Ekonomi

Kemenperin dan LPEI Dorong Sentra Rendang Payakumbuh Perluas Pasar Ekspor

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) agar semakin kompetitif di pasar internasional. Salah satu langkah yang dilakukan ialah menggandeng Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam mendorong penguatan sentra IKM berbasis potensi daerah melalui program pembinaan terpadu.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperkuat kualitas produk, hingga membuka akses pasar ekspor bagi pelaku IKM nasional.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan pengembangan sentra IKM dilakukan melalui pendekatan One Village One Product (OVOP), yakni konsep penguatan produk unggulan daerah berbasis potensi dan kearifan lokal.

Menurut Agus, pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan daya saing produk lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memperkuat kemandirian daerah.

“Pengembangan produk unggulan daerah diharapkan mampu menghasilkan produk yang kompetitif, diterima pasar nasional maupun internasional, serta memberi dampak positif bagi ekonomi daerah,” ujar Agus di Jakarta, Senin (18/5).

Ia menjelaskan, program pembinaan OVOP telah dijalankan secara berkelanjutan sejak 2013 melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA). Hingga kini, penghargaan OVOP telah diselenggarakan sebanyak lima kali dan menjadi salah satu strategi pemerintah dalam membangun ekosistem IKM berbasis sentra.

Pada 2026, Kemenperin bersama LPEI menghadirkan kolaborasi melalui program OVOP Go Global dan Desa Devisa yang difokuskan pada pengembangan Sentra IKM Rendang di Kota Payakumbuh.

Agus menilai sentra rendang tersebut memiliki potensi besar untuk memasuki pasar ekspor karena didukung kesiapan sumber daya manusia, kualitas produk, serta kelembagaan usaha yang dinilai cukup kuat.

Selain itu, sentra tersebut juga memperoleh dukungan Dana Alokasi Khusus untuk revitalisasi sarana dan fasilitas produksi guna memperkuat posisi rendang sebagai produk unggulan daerah.

Program pendampingan diawali melalui kegiatan sosialisasi yang berlangsung pada 12 Mei 2026 dan melibatkan pelaku IKM anggota sentra, termasuk Rendang Gadih dan Rendang Riry, bersama pemerintah daerah setempat.

Menteri Perindustrian berharap program tersebut dapat menjadi contoh pengembangan sentra IKM nasional yang berorientasi ekspor melalui peningkatan kualitas usaha, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menyampaikan bahwa selain pembinaan manajemen usaha dan peningkatan kualitas produk, LPEI juga akan mendukung perluasan akses pasar internasional melalui Program Desa Devisa.

Menurutnya, Ditjen IKMA turut mendorong penerapan teknologi industri 4.0 guna meningkatkan kapasitas produksi, konsistensi mutu, serta higienitas produk agar memenuhi standar ekspor global.

“Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kesiapan IKM rendang untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional,” kata Reni.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen IKMA, Yedi Sabaryadi, mengungkapkan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 3174 Tahun 2024, terdapat 113 IKM OVOP dari berbagai sektor di Indonesia.

Ia menyebut Sumatera Barat menjadi provinsi dengan jumlah IKM OVOP terbanyak kedua setelah DI Yogyakarta, dengan total 22 IKM OVOP.

Yedi menambahkan, seluruh peserta program pendampingan akan melalui proses kurasi agar mampu memenuhi kebutuhan dan standar pasar global. Produk-produk terpilih nantinya juga akan dipromosikan kepada calon pembeli potensial dan mitra internasional oleh LPEI.

Pelaku usaha Rendang Riry, Haris Budiman, mengaku program OVOP memberi dampak besar terhadap perkembangan usahanya sejak pertama kali mengikuti pembinaan pada 2013. Saat ini, kapasitas produksi usahanya mencapai 200 kilogram per hari dengan dukungan 12 tenaga kerja.

Hal serupa disampaikan pemilik Rendang Gadih, Dedy Syandera Putera. Ia mengatakan program OVOP membantu peningkatan kualitas produk, desain kemasan, promosi, hingga perluasan jaringan usaha.

Bahkan, produk Rendang Gadih kini telah dipasarkan hingga ke Australia, Taiwan, dan Jerman.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button