Pendidikan

Belajar Gizi dari Kebun Sekolah, Cara NGTS Ubah Pengetahuan menjadi Kebiasaan

RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition) telah memasuki 10 tahun pelaksanaan program Nutrition Goes to School (NGTS). Selama satu dekade, program ini tidak hanya mendorong pendidikan gizi di dalam kelas, tetapi juga mengarahkan sekolah untuk menerapkannya melalui berbagai kegiatan nyata yang dapat menjadi kebiasaan sehari-hari.

Edukasi gizi dalam program NGTS diwujudkan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Kegiatan tersebut antara lain pengembangan kebun sekolah, penyediaan kantin sehat, pembiasaan perilaku gizi yang baik, serta berbagai bentuk edukasi mengenai kesehatan dan nutrisi. Dengan pendekatan berbasis pengalaman, peserta didik diharapkan tidak sekadar memahami konsep gizi, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kurun waktu 10 tahun, NGTS telah memberikan pelatihan mengenai gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru serta tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Selain itu, sebanyak 279 sekolah dan madrasah di Indonesia maupun Asia Tenggara telah memperoleh pendampingan teknis. Program tersebut juga berhasil melahirkan 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri yang tersebar di tujuh wilayah dampingan di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai persoalan gizi pada anak di Indonesia perlu diatasi dengan menjadikan sekolah sebagai salah satu agen perubahan. Menurutnya, tantangan gizi anak saat ini tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi serta persoalan kekurangan zat gizi mikro. Karena itu, sekolah memiliki posisi penting untuk membantu mengatasi berbagai persoalan tersebut.

Tatang menjelaskan bahwa sekolah dapat menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan kesadaran sekaligus membentuk kebiasaan makan dan hidup sehat pada anak. Melalui berbagai aktivitas yang dilakukan secara konsisten, peserta didik diharapkan mampu memperoleh asupan gizi yang seimbang, tidak berlebihan maupun kekurangan, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi mikro.

Ia juga menekankan bahwa penerapan berbagai praktik tersebut bertujuan agar anak semakin memahami pentingnya gizi dan mampu menerapkannya di luar lingkungan sekolah. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi berkembang menjadi perilaku yang diterapkan dalam keseharian.

Salah satu contoh penerapan program NGTS dapat ditemukan di SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Guru Biologi sekaligus anggota tim NGTS, Zainal Fanani, menjelaskan bahwa sekolahnya mengintegrasikan pendidikan gizi melalui sejumlah kegiatan, seperti kantin sehat, pembiasaan perilaku gizi yang baik, edukasi gizi, kebun sekolah, PHBS, hingga kegiatan kewirausahaan.

Melalui kebun sekolah, peserta didik memperoleh pengalaman langsung dalam mengenal tanaman sekaligus mempelajari proses pengolahan hasil panen. Sementara itu, kebiasaan hidup sehat diperkuat melalui kegiatan senam sehat yang rutin dilaksanakan setiap Jumat. Upaya tersebut turut didukung oleh keberadaan kantin sekolah yang berhasil meraih penghargaan sebagai juara dua kantin sehat nasional untuk regional barat.

Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Sri Endang Hidajati, menilai keberhasilan pendidikan gizi tidak cukup hanya dilihat dari pemahaman siswa selama berada di sekolah. Menurutnya, kebiasaan baik yang telah dibangun perlu diterapkan pula di rumah dan lingkungan lainnya.

Karena itu, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam memperluas dampak pendidikan gizi. Sri berharap siswa dapat menerapkan pengetahuan dan kebiasaan gizi sehat di mana pun mereka berada, dengan dukungan keluarga sebagai bagian dari proses edukasi tersebut.

Pendekatan berbasis praktik menjadi salah satu ciri penting perjalanan NGTS selama satu dekade. Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian pengetahuan mengenai gizi, tetapi juga mendorong sekolah untuk menghasilkan praktik baik yang dapat dilakukan secara rutin.

Menurut Rini, guru dan kepala sekolah memegang peranan penting sebagai penggerak program karena keberhasilan implementasi NGTS sangat bergantung pada keterlibatan warga sekolah. Berbagai praktik yang dikembangkan pun memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing sekolah.

Selain kebun sekolah, sejumlah sekolah bahkan mengembangkan peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi gizi dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan yang kreatif dan kontekstual.

Rini menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sekaligus investasi bagi masa depan. Anak yang sehat dan memperoleh gizi yang baik diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang kreatif serta memiliki kemampuan untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Kolaborasi Kemendikdasmen dan SEAMEO RECFON melalui NGTS semakin menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk budaya hidup sehat. Memasuki dekade kedua, program ini diharapkan mampu memperluas berbagai praktik baik di Indonesia sekaligus memperkuat pertukaran pengalaman dengan negara-negara Asia Tenggara. Dengan demikian, pendidikan gizi berbasis sekolah dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button