata sudah mencerminkan penerapan STEM.

Menurut Fitri, peluncuran program secara nasional membuat dirinya semakin yakin bahwa metode pembelajaran yang diterapkan selama ini telah berada di jalur yang tepat. Ia mengatakan, anak-anak cenderung lebih antusias ketika kegiatan belajar dikemas dalam bentuk permainan, seperti membuat bangun ruang dari kardus atau mempelajari numerasi melalui lagu.

Pengalaman serupa dirasakan Syafa’atun Ni’mah, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe. Ia menilai penerapan STEM membuat pengalaman belajar anak menjadi lebih beragam dan memberikan banyak kejutan dalam proses pembelajaran.

Syafa’atun mengaku kerap terkesan dengan respons dan umpan balik yang diberikan murid. Bahkan, tidak jarang ia justru mendapatkan pengetahuan baru dari anak-anak. Interaksi yang terbangun antara guru dan murid tersebut membuatnya terus belajar sekaligus terdorong untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai pendidik.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button