Ketika Musik Berhenti Melahirkan Dewa
Mengapa Gen Z Kembali Menyembah Lagu-Lagu Lama, dan Mengapa Musik Hari Ini Semakin Sulit Menjadi Abadi
Oleh : RTH
RuangVeritas – Jakarta, Ada sebuah pemandangan yang seharusnya terasa ganjil.
Seorang anak berusia dua puluh tahun masuk ke mobil. Ponselnya terhubung ke Bluetooth. Spotify terbuka. Ia memiliki akses kepada hampir seluruh sejarah musik manusia.
Ia bisa mendengarkan lagu yang dirilis tanpa bergelut dengan waktu, lagu yang dirilis tadi pagi.
Ia bisa menemukan musisi baru dari Seoul, London, Jakarta, Lagos, Tokyo atau kamar tidur seseorang di kota kecil yang bahkan belum pernah ia dengar namanya.
Tetapi kemudian terdengar sebuah intro.
Dewa 19.
Lalu Sheila On 7.
Kemudian Queen.
Metallica.
Guns N’ Roses.
Chrisye.
Atau Led Zeppelin.
Beatles.
Lagu-lagu yang lahir ketika sebagian pendengarnya hari ini bahkan belum menjadi rencana di kepala orang tua mereka.
Aneh?
Tidak lagi.
Coba periksa playlist mobil orang Indonesia.
Kalau cukup lama mengobrak-abriknya, entah bagaimana mungkin kita akan akan bertemu lagu Dewa 19.
Periksa playlist penggemar rock.
Kemungkinan suatu saat akan muncul Metallica.
Masuk karaoke bersama generasi berbeda. Berikan mikrofon. Putar lagu yang tepat.
Tiba-tiba umur kehilangan arti.
Orang berusia 20, 35, 45 dan 55 tahun menyanyikan lagu yang sama.
Dan di tengah semua kecanggihan industri musik hari ini, muncul sebuah pertanyaan yang sedikit mengganggu:
Mengapa masa depan masih begitu tergila-gila kepada suara dari masa lalu?
Bukankah hari ini adalah zaman paling mudah dalam sejarah manusia untuk membuat musik?
Bukankah kita mempunyai studio digital?
Auto-Tune?
Sampling?
Instrumen virtual?
YouTube?
TikTok?
Spotify?
Distribusi global?
Bahkan sekarang ada AI yang sanggup menciptakan melodi, aransemen, suara dan lagu dalam hitungan menit.
Kalau teknologi semakin hebat dan jumlah musisi semakin banyak, seharusnya kita sedang hidup di zaman yang rutin menghadirkan ledakan mahakarya.
Tetapi mengapa begitu banyak lagu yang datang hari ini terasa seperti kembang api? Nyala sebentar, padam kemudian.
Terang.
Meledak.
Viral.
Kemudian…
gelap.
Sementara sebuah lagu berusia tiga puluh tahun masih duduk tenang di sudut ruangan, menunggu diputar kembali.
Mungkin masalahnya bukan karena zaman sekarang gagal menghasilkan musisi berbakat.
Mungkin masalahnya jauh lebih besar.
Zaman kita sedang menciptakan kondisi yang membuat dirinya sendiri untuk keberadaan sebuah lagu semakin sulit menjadi abadi.
Dulu, Sebuah Lagu Bisa Menguasai Dunia
Ada masa ketika dunia musik mempunyai pusat gravitasi musik.
Radio.
Televisi.
Majalah.
MTV.
Toko kaset.
Toko CD.
Label rekaman.
Panggung konser.
Jalur menuju telinga manusia sangat sedikit, tapi jelas arah tujuannya.
Itu mempunyai kelemahan besar. Gatekeeper industri mempunyai kekuasaan luar biasa. Banyak musisi bagus mungkin tidak pernah mendapat kesempatan.
Tetapi sistem tersebut mempunyai sebuah efek samping yang hampir tidak mungkin diciptakan kembali hari ini, kondisi dimana:
jutaan manusia mendengarkan musik yang sama pada waktu yang hampir bersamaan.
Ketika Michael Jackson datang, dunia tahu.
Ketika Freddie Mercury berdiri di panggung, bukan hanya penggemar Queen yang mengenalnya.
