Pendidikan

Bedah Buku ‘Menulis Tanpa Menangis’, Membongkar Penyebab Anak Enggan Menulis

RuangVeritas.com – Kesulitan anak dalam belajar menulis tidak dapat begitu saja dianggap sebagai bentuk kemalasan. Anak yang menangis saat diminta menulis, menghasilkan tulisan yang sulit dibaca, atau mengalami kendala ketika menyampaikan ide melalui tulisan bisa jadi sedang menghadapi hambatan tertentu yang membutuhkan perhatian dan penanganan yang sesuai.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan bedah buku Menulis Tanpa Menangis yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8). Buku ini mengajak guru dan orang tua untuk mengenali berbagai penyebab kesulitan menulis sekaligus memahami langkah yang dapat dilakukan untuk membantu anak.

Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, menyebut buku tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Terlebih, pemerintah berencana menyediakan buku tulis bagi peserta didik, yang pada tahap awal akan diberikan kepada siswa kelas I dan II.

Menurut Supriyatno, ketersediaan buku tulis perlu diikuti dengan cara mengajar menulis yang tepat agar kegiatan tersebut tidak justru menjadi tekanan bagi anak. Pembelajaran menulis perlu dirancang sedemikian rupa sehingga anak dapat berlatih dengan nyaman dan tidak menganggap menulis sebagai beban.

Ia juga menjelaskan bahwa bedah buku merupakan kegiatan rutin Pusat Perbukuan yang dilaksanakan secara berkala, setidaknya satu kali setiap bulan. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai buku yang tersedia di platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI).

Melalui SIBI, masyarakat dapat mengakses berbagai buku teks dan nonteks pelajaran secara gratis. Supriyatno mengajak guru, orang tua, dan masyarakat untuk memanfaatkan koleksi tersebut karena buku-buku yang tersedia telah melalui proses penilaian berdasarkan standar buku bermutu dan sesuai untuk dibaca peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.

Kesulitan Menulis Bukan Sekadar Masalah Kemalasan

Penulis Menulis Tanpa Menangis, Ossy, yang merupakan dosen Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Makassar, bersama Dirham, guru Sekolah Khusus Negeri di Pandeglang, menjelaskan bahwa buku tersebut disusun berdasarkan persoalan yang mereka temukan dalam praktik pendidikan.

Cerita dalam buku diawali dengan pengalaman Ocis, seorang siswa kelas III sekolah dasar yang kerap menangis setiap kali mendapat tugas menulis. Kisah tersebut kemudian dikembangkan menjadi beberapa contoh kasus yang menggambarkan berbagai bentuk kesulitan menulis pada anak.

Dirham menjelaskan bahwa buku tersebut memuat enam tokoh dengan permasalahan berbeda. Ocis digambarkan selalu menangis ketika diminta menulis, Pinus memiliki kebiasaan menulis hingga keluar atau menembus halaman, Rimba menghadapi kesulitan dalam dikte dan mengeja, Bora mengalami masalah ketika menulis dengan ukuran huruf terlalu besar dan keluar garis, Bulan kesulitan menuangkan gagasan dalam karangan, sementara Bromo sering kehilangan fokus atau melamun ketika menulis.

Melalui keenam cerita tersebut, pembaca diajak memahami kemungkinan penyebab masalah sekaligus alternatif penanganannya pada berbagai tahapan kemampuan menulis.

Ossy menjelaskan bahwa hambatan menulis dapat berasal dari berbagai faktor internal. Di antaranya adalah gangguan motorik, kemampuan intelektual, perkembangan bahasa, fungsi eksekutif, disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, maupun kondisi kebutuhan khusus lainnya.

Selain faktor dari dalam diri anak, lingkungan juga dapat memengaruhi kemampuan menulis, termasuk pola pendampingan yang diberikan guru dan orang tua. Kesulitan dapat muncul sejak tahap persiapan menulis hingga kemampuan menulis lanjutan.

Bentuk hambatan yang muncul pun beragam, mulai dari kesulitan memegang pensil, membuat garis, mengenali dan menulis huruf serta kata, mengikuti kegiatan dikte, menyalin tulisan, sampai menuangkan gagasan dalam bentuk karangan.

Disusun Berdasarkan Pengalaman di Lapangan

Buku Menulis Tanpa Menangis mulai disusun Ossy dan Dirham bersama tim Pusat Perbukuan Kemendikdasmen pada 2023. Penyusunannya didasarkan pada hasil survei kebutuhan yang menemukan bahwa masih banyak guru menghadapi kendala ketika membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.

Berbagai kasus yang sering ditemukan di sekolah kemudian dikembangkan menjadi cerita fiksi agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Sebelum menyusun cerita, penulis melakukan pengamatan di sekolah dasar serta memberikan lembar kerja menulis kepada peserta didik dari beberapa jenjang.

Hasil pengamatan tersebut kemudian dikombinasikan dengan teori-teori yang relevan dan disajikan melalui cerita. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu guru maupun orang tua mengenali tanda-tanda kesulitan menulis, memahami faktor penyebabnya, dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.

Dirham menambahkan bahwa buku tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi guru. Orang tua dan masyarakat umum juga menjadi sasaran pembaca karena pendampingan anak dalam mengembangkan kemampuan menulis membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan.

Pembelajaran Mendalam Dorong Kemampuan Menulis

Kemampuan menulis juga memiliki peran penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam. Dalam pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya diarahkan untuk membaca dan menerima informasi, tetapi juga dituntut memahami, mengolah, serta menunjukkan kembali apa yang telah dipelajari.

Salah satu bentuknya adalah meminta murid menuliskan kembali informasi atau isi bacaan dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat melihat sejauh mana peserta didik memahami materi yang telah dipelajari.

Supriyatno menilai bahwa aktivitas menulis menjadi salah satu bagian penting dalam Pembelajaran Mendalam karena memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengolah informasi secara aktif dan mengungkapkan pemahamannya melalui tulisan.

Pesan utama yang ingin disampaikan melalui buku Menulis Tanpa Menangis adalah bahwa kegiatan menulis seharusnya tidak diposisikan sebagai hukuman. Menulis perlu dikenalkan sebagai kegiatan yang menyenangkan, sehingga anak dapat belajar dan mengembangkan kemampuannya dengan perasaan nyaman, percaya diri, serta tanpa tekanan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button