Wamen Stella: Sinergi Kampus dan Industri Energi Kunci Pengembangan Ekosistem Hidrogen Nasional
Jakarta, RuangVeritas.com – Pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia membutuhkan kerja sama yang erat antara perguruan tinggi, dunia riset, pengembangan teknologi, dan sektor energi. Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai menjadi prasyarat agar inovasi di bidang hidrogen dapat berkembang dan memberi kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, saat menjadi pembicara dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (22/7).
Menurut Stella, perguruan tinggi memegang peranan sentral dalam membangun fondasi sains dan teknologi, termasuk dalam pengembangan energi berbasis hidrogen. Karena itu, aktivitas penelitian di kampus perlu diarahkan agar mampu menjawab tantangan pembangunan sekaligus menghasilkan inovasi yang bernilai ekonomi.
“Perguruan tinggi menjadi kunci utama bagaimana kita bisa mengembangkan sains dan teknologi termasuk energi terbarukan dari hidrogen,” ujar Stella.
Ia menekankan bahwa hasil riset tidak seharusnya berhenti sebagai publikasi ilmiah semata. Dengan dukungan ekosistem penelitian yang kuat, berbagai temuan ilmiah dapat berkembang menjadi teknologi yang memiliki manfaat luas bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Atas dasar itu, perguruan tinggi perlu ditempatkan sebagai motor utama lahirnya inovasi strategis Indonesia.
Stella juga menyinggung penemuan natural hydrogen di Prancis sebagai contoh bahwa terobosan besar di bidang energi sering kali berawal dari penelitian ilmiah. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang serupa karena didukung karakteristik geologi yang menjanjikan.
Keberadaan potensi panas bumi yang termasuk terbesar di dunia, serta persebaran batuan ultrabasa di sejumlah wilayah, menjadi indikasi bahwa Indonesia berpeluang memiliki cadangan natural hydrogen atau hidrogen putih dalam jumlah yang signifikan.
Meski demikian, potensi tersebut masih memerlukan pembuktian melalui riset yang lebih mendalam dan terintegrasi. Stella menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mengembangkan teknologi ekstraksi hidrogen yang efisien sehingga sumber energi tersebut dapat dimanfaatkan secara luas dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa daya saing Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Nilai strategis justru akan tercipta ketika Indonesia mampu menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang diakui secara internasional. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi negara yang memiliki sumber daya, tetapi juga mampu berperan sebagai pengembang teknologi hidrogen bagi pasar global.
Sebagai penutup, Stella menegaskan bahwa kemajuan teknologi hidrogen hanya dapat dicapai melalui ekosistem riset yang sehat, didukung pendanaan yang berkelanjutan, regulasi yang adaptif, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia industri.
“Bukan saja kita punya sumber daya alam, tapi kita juga memiliki kepakaran, namun memang ekosistem, funding yang tepat, regulasi yang tepat agar mampu melahirkan penemuan-penemuan dalam teknologi hidrogen,” tutup Stella.





