Pendidikan

Kearifan Lokal Jadi Pintu Masuk Pembelajaran STEM yang Dekat dengan Kehidupan Murid

RuangVeritas.com – Pembelajaran sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM tidak harus berlangsung dengan peralatan canggih dan mahal. Berbagai persoalan yang ditemui murid dalam kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sumber belajar untuk mengenalkan konsep STEM secara lebih kontekstual.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Bimbingan Teknis Calon Fasilitator Nasional Pelatihan STEM. Program ini dirancang untuk memperluas penerapan STEM melalui prinsip 5M, yakni Murah, Mudah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen, Moch. Abduh, mengatakan pendekatan STEM harus dapat diterapkan oleh seluruh murid tanpa dibatasi kondisi geografis maupun ketersediaan fasilitas.

Prinsip Pendidikan Bermutu untuk Semua, menurutnya, mengharuskan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan kemampuan. Karena itu, lingkungan sekitar dan kekayaan budaya daerah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.

“Pendidikan bermutu untuk semua bermakna bahwa tidak ada satu pun murid yang tertinggal. Semua harus mendapatkan pendekatan yang sama. STEM yang kita gagas bisa dilakukan dengan basis kearifan lokal, seperti mempelajari mekanisme fermentasi tempe atau proses pembuatan Kapal Pinisi,” ujar Abduh di Tangerang, Banten, Selasa (11/8).

Pendekatan berbasis konteks kehidupan murid juga dinilai penting agar STEM tidak dipahami sebagai kumpulan mata pelajaran yang berdiri sendiri. Direktur Guru Dikdas, Rachmadi Widdiharto, menjelaskan bahwa pembelajaran STEM seharusnya mengajak murid mengamati persoalan, memahami penyebabnya, kemudian mencari solusi berdasarkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

“STEM bukan sekadar mengajarkan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika secara terpisah, melainkan membawa pembelajaran lebih dekat kepada persoalan nyata,” tuturnya.

Kegiatan bimtek tersebut diikuti 155 peserta yang berasal dari 34 provinsi. Peserta terdiri atas guru jenjang SD, SMP, SMA, SMK, serta fasilitator dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK), Arif Jamali, menambahkan bahwa pengembangan STEM perlu dibarengi dengan perluasan akses. Ia menilai kemampuan suatu bangsa dalam mengembangkan teknologi pembelajaran turut menentukan kesiapan generasi mudanya menghadapi perubahan zaman.

“Tidak ada satu pun bangsa yang maju apabila teknologi pembelajaran STEM-nya tidak maju. Kita ingin mengubah pandangan itu bahwa STEM bisa menjadi bagian dari kolaborasi lintas mata pelajaran,” tegas Arif.

Untuk membuat proses belajar lebih menarik, pelatihan tahun ini menggunakan berbagai tahapan, mulai dari belajar mandiri, pembelajaran daring terbimbing, hingga pertemuan tatap muka. Materi dikemas dalam konsep gamification melalui tema “Petualangan Garuda Cendekia”.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan lima formula yang dikembangkan untuk mengajak mereka mengeksplorasi fenomena dan rahasia alam semesta. Kemasan tersebut diharapkan membantu menggeser anggapan bahwa STEM merupakan pembelajaran yang rumit menjadi pendekatan yang lebih sederhana, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan.

Setelah menyelesaikan bimtek, para calon fasilitator nasional akan melanjutkan proses on the job learning. Mereka selanjutnya diharapkan mampu mendampingi dan melatih fasilitator daerah di wilayah masing-masing.

Kemendikdasmen juga menyiapkan peluncuran nasional Pendekatan Pembelajaran STEM 5M yang direncanakan berlangsung pada akhir Agustus 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penerapan STEM agar dapat diterapkan di berbagai satuan pendidikan.

Bagi guru, pendekatan tersebut memberikan perspektif baru dalam menghubungkan berbagai mata pelajaran. Putri Desriana, guru SMAN 3 Banda Aceh, Aceh, mengatakan salah satu hal yang menarik dari bimtek adalah pemahaman mengenai penerapan STEM secara lintas disiplin.

Selama ini, menurut Putri, pembelajaran biologi, fisika, dan kimia kerap dilakukan secara terpisah. Setelah mengikuti pelatihan dan mempelajari berbagai modul, ia melihat adanya peluang untuk mengintegrasikan pendekatan STEM dalam berbagai bentuk kegiatan pembelajaran.

“Yang saya pelajari dan menarik terkait STEM itu adalah bagaimana cara mengimplementasikan lintas disiplin ilmu. Karena selama ini yang kami pelajari dan terapkan di sekolah itu terpisah antara biologi, fisika, kimia, itu masing-masingnya sendiri. Dan setelah kami pelajari berbagai modulnya, ternyata kami paham STEM itu ternyata bisa di intrakurikuler, bisa di kokurikuler, dan juga ekstrakurikuler,” terangnya.

Pengalaman serupa dirasakan Mefi Boset, guru SMA 3 Kota Sorong. Ia melihat tantangan terbesar bagi guru adalah menerjemahkan konsep STEM menjadi pembelajaran yang benar-benar dekat dengan realitas murid.

Menurutnya, kondisi dan potensi daerah dapat menjadi titik awal untuk merancang pembelajaran. Dengan memanfaatkan kearifan lokal, materi yang dipelajari di kelas tidak berhenti pada teori, tetapi dapat dikaitkan dengan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

“Tantangan kita sebagai guru adalah bagaimana menghadirkan pembelajaran kelas yang teraktualisasi sekontekstual mungkin—menjawab tantangan dan memanfaatkan kearifan lokal daerah kita masing-masing,” ungkap Mefi.

Ia menilai penerapan STEM pada akhirnya bukan sekadar mengenalkan konsep atau teori kepada murid. Pendekatan tersebut dapat melatih mereka menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan dan merancang penyelesaian yang memberikan manfaat nyata.

“Berbicara STEM adalah berbicara tentang bagaimana kita mengatasi masalah nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Lewat STEM, anak-anak tidak lagi hanya berfokus pada hafalan konsep, tetapi mengaplikasikan ilmu untuk memberi dampak dan menyelesaikan masalah nyata,” jelas Mefi.

Dengan menjadikan lingkungan dan kearifan lokal sebagai sumber belajar, STEM diharapkan tidak lagi terasa jauh dari keseharian murid. Sebaliknya, pembelajaran dapat hadir dari hal-hal yang mereka lihat, rasakan, dan temukan setiap hari, sekaligus mendorong mereka menjadi pembelajar yang mampu berpikir kritis dan mencari solusi atas persoalan di sekitarnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button