Pemerintah Percepat Revitalisasi Sekolah, Targetkan Bangunan Rusak Berat Tuntas pada 2028
Tabanan, RuangVeritas.com – Pemerintah terus mempercepat upaya peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan melalui program revitalisasi sekolah yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan seluruh peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman, layak, dan mendukung proses pembelajaran.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq saat meresmikan revitalisasi sejumlah satuan pendidikan di Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (4/6). Dalam kesempatan itu, Fajar menyampaikan bahwa pemerintah tengah menjalankan salah satu program perbaikan sekolah terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Pada 2026, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk merevitalisasi sekitar 11.744 satuan pendidikan. Jumlah tersebut akan diperluas melalui tambahan sedikitnya 60.000 sekolah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan demikian, total sekitar 71.000 satuan pendidikan ditargetkan menerima program revitalisasi dalam satu tahun.
Menurut Fajar, langkah besar tersebut merupakan bagian dari target nasional untuk menghapus keberadaan sekolah dengan kategori rusak berat paling lambat pada 2028. Sasaran itu mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, termasuk madrasah dan sekolah kejuruan.
“Program ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh fasilitas belajar yang layak dan aman,” ujar Fajar.
Selain membenahi bangunan sekolah, pemerintah juga mendorong transformasi pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi. Setelah mendistribusikan 288.000 unit Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai sekolah pada 2025, pemerintah menargetkan penambahan hingga 800.000 unit pada tahun berikutnya guna memperluas akses pembelajaran berbasis digital.
Perhatian pemerintah terhadap kondisi sekolah juga terlihat dari kunjungan Fajar ke SD Negeri 3 Sembung Gede sebelum menghadiri acara peresmian. Sekolah tersebut mengalami kerusakan serius hingga sebagian bangunannya ambruk dan membahayakan keselamatan warga sekolah.
Akibat kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke ruang-ruang darurat, termasuk memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang kelas sementara. Setelah melihat langsung kondisi di lapangan, Fajar meminta agar sekolah tersebut segera dimasukkan ke dalam daftar prioritas revitalisasi tahun 2026.
“Tadi sebelum naik panggung, saya sudah menyampaikan kepada Bapak Wakil Bupati agar sekolah itu langsung menjadi prioritas,” katanya.
Dalam agenda yang sama, dilakukan penandatanganan simbolis revitalisasi untuk 22 satuan pendidikan penerima bantuan yang terdiri atas PAUD, SD, SMP, hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan mencatat sebanyak 62 sekolah di wilayahnya memperoleh bantuan perbaikan pada tahun ini.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menilai revitalisasi sekolah memiliki dampak yang jauh melampaui pembangunan fisik semata. Menurutnya, sekolah yang layak menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendorong tumbuhnya potensi peserta didik.
Ia menambahkan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat sektor pendidikan melalui peningkatan fasilitas, pengembangan kompetensi guru, penguatan literasi dan numerasi, serta pemanfaatan teknologi digital yang tetap berpijak pada nilai budaya lokal.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan langsung oleh sekolah-sekolah penerima bantuan. Kepala SMP Negeri 2 Kediri, Ni Luh Putu Septawati, mengisahkan bagaimana dua ruang kelas di sekolahnya mengalami kerusakan berat selama tiga tahun. Kerusakan yang bermula pada struktur baja bangunan terus memburuk hingga atap kelas tidak lagi aman digunakan.
Setelah menunggu cukup lama, sekolah tersebut akhirnya memperoleh bantuan revitalisasi. Kini kedua ruang kelas telah kembali digunakan dengan kondisi yang jauh lebih baik.
“Selama tiga tahun kami menunggu perbaikan. Kini ruang kelas sudah kembali layak digunakan dan memberikan semangat baru bagi guru maupun siswa,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari SD Negeri 3 Marga. Kepala sekolah, I Nyoman Adi Saputra, menyebut program revitalisasi menjadi harapan banyak sekolah yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana.
Baginya, ruang belajar yang nyaman tidak hanya memperbaiki kondisi fisik sekolah, tetapi juga membangun optimisme baru bagi peserta didik dan tenaga pendidik. Lingkungan belajar yang baik diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus menciptakan suasana pendidikan yang lebih kondusif.
Menutup rangkaian kegiatan, Fajar menegaskan bahwa pembangunan pendidikan harus berjalan secara menyeluruh. Selain memperbaiki infrastruktur, pemerintah juga terus memperkuat kompetensi guru agar mampu memanfaatkan teknologi dan menghadirkan proses pembelajaran yang semakin berkualitas.
Ia mengajak pemerintah daerah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung berbagai program prioritas pendidikan. Melalui percepatan revitalisasi sekolah, transformasi digital, dan peningkatan kualitas tenaga pendidik, pemerintah berharap setiap anak Indonesia memiliki kesempatan belajar yang setara di lingkungan yang aman, nyaman, dan bermutu.





