Internasional

Cabo Verde (Tanjung Verde), Negara Kecil di Benua Afrika yang Tampil Mengejutkan di Piala Dunia 2026

RuangVeritas.com – Cabo Verde (Tanjung Verde) adalah negara kepulauan di Afrika Barat dengan jumlah penduduk diperkirakan sekitar 530.000 jiwa. Jumlah tersebut hanya sekitar 1% dari seluruh warga di Provinsi Jawa Barat. Negara yang terdiri dari 10 pulau ini memiliki ibu kota bernama Praia, yang menjadi kota terbesar di negara tersebut dan terletak di pesisir selatan Pulau Santiago.

Negara dengan pemandangan pantai yang indah ini sedang mencatat sejarah untuk pertama kalinya lolos dan menembus Babak 32 Besar Piala Dunia 2026. The Blue Sharks, itulah julukan untuk tim nasional sepak bolanya. Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia pertama untuk The Blue Sharks. Dengan skuad yang tidak dihuni oleh nama-nama besar di dalamnya—tidak seperti negara-negara Afrika lain yang diperkuat pemain bintang seperti Senegal dengan Sadio Mane, Mesir dengan Mo Salah, atau Maroko dengan Hakimi—The Blue Sharks tetap tampil percaya diri. Bak kisah dongeng, mereka berhasil lolos dari Grup H, bahkan finis di peringkat 2 grup di bawah Spanyol, serta membuat Uruguay harus pulang lebih cepat karena tidak lolos ke babak 32 besar.

Menahan Imbang Raksasa Eropa, La Furia Roja (Spanyol)

Pada pertemuan pertama, The Blue Sharks asuhan Pedro Leitão Brito (Bubista) mampu bermain bertahan dengan sangat baik. Bahkan, beberapa kali mereka melakukan serangan balik cepat yang mengancam gawang Unai Simon. Walaupun skuad ini dihuni oleh pemain-pemain yang berusia tidak muda lagi dengan rata-rata usia di atas 30 tahun, namun ternyata usia hanyalah angka bagi mereka. Terbukti, yang menjadi tembok besar bagi Spanyol di pertandingan ini adalah sang penjaga gawang yang berusia 40 tahun, Vozinha. Ia tampil tangguh di bawah mistar gawang dengan beberapa kali melakukan penyelamatan heroik. Sekali lagi, usia hanyalah angka bagi skuad The Blue Sharks.

Pada pertandingan ini, Vozinha mendapatkan penghargaan pemain terbaik dengan catatan skor penampilan 8.5. Total 8 tendangan ke arah gawangnya berhasil ia mentahkan. Pemain bintang muda milik Spanyol, Lamine Yamal, tidak mampu mencetak gol ke gawangnya. Pertandingan yang terlihat tidak seimbang apabila dilihat dari materi pemainnya—di mana timnas Spanyol dihiasi pemain bintang seperti Nico Williams, Lamine Yamal, Cucurella, hingga Gavi—tetap tidak mampu menembus kokohnya tembok yang dibangun oleh Vozinha dan kawan-kawan, meskipun Spanyol menguasai possession ball hingga 74%. Akhirnya, pertandingan ini berakhir dengan skor 0-0. Spanyol harus puas berbagi poin dengan tim yang baru pertama kali ikut merasakan kerasnya kompetisi Piala Dunia.

Tampil Lebih Percaya Diri Melawan La Celeste (Uruguay)

Berada satu grup dengan negara-negara yang sudah langganan ikut serta dalam Piala Dunia ternyata tidak membuat skuad Cabo Verde gentar. Justru mereka tampil sangat percaya diri ketika menjalani pertandingan kedua melawan La Celeste. Uruguay yang diperkuat pemain sekelas Valverde dan Araujo dibuat kewalahan melawan semangat juang para pemain Cabo Verde. Terbukti pada menit ke-21, gol indah dari jarak jauh melalui tendangan bebas Kevin Pina mampu menggetarkan gawang Uruguay yang dikawal Muslera, sehingga skor pun menjadi 1-0 untuk keunggulan Cabo Verde.

Namun sebelum babak pertama usai, Uruguay yang terus menyerang akhirnya mampu mencetak gol penyama kedudukan melalui kaki Maximiliano Araujo, memanfaatkan kemelut yang terjadi di depan gawang Vozinha. Bahkan pada tambahan waktu babak pertama, Uruguay mampu berbalik unggul melalui kaki A. Canobbio dengan sentuhan yang tidak terlalu keras tetapi membuat Vozinha tidak mampu bergerak.

Babak kedua baru berjalan 16 menit ketika pemain pengganti, H. Varela, mampu memanfaatkan blender (blunder) yang dilakukan oleh pemain bertahan Uruguay, M. Olivera, dan penjaga gawang Muslera untuk menjadi gol penyama skor menjadi 2-2 bagi kedua tim. Tampil terus menyerang, Uruguay sempat mencetak gol kembali melalui Araujo, namun dianulir oleh wasit karena berada dalam posisi offside. Uruguay harus puas berbagi poin dengan Cabo Verde, yang membuat persaingan di Grup H menjadi kian sengit.

Berbagi Poin dengan Negara Asia, Arab Saudi

Setelah berhasil menahan imbang raksasa dari benua Eropa dan Amerika, pada pertandingan terakhir di Grup H selanjutnya Cabo Verde bertemu dengan salah satu langganan Piala Dunia dari Asia, Arab Saudi. Vozinha dan kawan-kawan tampil dengan penguasaan bola 51% dan total akurasi operan mencapai 87%. Tampil dengan penuh percaya diri setelah mampu menahan imbang Spanyol dan Uruguay ternyata belum cukup untuk membuat Cabo Verde meraih kemenangan melawan Arab Saudi.