Ketika Nirvana meledak, orang yang bahkan membenci grunge tahu siapa Kurt Cobain.
Ketika Metallica memasuki era Black Album, musik mereka melampaui batas komunitas metal.
Ketika Guns N’ Roses terdengar, Slash bukan sekadar gitaris. Siluet rambut, topi dan Les Paul-nya berubah menjadi ikon kebudayaan.
Dalam negri juga begitu, mempunyai pengalaman serupa.
Ketika Dewa 19 merilis lagu, radio memutarnya.
Televisi menayangkannya.
Anak sekolah membawakannya di festival.
Band kafe memainkannya.
Kasetnya berada di mobil.
Lagu itu masuk ke kamar kos.
Ke acara perpisahan.
Ke kisah cinta.
Ke patah hati.
Ke perjalanan malam.
Sebuah lagu akhirnya tidak lagi menjadi milik band yang menciptakannya.
Ia menjadi milik satu generasi.
Itulah rahasia pertama sebuah lagu menjadi abadi.
Bukan hanya kualitas.
Tetapi pengalaman bersama.
Hari ini pengalaman itu telah pecah berkeping-keping.
Algoritma Memecahkan Dunia Menjadi Jutaan Kamar
Dahulu kita semua kurang lebih berada dalam satu aula besar.
Sekarang setiap orang mempunyai kamar musik sendiri.
Algoritma membangun kamar tersebut berdasarkan kebiasaan kita.
Seorang anak hidup dalam K-pop.
Orang lain hidup dalam indie folk.
Seseorang berada di death metal.
Yang lain dangdut koplo.
Yang lain jazz.
Yang lain electronic dance music.
Yang lain hip-hop.
Dan semuanya bisa hidup berdampingan tanpa pernah bertemu.
Ini adalah surga bagi keberagaman musik.
Tetapi ia juga menghancurkan sesuatu:
monokultur.
Kita masih mempunyai superstar.
Taylor Swift bisa menggerakkan industri.
Bruno Mars masih mampu menembus generasi.
Billie Eilish mempunyai identitas musikal yang kuat.
Kendrick Lamar dapat menciptakan peristiwa budaya.
K-pop mampu menggerakkan basis penggemar lintas benua.
Musik modern jelas tidak kehilangan orang-orang luar biasa.
Tetapi seorang artis hari ini dapat memiliki puluhan juta pendengar dan tetap tidak dikenal oleh puluhan juta manusia lainnya. Dulu gelombang suara terkonsentrasi ke satu titik, sekarang ke jutaan titik.
Dulu kita bisa tidak menyukai Michael Jackson.
Tetapi kita hampir tidak mungkin tidak tahu Michael Jackson.
Hari ini seorang musisi dapat menjadi raksasa dalam dunianya sendiri tanpa pernah memasuki dunia Anda.
Dan di sinilah masalah keabadian mulai muncul.
Untuk menjadi legenda lintas generasi, sebuah karya biasanya membutuhkan bukan hanya jutaan pendengar.
Ia membutuhkan memori kolektif.
Dan memori kolektif membutuhkan masyarakat yang pernah mendengar sesuatu bersama-sama.
Algoritma memberi kita kebebasan luar biasa.
Tetapi kebebasan itu mempunyai harga.
Kita tidak lagi mempunyai soundtrack dan theme song yang melintasi waktu kita bersama-sama.
Dunia Sekarang Tidak Kekurangan Musik. Dunia Kelebihan Musik dan Bakat.
Dahulu seorang musisi bertanya:
“Bagaimana caranya saya bisa masuk studio?”
Setelah berhasil:
“Bagaimana mendapatkan kontrak rekaman?”
Setelah itu:
“Bagaimana lagu saya bisa masuk radio?”
Susah luar biasa.
Hari ini seluruh pertanyaan tersebut bisa dilewati dari sebuah kamar tidur, bahkan pojok kecil sambil mengeluarkan isi perut.
Dari Laptop second spek minimalis.
Mikrofon.
Software.
Internet.
Upload.
Selesai.
Secara demokratis, ini sebuah keajaiban.
