Surat dari Nias Utara, Cerita Haru Anak 3T tentang Sekolah Baru
Nias Utara, RuangVeritas.com – Di sebuah ruang kelas sederhana di SD Negeri 077279 Siofabanua, Kabupaten Nias Utara, suara seorang murid kecil berhasil mencuri perhatian seluruh hadirin. Bukan karena pidato panjang atau prestasi akademik, melainkan karena selembar surat tulis tangan yang lahir dari rasa syukur dan harapan.
Anak itu bernama Nasya Losefa Zega. Murid kelas III yang baru berusia sembilan tahun tersebut berdiri di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat kunjungan kerja di Nias Utara, Kamis (19/6). Dengan penuh percaya diri, ia menyerahkan surat berjudul “Surat Cinta untuk Pak Presiden” yang ditulisnya sendiri.
Surat sederhana itu menjadi gambaran bagaimana berbagai program pemerintah mulai dirasakan hingga ke pelosok negeri. Di wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), seorang anak memilih menyampaikan rasa terima kasihnya melalui tulisan tangan.
“Ini kamu tulis sendiri ya?” tanya Abdul Mu’ti.
“Ya saya tulis sendiri, Pak,” jawab Nasya mantap.
Jawaban singkat tersebut langsung disambut senyum Menteri. Abdul Mu’ti mengapresiasi keberanian Nasya yang mampu menuangkan perasaan dan pikirannya dalam sebuah surat.
“Bagus sekali. Nanti surat ini akan saya sampaikan langsung kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Mendikdasmen.
Bagi Nasya, perubahan yang terjadi di sekolahnya bukan sesuatu yang biasa. Ia dan teman-temannya kini belajar di lingkungan yang lebih nyaman setelah sekolah mereka direvitalisasi. Kehadiran Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) juga menghadirkan pengalaman belajar yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.
“Terima kasih, Bapak Presiden. Sekolah kami sekarang sudah direnovasi dan kami belajar menggunakan Papan Interaktif Digital. Saya senang sekali bisa belajar bersama teman-teman,” tulis Nasya.
Bagi sebagian anak di kota besar, fasilitas tersebut mungkin sudah menjadi hal yang umum. Namun bagi murid-murid di Nias Utara, kehadiran ruang belajar yang lebih baik menjadi simbol bahwa mereka juga mendapat perhatian yang sama.
Di tengah suratnya, Nasya bahkan menyampaikan permohonan maaf sebelum menyampaikan harapan-harapannya.
“Mohon maaf, ini bukan bermaksud merepotkan Bapak,” ucapnya merendah.
Kebahagiaan Nasya juga bertambah dengan hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya. Setiap hari, ia dan teman-temannya menanti mobil pengantar makanan yang membawa menu bergizi untuk dinikmati bersama.
Program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi murid, tetapi juga memberi manfaat lain bagi keluarga mereka. Uang jajan yang sebelumnya digunakan untuk membeli makan siang kini bisa ditabung untuk kebutuhan sekolah.
“Setiap hari kami menikmati makanan yang enak. Uang jajan yang biasanya saya gunakan untuk membeli makan siang sekarang bisa saya tabung untuk membeli perlengkapan sekolah,” ungkapnya.
Di akhir suratnya, Nasya menuliskan janji sederhana. Ia ingin terus rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman-temannya, dan suatu hari menjadi guru untuk mengajar anak-anak di desanya.
Dari sebuah ruang kelas di Nias Utara, surat kecil karya Nasya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah bangunan yang berdiri atau teknologi yang tersedia. Keberhasilan itu juga tercermin dari tumbuhnya harapan, rasa percaya diri, dan mimpi-mimpi baru di hati anak-anak Indonesia yang tinggal jauh dari pusat kota.
Sebab ketika seorang anak di daerah 3T merasa didengar, diperhatikan, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita, di situlah makna kehadiran negara benar-benar dirasakan.





