Wamendikdasmen Atip Tekankan Pentingnya Pendidikan yang Memadukan Spiritualitas, Budaya, dan Kepedulian terhadap Lingkungan
RuangVeritas.com – Penguatan pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah berbagai tantangan global, sistem pendidikan juga perlu menanamkan nilai-nilai spiritual, melestarikan budaya lokal, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan sebagai bekal bagi generasi masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat menjadi pembicara dalam International Conference on Islam in the Malay World (ICON IMAD XV) bertajuk Malay-Islamic Eco-Theology and Cultural Resilience in the Multipolar Era: Educational Implications yang berlangsung di Bandung, Senin (27/7).
Dalam paparannya, Atip menjelaskan bahwa dunia saat ini dihadapkan pada tiga persoalan besar, yaitu krisis lingkungan akibat perubahan iklim, melemahnya identitas budaya lokal, serta paradigma pendidikan yang dinilai masih terlalu berorientasi pada pendekatan sekuler dan materialistik. Menurutnya, ketiga tantangan tersebut perlu dijawab melalui sistem pendidikan yang mampu menyelaraskan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama dan kearifan lokal.
“Pendidikan harus meletakkan Allah sebagai pusat, manusia sebagai penjaga, dan alam sebagai amanah. Tujuan kita adalah menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan bertanggung jawab secara ekologis (ecologically responsible),” ujar Atip.
Ia menjelaskan bahwa visi tersebut diwujudkan melalui penguatan literasi ekologi, pembentukan kecerdasan spiritual, serta penguatan identitas budaya peserta didik. Berbagai strategi dapat diterapkan, mulai dari mengintegrasikan Fiqh al-Bi’ah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, memanfaatkan pantun, hikayat, dan peribahasa sebagai media pembelajaran, hingga menghubungkan pembelajaran sains dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Selain itu, pembelajaran berbasis proyek juga dinilai penting untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dalam menjaga lingkungan. Atip menambahkan bahwa sekolah perlu berkembang menjadi institusi yang ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas edukasi mengenai pelestarian alam.
Sejalan dengan penguatan tersebut, Kemendikdasmen juga terus mendorong peningkatan kualitas ekosistem pendidikan melalui program revitalisasi satuan pendidikan. Program itu diarahkan untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Atip menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan revitalisasi sekitar 80.000 satuan pendidikan hingga akhir tahun. Salah satu standar yang menjadi perhatian utama adalah tersedianya fasilitas sanitasi yang layak di setiap sekolah.
“Kami menargetkan revitalisasi 80.000 satuan pendidikan sampai akhir tahun ini. Salah satu syarat mutlaknya: wajib ada toilet yang layak. Toilet sekolah adalah cerminan peradaban,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak boleh semata-mata mengejar kemajuan teknologi. Menurutnya, pendidikan juga harus membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menjalankan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ekoteologi Islam Melayu menawarkan alternatif bagi dunia: pembangunan yang disertai spiritualitas, kemajuan yang disertai nilai-nilai,” katanya.
Pada forum yang sama, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Aan Hasanah, menyoroti pentingnya pendidikan sebagai sarana membangun kesadaran ekologis sejak dini. Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan harus tumbuh sebagai karakter, bukan sekadar bentuk kepatuhan terhadap aturan.
Menurut Aan, nilai-nilai tersebut dapat diperkuat melalui pemanfaatan kearifan lokal yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya masyarakat.
“Alam bisa memenuhi kebutuhan manusia (need), tapi alam tidak akan pernah bisa memenuhi keserakahan manusia (greed). Pendidikan harus menjadi kompas moral bagi perilaku manusia terhadap semesta,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Atip mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan. Upaya tersebut, menurutnya, perlu dilakukan melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pelestarian budaya lokal, serta pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pusat penguatan ketahanan ekologis.
“Ekoteologi Islam Melayu bukan tentang kembali ke masa lalu, tapi peta jalan menuju masa depan. Kita harus memberdayakan setiap sekolah dan masjid menjadi pusat pertahanan ekologi,” pungkas Atip.





