MODULAR Summit 2026 Perkuat Peran Pendidik dalam Transformasi Pembelajaran Digital
RuangVeritas.com – Program MODULAR (Membuat Konten Digital untuk Pembelajaran) SMA 2026 menjadi sarana bagi pendidik untuk mengasah kompetensi sekaligus menghasilkan bahan ajar digital yang inovatif, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Hal tersebut disampaikan dalam MODULAR Summit 2026 yang dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, di Kabupaten Bogor, Kamis (20/8).
MODULAR Summit 2026 yang diselenggarakan Direktorat Sekolah Menengah Atas merupakan puncak dari rangkaian program MODULAR SMA 2026. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengoptimalkan berbagai teknologi untuk pembelajaran, mulai dari media pembelajaran interaktif, gim edukasi, laboratorium maya, hingga kecerdasan artifisial atau AI.
Atip Latipulhayat menyampaikan bahwa karakter peserta didik SMA saat ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital. Generasi Z dan Generasi Alpha, yang mendominasi usia sekolah, terbiasa berinteraksi dengan teknologi sehingga membutuhkan pendekatan belajar yang lebih menarik secara visual, interaktif, dan mendorong kolaborasi.
Dalam kondisi tersebut, transformasi digital di bidang pendidikan menjadi langkah penting untuk menjaga mutu pembelajaran agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi yang berlangsung cepat membuat digitalisasi tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diikuti oleh dunia pendidikan.
Pemerintah pun terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran melalui penyediaan berbagai fasilitas pendukung, termasuk Papan Interaktif Digital (PID). Meski demikian, Atip mengingatkan bahwa kehadiran perangkat teknologi harus diiringi dengan perubahan pola pikir dalam mengajar.
Menurutnya, digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat atau mengubah bahan ajar konvensional menjadi format digital. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, sesuai konteks kehidupan peserta didik, serta menempatkan murid sebagai pusat proses pembelajaran.
Di tengah semakin berkembangnya teknologi dan AI, Atip menegaskan bahwa keberadaan pendidik tetap memiliki peran yang sangat penting. Teknologi dapat membantu proses belajar mengajar, tetapi tugas pendidik dalam mendidik, membimbing, membangun karakter, dan menjalin interaksi manusiawi dengan murid tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Atas pertimbangan tersebut, Atip memberikan apresiasi terhadap Program MODULAR yang tidak berhenti pada peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi. Program ini juga mendorong pendidik untuk menghasilkan berbagai produk digital, seperti Media Pembelajaran Interaktif (MPI), gim edukasi, dan laboratorium maya yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar.
Direktur Sekolah Menengah Atas, Yuli Haryanto, menyebutkan bahwa sebanyak 4.025 peserta mengikuti Program MODULAR SMA 2026 dan menjalani lima sesi pendampingan. Setelah melewati proses pendampingan serta seleksi, 692 peserta berhasil menghasilkan 2.052 konten pembelajaran digital.
Dari keseluruhan karya tersebut, sebanyak 874 konten berhasil masuk ke tahap penilaian. Selanjutnya, 200 peserta terpilih untuk mengikuti MODULAR Summit 2026. Pada tahap penyempurnaan akhir, para peserta menghasilkan 362 konten yang nantinya akan diunggah dan dimanfaatkan melalui Ruang Murid.
MODULAR Summit 2026 diikuti oleh 200 peserta, terdiri dari 100 peserta yang hadir secara langsung dan 100 peserta yang mengikuti kegiatan secara daring. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan fasilitator, kurator, validator, praktisi pendidikan, serta 11 mitra pembelajaran.
Wamendikdasmen mengingatkan agar karya yang dihasilkan selama program tidak berhenti hanya sebagai hasil kegiatan atau dokumentasi. Konten tersebut perlu dimanfaatkan secara luas sehingga dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak guru dan peserta didik.
Selain menghasilkan karya, peserta MODULAR diharapkan mampu menjadi agen penggerak di lingkungan masing-masing. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama program perlu dibagikan kepada rekan sejawat dan pendidik lainnya, baik di sekolah maupun di wilayah tempat mereka bertugas.
Seiring perkembangan AI yang semakin pesat, Atip juga menekankan pentingnya kemampuan literasi teknologi bagi pendidik dan murid. Keduanya perlu mampu memahami teknologi, menilai manfaat dan risikonya, serta menggunakannya secara tepat dan bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi juga dinilai dapat menghadirkan berbagai kesempatan baru di dunia kerja. Munculnya berbagai profesi baru menjadi salah satu contoh dampak perkembangan teknologi, termasuk peluang bagi guru untuk mengembangkan diri sebagai pembuat atau kreator konten pembelajaran digital.
Melalui MODULAR Summit 2026, Kemendikdasmen berupaya membangun ekosistem pendidikan digital yang tidak hanya bertumpu pada ketersediaan perangkat, tetapi juga pada mutu konten serta kompetensi pendidik dalam mengoptimalkan teknologi. Kolaborasi bersama pemerintah daerah, BBPMP/BPMP, satuan pendidikan, dan mitra pembelajaran diharapkan dapat memperluas penerapan konten digital di berbagai sekolah.
Para peserta juga diharapkan dapat menerapkan hasil pembelajaran dari MODULAR Summit sekaligus membagikannya kepada pendidik lainnya. Dengan cara tersebut, program MODULAR diharapkan tidak hanya menghasilkan karya digital, tetapi juga menciptakan proses peningkatan kapasitas guru yang berkelanjutan melalui budaya berbagi pengetahuan dan keterampilan.