Tidak pernah dalam sejarah manusia pintu penciptaan musik terbuka selebar sekarang.
Tetapi semua pintu yang terbuka itu akhirnya menciptakan satu masalah baru.
Ada begitu banyak musik sehingga musik kehilangan kelangkaannya dan kemahalannya.
Puluhan ribu lagu baru dapat masuk ke platform digital setiap hari.
Tambahkan katalog puluhan tahun sebelumnya.
Tambahkan remix.
Cover.
Live version.
Bedroom production.
Lo-fi.
Mashup.
Musik AI.
Kita akhirnya memiliki jumlah musik yang jauh melampaui waktu yang dimiliki manusia untuk mendengarkannya.
Maka persoalan terbesar seorang musisi berubah.
Bukan lagi:
“Bisakah saya menerbitkan lagu?”
Tetapi:
“Bisakah saya membuat manusia berhenti selama tiga menit untuk mendengarkan lagu saya?”
Itulah komoditas paling mahal abad ini.
Bukan studio.
Bukan instrumen.
Bukan distribusi, tapi:
Perhatian.
Musik Sekarang Bertarung Melawan Jempol
Ini mungkin terdengar sepele.
Tetapi bayangkan pengaruhnya terhadap sebuah karya.
Dulu sebuah intro bisa berjalan lama.
Musisi bisa membangun suasana.
Gitar masuk perlahan.
Bass menyusul.
Drum baru menghantam kemudian.
Lagu progressive rock bahkan bisa membutuhkan beberapa menit sebelum sampai pada klimaks.
Hari ini, beberapa detik pertama sangat menentukan.
Pendengar tidak tertarik?
Skip.
Scroll.
Berikutnya.
Sebuah lagu modern bukan hanya bertarung melawan lagu lain.
Ia bertarung melawan Netflix.
Game.
Podcast.
YouTube.
WhatsApp.
Instagram.
TikTok.
Notifikasi.
Berita.
Dan satu musuh paling mengerikan:
jempol manusia.
Satu gerakan.
Selesai.
Karena itu musik modern mempunyai kecenderungan semakin cepat menuju hook.
Semakin cepat menuju chorus.
Semakin cepat memberikan sesuatu yang dapat dikenali.
Semakin cepat menciptakan bagian yang bisa dipotong menjadi 15 atau 30 detik.
Tidak berarti lagu seperti itu buruk.
Sama sekali tidak.
Tapi lagu itu menjadi penyesuaian dan tunduk pada keadaan, bukan lagi musik yang mengendalikan keadaan.
Kemudian di sisi lainnyai, sistem mulai memberikan hadiah kepada musik yang mampu menarik perhatian dengan cepat, bukan selalu kepada musik yang membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Padahal banyak karya besar justru mempunyai sifat sebaliknya.
Beberapa album tidak langsung dicintai.
Mereka membutuhkan pengulangan.
Pertama kali didengar: aneh.
Kedua kali: menarik.
Kelima kali: mulai masuk.
Kesepuluh kali:
“Astaga… ini gila.”
Musik seperti itu sedang berhadapan dengan ekosistem yang semakin tidak sabar.
Dulu Musik Berkata: “Duduklah dan Dengarkan.”
Sekarang sering kali musik harus berteriak:
“JANGAN SCROLL DULU!”
Perbedaan itu sangat besar.
Karena karya yang diciptakan untuk mendapatkan perhatian belum tentu sama dengan karya yang diciptakan untuk mendapatkan tempat dalam kehidupan seseorang.
Musik yang dibuat berharap iba dari pertolongan jempol orang lain. Berharap menjadi jingle short video Tiktok, Youtube, Instagram. Mengalami pengulangan sampai akhirnya diterima.
Viral adalah peristiwa.
Abadi adalah hubungan.
Dan dua hal itu tidak selalu berjalan bersama.
Sebuah lagu bisa mempunyai miliaran tayangan hari ini dan menjadi asing sepuluh tahun kemudian.
Sebaliknya, ada lagu yang ketika diluncurkan mungkin tidak meledakkan seluruh dunia…
tetapi tiga puluh tahun kemudian seseorang masih memasukkannya ke playlist.
Di situlah ukuran musik berubah.
Trending mengukur kecepatan.
