Humas Muda Dorong Murid Jadi Kreator, Kemendikdasmen dan Komisi X DPR RI Terapkan Pembelajaran Mendalam
RuangVeritas.com – Kemampuan murid di era digital tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak materi pelajaran yang mereka kuasai. Mereka juga dituntut mampu membaca informasi secara kritis, membangun komunikasi, bekerja dalam tim, serta mengolah pengetahuan menjadi karya yang memberikan manfaat.
Semangat tersebut menjadi salah satu alasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI menghadirkan Lokakarya “Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama” di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS). Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menempatkan proses belajar agar berlangsung secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Digelar oleh Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, lokakarya tersebut mempertemukan 100 murid SMP, SMA, dan SMK bersama guru dari Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada cara membuat konten digital, tetapi juga diajak menjalani proses belajar yang lebih utuh.
Mereka berlatih mengamati persoalan di lingkungan sekitar, mencari dan mengumpulkan informasi, memeriksa kebenaran data, menyusun cerita, berdiskusi, bekerja bersama, hingga menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Rangkaian aktivitas tersebut menjadi pengalaman langsung bagaimana pengetahuan dapat diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga berangkat dari realitas tingginya penggunaan internet di kalangan pelajar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 68,88 persen pelajar memanfaatkan internet untuk mengakses media sosial dan 68,22 persen menggunakannya untuk mencari informasi. Sementara itu, pemanfaatan internet untuk kegiatan pembelajaran baru mencapai 33,40 persen.
Data tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk mengarahkan aktivitas digital murid ke kegiatan yang lebih produktif. Internet diharapkan tidak hanya menjadi tempat menerima dan menikmati informasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang untuk belajar, menghasilkan karya, dan menyebarluaskan berbagai praktik baik.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menilai kegiatan Humas Muda dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk membangun keterampilan komunikasi sejak dini. Kemampuan tersebut, menurutnya, akan menjadi modal penting bagi murid ketika berinteraksi dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat.
“Humas Muda menyiapkan generasi muda menjadi komunikator yang baik. Sebab, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga kemampuannya membangun komunikasi. Komunikasi bukan sekadar berbicara, melainkan bagaimana kita mampu memberikan manfaat, baik melalui ilmu, pengalaman, maupun jejaring yang kita miliki,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menekankan pentingnya mengubah posisi murid dalam ekosistem informasi. Murid diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang menerima informasi, tetapi juga mampu menghasilkan pengetahuan dan menyebarkan pengalaman baik yang dapat menginspirasi orang lain.
Ia menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam bukanlah kurikulum baru. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari dorongan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, untuk menghadirkan proses belajar yang lebih relevan dengan kehidupan murid.
“Jadi, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang terus didorong oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Artinya, belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan nyata sehingga menghasilkan karya yang bermanfaat dan memberi dampak. Inilah semangat yang diusung melalui lokakarya Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama,” ujar Yudhistira.
Pada kegiatan tersebut, Yudhistira turut mengenalkan fitur Ruang Murid yang tersedia dalam superaplikasi Rumah Pendidikan. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar digital secara gratis.
Selain itu, kanal @wajahpendidikan.id dan @ceritapendidikan.id diperkenalkan sebagai ruang berbagi bagi murid, guru, mahasiswa, orang tua, dan satuan pendidikan. Melalui kanal tersebut, berbagai praktik baik, inovasi, serta cerita inspiratif dari dunia pendidikan di berbagai daerah dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Dari perspektif perguruan tinggi, Rektor UMTAS, Neni Nuraeni, menilai kemampuan komunikasi juga memiliki kaitan erat dengan kualitas dan citra sebuah satuan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga bagaimana sekolah membangun hubungan yang terbuka dan dapat dipercaya dengan masyarakat.
“Yang terpenting adalah komunikasi yang terbuka dan terpercaya. Ini yang paling penting walaupun prestasi segudang apapun yang dimiliki oleh sebuah sekolah, tapi komunikasi dan kepercayaan itu adalah sangat yang luar biasa. Sehingga tentunya ini menjadi sebuah reputasi yang sangat diperlukan oleh sebuah sekolah,” ujarnya.
Melalui Gerakan Humas Muda, Kemendikdasmen dan Komisi X DPR RI mendorong agar proses belajar tidak berhenti pada penguasaan teori. Murid diajak mengalami langsung bagaimana mengolah informasi, membangun kolaborasi, menyampaikan gagasan, dan menghasilkan karya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas praktik Pembelajaran Mendalam sekaligus membentuk generasi yang mampu belajar sepanjang hayat, bijak menggunakan teknologi, serta memiliki keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi karya dan inspirasi bagi lingkungan maupun kemajuan pendidikan Indonesia.





