Kuasai Bahasa Asing, Murid SDN Cimahpar Tumbuhkan Mimpi Menembus Langit Jadi Astronot
Bogor, RuangVeritas.com – Keceriaan pagi di SDN Cimahpar 5, Kota Bogor, terasa berbeda saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyempatkan diri berdialog langsung dengan para murid usai kegiatan Pagi Ceria. Percakapan santai yang berlangsung akrab itu tidak hanya membahas hobi dan olahraga, tetapi juga menggambarkan besarnya cita-cita yang dimiliki anak-anak Indonesia.
Dari obrolan ringan tersebut, muncul pesan bahwa setiap anak berhak memiliki mimpi setinggi apa pun. Dengan kemauan belajar, rasa percaya diri, dan kerja keras, berbagai peluang terbuka untuk diraih, tanpa memandang latar belakang keluarga maupun kondisi tempat tinggal.
Salah satu momen menarik terjadi ketika Abdul Mu’ti mengajak seorang murid berbincang mengenai sepak bola. Saat ditanya tim mana yang lebih unggul antara Indonesia dan Mozambik, sang murid menjawab mantap, “Indonesia.” Jawaban sederhana itu mengundang senyum dan tawa dari para peserta yang hadir.
Percakapan kemudian beralih pada pemain sepak bola idola. Murid tersebut mengaku mengagumi Beckham Putra dan bercita-cita mengikuti jejak sang pemain. Alasannya karena ia ingin menjadi pesepak bola profesional dan suatu hari bisa memperkuat Persib Bandung.
Bagi Abdul Mu’ti, jawaban itu menunjukkan bahwa anak-anak memiliki harapan dan impian yang perlu terus didukung. Menurutnya, sekolah dan lingkungan sekitar memiliki peran penting untuk menjaga semangat tersebut agar terus berkembang.
Dialog semakin menarik ketika Menteri berbincang dengan Destian, seorang siswa SDN Cimahpar 5 yang berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Dengan penuh keyakinan, Destian mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan bekerja di Amerika Serikat sebagai astronot.
Ia mengaku tertarik mempelajari hal-hal baru dan ingin menjelajahi dunia ilmu pengetahuan yang lebih luas. Keinginan tersebut membuatnya bercita-cita menembus bidang yang selama ini identik dengan teknologi dan sains tingkat tinggi.
Menanggapi hal itu, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa setiap cita-cita besar membutuhkan proses panjang. Ia mendorong para siswa untuk menjadi pelajar yang tekun, berpikir positif, terus belajar, serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.
Yang membuat percakapan itu semakin berkesan adalah kemampuan Destian berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan cukup lancar. Kemampuan tersebut menarik perhatian Mendikdasmen, terlebih setelah mengetahui bahwa Destian belajar secara mandiri melalui media sosial dan tayangan YouTube sejak usia dini.
Menurut Abdul Mu’ti, kisah Destian menjadi contoh bahwa akses terhadap pengetahuan kini semakin terbuka berkat perkembangan teknologi. Anak-anak dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.
Ia menilai penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kemampuan penting di era global. Dengan kemampuan tersebut, generasi muda memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses ilmu pengetahuan, membangun jejaring internasional, serta meraih peluang pendidikan dan karier di berbagai negara.
Meski demikian, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa mempelajari bahasa asing tidak berarti mengesampingkan identitas kebangsaan. Justru sebaliknya, kemampuan tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk tampil percaya diri di tingkat global sambil tetap menjunjung nilai dan budaya bangsa.
Ia pun menekankan bahwa kesempatan untuk meraih mimpi terbuka bagi seluruh anak Indonesia, baik yang tinggal di kota besar maupun daerah pelosok. Dengan semangat belajar dan keberanian untuk terus berkembang, cita-cita yang tampak jauh sekalipun dapat diwujudkan.