Keabadian mengukur daya tahan.
AI Akan Membuat Musik Semakin Banyak. Bukan Otomatis Semakin Berarti.
Kemudian AI datang.
Sekarang kita memasuki tahap ketika teknologi tidak lagi sekadar membantu manusia merekam musik.
Teknologi mulai mampu menciptakan musik.
AI dapat menghasilkan chord.
Melodi.
Beat.
Arrangement.
Lirik.
Voice.
Bahkan seluruh lagu.
Dan kemampuannya akan terus meningkat.
Dalam beberapa tahun mendatang, jumlah musik yang tersedia kemungkinan akan menjadi semakin absurd.
Tetapi paradoksnya justru menjadi semakin brutal.
Semakin mudah musik dibuat, semakin sulit satu musik terasa penting.
Bayangkan sebuah pantai.
Ketika hanya terdapat seratus batu, Anda bisa melihat masing-masing bentuknya.
Sekarang bayangkan pantai tersebut mempunyai seratus miliar batu.
Satu berlian mungkin ada di antaranya.
Masalahnya bukan apakah berlian itu ada.
Masalahnya:
siapa yang akan menemukannya?
AI bisa membuat musik menjadi nyaris tanpa batas.
Tetapi manusia tetap hanya mempunyai 24 jam sehari.
Teknologi dapat menciptakan persediaan tak terbatas.
Perhatian manusia tetap terbatas.
Inilah ketimpangan yang mungkin menentukan industri musik masa depan.
Dan karena kelimpahan itu, menjadi abadi justru akan semakin sulit.
AI tidak bisa memberikan waktu tambahan, manusia tidak bisa mengunduh era.
Mengapa Musik Hari Ini Akan Semakin Sulit Menjadi Abadi?
Bukan karena musisinya tidak mampu.
Tetapi karena hampir seluruh struktur industri modern bekerja melawan proses penciptaan keabadian.
Sebuah lagu hari ini harus melewati beberapa lapis neraka sekaligus.
Ia harus ditemukan di tengah jutaan pilihan.
Ia harus menang melawan algoritma.
Ia harus bertahan dari skip.
Ia harus menembus komunitas yang terfragmentasi.
Ia harus memperoleh perhatian di tengah banjir konten.
Ia harus tetap relevan setelah tren berganti.
Dan setelah semua itu…
ia masih harus bertahan selama dua puluh, tiga puluh atau lima puluh tahun.
Sementara industri mendorong artis untuk:
rilis lagi.
Posting lagi.
Buat konten lagi.
Viral lagi.
Jangan menghilang.
Tetap muncul.
Tetap aktif.
Tetap relevan.
Hari ini sebuah single belum selesai bernapas…
single berikutnya sudah mengetuk pintu.
Bagaimana sebuah lagu akan menjadi kenangan jika kita bahkan belum sempat merindukannya?
Kita Kehilangan Jarak
Ini faktor yang jarang dibicarakan.
Dahulu ada jarak antara artis dan penggemar.
Michael Jackson tidak muncul di layar Anda sepuluh kali sehari untuk membuat vlog sarapan.
Freddie Mercury tidak mengunggah Instagram Story setiap tiga jam.
Slash tidak harus membuat video pendek agar algoritma tetap mengingat namanya.
Musisi hadir terutama melalui satu hal:
karya.
Kelangkaan menciptakan aura.
Menunggu album baru adalah sebuah peristiwa.
Membeli kaset adalah ritual.
Membuka sampul album adalah istimewa dan mendebarkan.
Membaca lirik.
Melihat foto personel.
Memutar side A.
Kemudian side B.
Mendengarkan lagi.
Bahkan poster-poster musisi yang dijual selalu ludes. Padahal di kamarnya sudah ada puluhan poster dari musisi yang sama.
Sekarang seluruh katalog musik dunia tersedia kapan saja.
Kita mendapatkan sesuatu yang luar biasa:
akses.
Tetapi kita kehilangan sesuatu yang dahulu diam-diam sangat berharga:
penantian.
Dan manusia mempunyai hubungan psikologis aneh dengan penantian.
Sesuatu yang sulit diperoleh sering terasa lebih berharga.
