Pendidikan

Teknologi Buka Ruang Belajar Lebih Inklusif bagi Murid SLBN Purwosari

RuangVeritas.com – Pembelajaran di SLBN Purwosari Kudus kini tidak hanya berlangsung melalui buku dan penjelasan guru di depan kelas. Kehadiran Interactive Flat Panel (IFP) memberikan pengalaman baru bagi murid berkebutuhan khusus untuk belajar melalui gambar, video, hingga bahan bacaan digital.

Dalam salah satu kegiatan, murid terlihat antusias mengikuti video pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang ditampilkan melalui IFP. Pada kegiatan lainnya, mereka mengakses buku digital dari laman budi.kemendikdasmen.go.id, kemudian menjawab pertanyaan dan mencoba mengisahkan kembali isi bacaan yang telah dipelajari.

Bagi Riska Widyanasari, Guru Kelas Tuli SLBN Purwosari Kudus, penggunaan teknologi tersebut memberikan perubahan positif terhadap proses pembelajaran. Ia memanfaatkan IFP dalam berbagai mata pelajaran, salah satunya Pendidikan Pancasila.

Ketika membahas materi mengenai tata cara memberikan penghormatan kepada Bendera Merah Putih, misalnya, Riska menggunakan video berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai media untuk membantu murid memahami materi sekaligus mempraktikkannya. Media digital juga digunakan untuk melatih kemampuan menyimak dan memahami bacaan melalui buku digital.

“IFP sangat membantu proses pembelajaran, terutama di SLB karena pembelajaran menjadi lebih interaktif, bermakna, dan menyenangkan sesuai dengan tiga prinsip utama Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Guru dapat menyajikan gambar, video, dan berbagai aktivitas interaktif yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan murid,” ujar Riska di SLBN Purwosari Kudus, Jawa Tengah, Jumat (31/7).

Menurut Riska, penggunaan media digital membuat keterlibatan murid selama pembelajaran meningkat. Mereka menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan, memiliki perhatian yang lebih baik, serta lebih mudah menangkap materi yang disampaikan.

“Murid menjadi lebih aktif berpartisipasi, lebih semangat, lebih fokus, dan lebih mudah memahami materi dibandingkan saat menggunakan media pembelajaran konvensional,” katanya.

Meski demikian, penerapan teknologi di kelas juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak semua murid memiliki kemampuan yang sama dalam mengoperasikan perangkat digital. Karena itu, guru perlu menyesuaikan pendekatan agar teknologi benar-benar dapat digunakan oleh seluruh murid.

“Saya memberikan pendampingan secara bertahap, memanfaatkan tutor teman sebaya, serta memilih media yang sederhana dan mudah dioperasikan agar semua murid dapat mengikuti pembelajaran dengan baik,” tutur Riska.

Pengalaman di SLBN Purwosari menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk memperkuat layanan pendidikan yang lebih inklusif. Digitalisasi tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan perangkat baru di sekolah, tetapi juga membantu guru menghadirkan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh warga negara memperoleh hak atas pendidikan yang bermutu. Hal tersebut juga berlaku bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk mereka yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah terdampak bencana, maupun wilayah konflik.

“Pemerintah berkomitmen memberikan layanan pendidikan untuk semua. Salah satu pendekatannya adalah terus mengembangkan pendidikan inklusif agar anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama teman-temannya, tumbuh rasa percaya diri, dan mengembangkan bakat serta potensinya,” ujar Abdul Mu’ti.

Penguatan layanan juga dilakukan melalui pengembangan satuan pendidikan khusus. Pemerintah, kata Abdul Mu’ti, akan terus meningkatkan kualitas layanan di Sekolah Luar Biasa agar lebih banyak anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Layanan pendidikan di SLB akan terus kami tingkatkan, termasuk penambahan satuan pendidikan, agar semakin banyak anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” tegasnya.

Pemanfaatan IFP dan berbagai sumber belajar digital di SLBN Purwosari menunjukkan bahwa transformasi teknologi dalam pendidikan dapat memberikan manfaat lebih luas ketika disertai pendekatan yang tepat.

Bagi murid berkebutuhan khusus, teknologi bukan sekadar alat bantu pembelajaran. Kehadirannya dapat membuka cara baru untuk memahami materi, berinteraksi, mengekspresikan diri, dan mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing.

Pada akhirnya, digitalisasi pendidikan diharapkan tidak menciptakan jarak baru, melainkan justru memperluas kesempatan belajar. Dengan dukungan teknologi dan layanan pendidikan khusus yang terus diperkuat, setiap anak memiliki peluang untuk mendapatkan pengalaman belajar yang setara, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhannya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button