Tampil mendominasi sejak pertandingan dimulai, Cabo Verde mencatat 15 tembakan namun hanya 3 yang mengarah ke gawang. Serangan yang dimotori oleh K. Pina dan D. Duarte belum mampu menembus pertahanan Arab Saudi yang dikawal oleh bek A. Alamri dan kiper Mohammed Al-Owais yang tampil baik di barisan pertahanan. Cabo Verde kembali mendapatkan 1 poin dari hasil imbang. Walaupun hanya meraih 3 kali hasil imbang, itu sudah cukup untuk menempatkan negara debutan ini di posisi 2 Grup H dan lolos ke babak 32 besar. Hal ini terjadi karena Uruguay tumbang di pertandingan terakhirnya melawan Spanyol dengan skor 0-1. Kekalahan tersebut sekaligus membuat Uruguay harus angkat koper lebih dulu karena finis di peringkat 3 Grup H dengan poin 2 dan tidak masuk dalam kategori peringkat 3 terbaik.

Tak Gentar! Di Babak 32 Besar Melawan Juara Bertahan Argentina

Sebagai satu-satunya negara debutan Piala Dunia 2026 yang lolos sampai ke babak 32 besar, Cabo Verde harus kembali melawan raksasa dari Amerika Latin sekaligus peringkat satu dunia dengan materi pemain lengkap bersama sang kapten pemain terbaik dunia 8 kali, Lionel Messi. Argentina menjadi ujian terberat bagi Vozinha dkk.

Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Argentina tampil sangat agresif menyerang dipimpin oleh sang kapten Lionel Messi, Lautaro Martinez, dan Thiago Almada di lini serang. Argentina akhirnya mampu unggul terlebih dahulu melalui sontekan Lionel Messi memanfaatkan umpan lambung jarak jauh dari Lisandro Martinez yang melewati pemain bertahan Cabo Verde; Argentina unggul 1-0 atas The Blue Sharks. Pada babak pertama, Argentina mendapatkan beberapa kali peluang melalui tendangan L. Martinez dan Messi, namun Vozinha kembali tampil baik dengan menepis peluang tersebut, sehingga babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk keunggulan Argentina.

Pada babak kedua, Cabo Verde yang tampil dengan memanfaatkan serangan balik cepat dan pressing dari sepertiga lapangan akhirnya mampu mencetak gol pada menit ke-59 melalui kaki D. Duarte memanfaatkan kelengahan pertahanan Argentina, skor pun menjadi 1-1. Kedua tim tampil dengan sangat baik, terutama skuad Cabo Verde. Mereka tampil sangat lepas menghadapi juara dunia, tidak gentar sedikit pun, bahkan tidak terlihat seperti negara yang baru pertama kali mengikuti Piala Dunia. Argentina yang terus mencari gol kemenangan memiliki peluang emas dari kaki Messi, namun lagi-lagi penampilan Vozinha sangat luar biasa dalam mementahkan peluang Messi yang sudah berhadapan 1 on 1. Argentina juga mendapatkan peluang dari tendangan bebas Messi dengan kaki kirinya yang diarahkan ke pojok kiri atas gawang Cabo Verde, namun sekali lagi Vozinha terbang menepis tendangan bebas tersebut dan menjadi tembok kokoh bagi Messi. Babak kedua harus berakhir dengan skor imbang 1-1 dan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu 2 x 15 menit.

Pada menit ke-111, akhirnya gol kemenangan tercipta untuk Argentina melalui tendangan sudut akurat dari Messi yang ditanduk oleh Romero. Bola berubah arah setelah menyentuh pemain bertahan Cabo Verde sehingga Vozinha tidak mampu menepisnya, skor menjadi 2-1 (total agregat tertulis 3-2) untuk Argentina. Setelah tertinggal, Cabo Verde tampil terus menekan Argentina. Para pemain tampil seperti pejuang yang tidak terlihat lelah sama sekali walaupun pertandingan sudah berjalan hampir 120 menit. E. Martinez tampil sangat baik menepis peluang terakhir yang dimiliki oleh Cabo Verde. Peluit panjang pun dibunyikan wasit dan Argentina melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi tim dari Afrika lainnya, Mesir, yang berhasil mengalahkan Australia melalui adu penalti.

Perjalanan Cabo Verde memang terhenti di babak 32 besar setelah kalah dari Argentina, tapi namanya akan tercatat dalam sejarah selamanya sebagai debutan terbaik di Piala Dunia 2026. Cabo Verde juga sudah berhasil merebut hati fans sepak bola dunia dengan bermain sangat baik di pertandingan terakhirnya melawan Argentina sang juara bertahan. Sempat diprediksi akan menjadi lumbung gol bagi Messi dkk, tapi Vozinha membuktikan bahwa timnya tidak mudah untuk dikalahkan. Bahkan Messi memuji secara langsung kiper berusia 40 tahun tersebut seusai pertandingan, “Kamu hebat, rakyatmu harus bangga padamu.” Perkataan Messi tersebut diceritakan sendiri oleh Vozinha ketika diwawancarai oleh wartawan.

Para pemain Cabo Verde sudah membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya tentang skil (skill) dan strategi, tapi juga tentang mental yang kuat. Menghadapi negara dengan tradisi sepak bola besar seperti Spanyol, Uruguay, dan Argentina tidak membuat mental mereka ciut. Sebaliknya, mereka tampil sebagai lawan yang seimbang bagi negara-negara tersebut. Semoga di tahun 2030, Indonesia bisa menjadi the next Cabo Verde yang mampu mengejutkan panggung sepak bola dunia. Amin.

Penulis : Faham

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button