Pendidikan

Bangun Budaya Pendidikan dengan Jurnal Digital 7 KAIH

RuangVeritas.com – Transformasi pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, SMP 2 Kudus menghadirkan Jurnal Digital 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), sebuah aplikasi berbasis web yang dirancang untuk mendokumentasikan sekaligus memantau penerapan kebiasaan positif siswa secara lebih sistematis.

Melalui platform digital ini, proses pembinaan karakter tidak lagi bergantung pada jurnal cetak yang mudah hilang atau rusak. Seluruh aktivitas peserta didik terdokumentasi secara digital sehingga perkembangan mereka dapat dipantau secara lebih cepat, akurat, dan transparan oleh guru, orang tua, maupun pihak sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan SMP 2 Kudus tersebut. Menurutnya, pembiasaan perilaku positif merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang sukses di masa depan.

Dalam kunjungannya ke Kudus, Jawa Tengah, Jumat (31/7), Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa kesuksesan seseorang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dibangun sejak dini.

“Kebiasaan orang menentukan kesuksesannya. Biasakan bangun pagi lalu beribadah dan berolahraga. Biasakan hidup sehat karena sehatmu adalah hidupmu,” ujarnya.

Kepala SMP 2 Kudus, In Setyorini, menjelaskan bahwa pengembangan Jurnal Digital 7 KAIH merupakan bagian dari upaya sekolah menghadirkan layanan pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus mendukung implementasi Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Menurutnya, aplikasi tersebut tidak sekadar menjadi media pencatatan aktivitas harian, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi perkembangan karakter anak.

“Jurnal Digital 7 KAIH bukan hanya alat pencatatan, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara murid, guru, dan orang tua. Data yang tersaji membantu kami memahami perkembangan karakter peserta didik secara utuh sehingga langkah pembinaan dapat dilakukan lebih tepat,” jelasnya.

Pengembang aplikasi sekaligus Guru IPA SMP 2 Kudus, M. Nur Faizin, menerangkan bahwa sistem yang terintegrasi memungkinkan guru memonitor kebiasaan sehari-hari siswa, melakukan deteksi dini terhadap potensi permasalahan, hingga memberikan apresiasi atas perilaku positif yang ditunjukkan peserta didik.

Selain itu, aplikasi juga memberikan ruang bagi orang tua untuk berpartisipasi secara aktif. Mereka dapat memverifikasi laporan yang diisi anak serta memberikan catatan apabila terdapat perbedaan antara aktivitas yang tercatat dengan kondisi sebenarnya di rumah.

“Misalkan anak menuliskan bangun jam 05.00, orang tua bisa ikut memvalidasi. Orang tua bisa login, istilahnya memberi paraf kalau dalam laporan manual pada umumnya. Orang tua bisa memberikan komentar di aplikasi jika kenyataan pelaksanaannya di rumah berbeda dengan laporan yang diisikan anak,” terang Faizin.

Ia menambahkan, sosialisasi penggunaan aplikasi kepada para orang tua akan terus diperluas mulai Agustus mendatang. Harapannya, Jurnal Digital 7 KAIH mampu menjadi sarana pembentukan generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berakhlak baik, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Faizin menilai bahwa karakter memegang peran yang jauh lebih besar dibandingkan pencapaian akademik dalam menentukan keberhasilan seseorang.

“Capaian akademik itu tidak menentukan kesuksesan seseorang karena 80 persennya ditentukan oleh karakter. Maka, dengan adanya jurnal ini, saya harap anak-anak bisa jujur mengisi jurnal hariannya dan terus semangat memperbaiki diri karakternya,” tuturnya.

Bagi para siswa, kehadiran aplikasi ini juga memberikan pengalaman baru dalam menjalankan kebiasaan positif. Indigo A, siswa kelas IX SMP 2 Kudus, mengaku lebih nyaman mengisi jurnal melalui telepon genggam dibandingkan menggunakan buku secara manual.

Menurutnya, proses pengisian sangat sederhana karena siswa hanya perlu memilih aktivitas yang telah dilakukan, mencatat waktu pelaksanaannya, kemudian menuliskan refleksi singkat.

“Pengisiannya simpel banget. Ada pilihan aktivitas 7KAIH, kita tinggal menjelaskan waktu kita mengerjakan aktivitas dan terakhir ada catatan refleksi,” ungkap Indigo.

Ia juga merasakan manfaat aplikasi tersebut sebagai media komunikasi antara dirinya dan orang tua. Karena orang tua dapat memantau laporan aktivitas setiap hari, Indigo terdorong untuk mengisi jurnal secara jujur sehingga perkembangan karakternya dapat dinilai secara objektif.

“Mengisi dengan jujur, membuat orang tua percaya dengan kita. Guru dan orang tua juga bisa menilai karakter kita apa adanya. Jurnal ini bisa menjadi refleksi supaya kita bisa tumbuh dengan karakter yang lebih baik,” katanya. Indigo diketahui mulai menggunakan Jurnal Digital 7 KAIH sejak 13 Juli 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Indigo bersama rekannya, Ahza, mendemonstrasikan penggunaan aplikasi melalui Interactive Flat Panel (IFP). Keduanya memperagakan tahapan masuk ke sistem, mengisi aktivitas harian, hingga menunjukkan bagaimana orang tua dapat memantau perkembangan anak melalui akun masing-masing.

Saat berdialog dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Ahza mengungkapkan bahwa aplikasi tersebut membantunya membangun disiplin, terutama kebiasaan bangun pukul 04.00 setiap pagi. Dukungan orang tua yang dapat memantau aktivitasnya melalui aplikasi menjadi motivasi tambahan untuk menjaga konsistensi.

“Orang tua saya juga mendukung karena bisa mengontrol keseharian saya,” pungkas Ahza.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button