Suara Anak Didorong Menjadi Dasar Penguatan Sekolah Aman dan Nyaman
RuangVeritas.com – Mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk dengan memastikan suara anak benar-benar didengar. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Save the Children Indonesia kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sebagai salah satu mitra strategis dalam pemenuhan hak serta perlindungan anak.
Apresiasi itu disampaikan dalam Festival Pahlawan Anak yang digelar Save the Children Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8). Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog bagi anak untuk menyampaikan pandangan, impian, dan kebutuhan mereka secara langsung kepada para pemangku kepentingan.
Sebanyak 14 anak yang tergabung dalam program Nona Hebat turut menyampaikan sejumlah aspirasi. Mereka berbicara mengenai pentingnya mencegah perundungan, melindungi anak dari kekerasan dan pelecehan seksual, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan harapan anak-anak agar sekolah menjadi tempat yang aman dan menyenangkan memiliki keterkaitan erat dengan agenda Kemendikdasmen dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Menurutnya, upaya tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui gerakan Budaya ASRI, yang mencakup lingkungan yang Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
“Banyak ide yang menarik tentang bagaimana sekolah dapat menjadi tempat di mana mereka merasa aman, merasa nyaman untuk belajar. Dan ini yang juga sejalan dengan program yang sudah kami laksanakan, membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, pembangunan budaya sekolah tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan kebijakan, tetapi membutuhkan proses yang humanis, inklusif, dan melibatkan berbagai unsur. Kemitraan dengan organisasi seperti Save the Children menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk memperkuat upaya tersebut.
Aspirasi anak mengenai pencegahan perundungan, kata Abdul Mu’ti, juga perlu mendapatkan perhatian bersama. Sekolah harus mampu menjadi ruang yang melindungi anak sekaligus memberi kesempatan kepada mereka untuk berinteraksi dan berkembang tanpa rasa takut.
“Mudah-mudahan program seperti ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama, bahkan menjadi budaya yang kita laksanakan berdasarkan kesadaran dan juga visi bahwa masa depan negara ini ditentukan oleh anak-anak kita,” tuturnya.
Abdul Mu’ti berharap terciptanya sekolah yang aman tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari kekerasan fisik. Lebih dari itu, sekolah perlu menjadi lingkungan yang memungkinkan setiap anak belajar, bergaul, serta bertumbuh dalam suasana yang menghargai keberagaman.
Persoalan perlindungan anak juga mendapat perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi. Ia menegaskan bahwa penciptaan ruang aman bagi anak harus menjadi tanggung jawab bersama.
Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, sebanyak 50,78 persen anak berusia 13–17 tahun tercatat pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Sementara itu, 33,64 persen mengalami kekerasan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Menurut Arifah, angka tersebut tidak sekadar menggambarkan statistik. Di balik data tersebut terdapat pengalaman anak yang berkaitan dengan rasa takut, kecewa, cemas, hingga trauma.
“Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus bersama-sama,” tegasnya.
Karena itu, perlindungan anak perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh. Lingkungan yang aman harus dibangun sejak dari keluarga, sekolah, ruang publik, hingga lingkungan digital. Selain mencegah kekerasan, sistem perlindungan juga harus mampu memberikan respons dan dukungan ketika anak menghadapi persoalan.
Arifah juga melihat Festival Pahlawan Anak sebagai kesempatan penting untuk menempatkan anak sebagai pihak yang didengar, bukan sekadar penerima kebijakan. Menurutnya, berbagai cita-cita dan harapan yang disampaikan anak perlu dikawal agar dapat diwujudkan melalui dukungan nyata dari orang dewasa dan institusi terkait.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Dewi Soeharto, menilai ruang aman merupakan kondisi yang memungkinkan anak tampil sebagai dirinya sendiri tanpa khawatir akan mendapatkan penghakiman, penghinaan, maupun perlakuan yang menyakitkan.
Menurut Dewi, tanggung jawab untuk menciptakan ruang semacam itu berada di tangan orang dewasa. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara dan memastikan suara mereka benar-benar diperhatikan.
“Tentunya pertama kalinya adalah dengan mendengarkan anak-anak. Mendengar tidak hanya menggunakan telinga kita, tapi dengan segenap hati, isi pikiran kita,” ujar Dewi.
Ia berharap Festival Pahlawan Anak tidak berhenti sebagai forum penyampaian aspirasi, tetapi mampu mendorong semakin banyak pihak untuk menjadikan suara anak sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan dan kemudian menerjemahkannya ke dalam aksi nyata.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga perlindungan anak, keluarga, dan satuan pendidikan, sekolah diharapkan semakin mampu menjadi ruang yang aman dan nyaman. Di lingkungan seperti itulah anak dapat belajar tanpa rasa takut, menyampaikan pendapat, mengembangkan potensi, dan tumbuh menjadi generasi yang percaya diri serta mampu menentukan masa depannya.





