Kemendikdasmen Bersinergi dengan Pemda Terapkan Berbagai Metode Pembelajaran Pascagempa Flores
RuangVeritas.com – Gempa bumi yang terus mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026 memberikan dampak serius terhadap sektor pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak bencana tersebut. Kondisi ini mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memastikan proses belajar tetap berjalan melalui berbagai metode pembelajaran dengan tetap mengutamakan keselamatan murid dan guru selama masa darurat.
Saat ini, sekitar 116.324 murid terdampak mengikuti pembelajaran dalam kondisi darurat. Sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTT, kegiatan belajar dilakukan dari rumah maupun lokasi pengungsian. Kebijakan tersebut diterapkan karena gempa susulan masih terjadi dan sejumlah bangunan sekolah dinilai berisiko mengalami kerusakan lebih lanjut atau roboh.
Dari satuan pendidikan yang telah menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan pembelajaran, sebanyak 923 sekolah menerapkan kegiatan belajar dari rumah. Sementara itu, 171 satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran secara daring, 35 sekolah memanfaatkan kelas darurat, dan 30 sekolah masih menjalankan pembelajaran tatap muka.
Untuk menjamin keberlangsungan pendidikan, Kemendikdasmen telah menyediakan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat. Panduan tersebut memberikan keleluasaan kepada sekolah dalam menentukan metode dan materi pembelajaran sesuai kondisi di lapangan. Pembelajaran diarahkan pada materi-materi esensial, penguatan kemampuan literasi dan numerasi dasar, serta pemberian dukungan psikososial. Berbagai contoh penerapannya juga dapat diakses melalui laman Rumah Pendidikan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa keselamatan sekaligus pemenuhan hak pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama dalam situasi bencana.
“Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama. Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, meskipun dalam kondisi darurat. Kita ingin memastikan bahwa keterbatasan akibat bencana tidak menghentikan hak anak untuk belajar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” ujar Atip saat berada di NTT pada 21 Agustus 2026.
Kemendikdasmen juga menyampaikan duka cita atas bencana yang telah menimbulkan 72 korban meninggal dunia, termasuk tiga murid dan seorang guru. Selain korban jiwa, gempa menyebabkan kerusakan pada puluhan ribu rumah dan memaksa lebih dari 80 ribu warga mengungsi. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 ribu merupakan warga sekolah.
Data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) hingga 20 Agustus 2026 mencatat bahwa 1.268 dari total 1.378 satuan pendidikan terdampak telah melaporkan kondisi mereka. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 92 persen. Dampak bencana tersebar di tujuh kabupaten dan melibatkan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Dari total 8.664 ruang kelas yang telah didata, sebanyak 5.521 ruang atau sekitar 63,7 persen mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat hingga rusak total. Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruang kelas, tetapi juga laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, serta rumah dinas guru. Secara keseluruhan, sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Sejak 16 Agustus 2026, tim Kemendikdasmen telah berada di Labuan Bajo untuk melakukan penanganan langsung di berbagai wilayah terdampak. Bantuan awal yang dibawa mencakup 4.500 bingkisan anak, paket sembako, 800 school kit, dan 400 family kit. Bantuan tersebut telah disalurkan ke sejumlah wilayah di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Tim tambahan kemudian diterjunkan ke Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Untuk membantu sekolah kembali menjalankan kegiatan belajar, Kemendikdasmen juga secara bertahap menyediakan ruang kelas darurat bagi satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat. Sebanyak 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas sedang dalam proses distribusi dan ditargetkan mulai digunakan pada pekan berikutnya.
Selain bantuan fisik dan perlengkapan belajar, dukungan psikososial turut diberikan kepada murid dan guru. Program tersebut dilaksanakan bersama Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta sejumlah mitra perguruan tinggi.
Kemendikdasmen selanjutnya menyiapkan bantuan tambahan berupa 5.000 school kit, 1.500 family kit, 6.238 mebelair, 3.956 papan tulis, dan 123.522 buku. Pendampingan kepada pemerintah daerah juga terus dilakukan untuk memastikan penerapan kebijakan pembelajaran selama masa darurat berjalan optimal hingga kebijakan tersebut berakhir pada 28 Agustus 2026.
Pemantauan kondisi dan kebutuhan pendidikan dilakukan secara berkala melalui formulir daring. Data tersebut juga ditampilkan secara terbuka melalui portal data BNPB sehingga perkembangan kondisi satuan pendidikan dapat dipantau sekaligus menjadi dasar dalam menentukan bentuk dukungan yang diperlukan.
Kemendikdasmen mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kerja sama dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak. Kolaborasi tersebut diperlukan, terutama dalam mempercepat distribusi bantuan serta memberikan pendampingan kepada guru dan murid agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berlangsung selama masa darurat.