Ketika semuanya tersedia seketika, pengalaman musik juga menjadi lebih mudah tergantikan.
Tidak suka?
Next.
Kurang menarik?
Next.
Sudah bosan?
Next.
Abundance menciptakan kebebasan.
Tetapi abundance juga menciptakan disposability.
Musik menjadi mudah ditemukan.
Dan karena itu, sebagian musik juga menjadi mudah dibuang.
Era Para Dewa

Tidak heran jika masa 1970-an sampai awal 2000-an tampak seperti sebuah zaman ketika makhluk-makhluk aneh berjalan di muka bumi.
Led Zeppelin.
Pink Floyd.
Queen.
David Bowie.
Stevie Wonder.
Eagles.
Bee Gees.
ABBA.
The Doors.
Lalu masuk 1980-an.
Michael Jackson.
Prince.
Madonna.
U2.
Bon Jovi.
Metallica.
Guns N’ Roses.
Whitney Houston.
Deep Purple.
Kemudian 1990-an menghantam.
Nirvana.
Pearl Jam.
Soundgarden.
Alice in Chains.
Radiohead.
Oasis.
Red Hot Chili Peppers.
R.E.M.
Mariah Carey.
Céline Dion.
Metallica kembali berada di sana seperti monster yang menolak pergi.
Masuk 2000-an:
Coldplay.
Linkin Park.
Muse.
Eminem.
Beyoncé.
Alicia Keys.
Green Day.
Dan Indonesia mempunyai sejarah yang sama gilanya.
Koes Plus.
God Bless.
Chrisye.
Guruh Gipsy.
Fariz RM.
Iwan Fals.
Vina Panduwinata.
Nike Ardilla
Anggun C Sasmi
Krakatau.
Lalu:
Slank.
Dewa 19.
Gigi.
KLa Project.
Kahitna.
Potret.
Java Jive.
Jamrud.
Sheila On 7.
Padi.
Peterpan.
Glenn Fredly.
Ungu.
Nidji.
Samsons.
Letto.
Maliq & D’Essentials.
Yovie & Nuno.
Nama-nama itu bukan sekadar musisi.
Sebagian berubah menjadi penanda zaman.
Kita bisa mendengar sebuah lagu…
dan tiba-tiba tahu dekadenya.
Tahu gaya rambutnya.
Tahu model celananya.
Tahu suasana kotanya.
Tahu teknologi pada zamannya.
Bahkan tahu perasaan kita ketika pertama mendengarnya.
Mereka Memainkan Alat Musik Seperti Senjata

Ada pula sesuatu dari era lama yang membuat mitologinya semakin besar:
musicianship.
Pada banyak genre, kemampuan teknis menjadi bagian dari identitas.
Orang mengenal gitaris.
Drummer.
Bassist.
Keyboardist.
Solo gitar dinanti.
Tone gitar dikenali.
Fill drum dikenali.
Bass line dikenali.
Seorang pemain tidak sekadar mengiringi lagu.
Ia mempunyai suara.
Jimmy Page.
David Gilmour.
Mark Knopfler.
Brian May.
Eddie Van Halen.
Slash.
Steve Vai.
Joe Satriani.
John Petrucci.
James Hetfield.
Lars Ulrich.
John Bonham.
Neil Peart.
Flea.
Dan banyak lagi.
Indonesia pun mempunyai figur-figur instrumental yang dihormati bukan semata karena popularitas, tetapi karena kemampuan musikal mereka.
Pada era tertentu, anak sekolah tidak hanya bermimpi menjadi terkenal.
Mereka bermimpi:
“Gue mau bisa main gitar kayak dia.”
Maka lahirlah generasi yang latihan gitar berjam-jam hanya untuk menaklukkan satu solo.
Musik bukan sekadar konten.
Ia menjadi keahlian yang ingin dikuasai.
Tetapi Jangan Terlalu Cepat Memuja Masa Lalu
Ada jebakan besar di sini.
Namanya seleksi alam sejarah.
Kita merasa musik tahun 1980-an hebat semua karena musik buruk tahun 1980-an telah mati.
Kita lupa.
Sejarah telah melakukan pekerjaan kotornya.
Ribuan lagu medioker hilang.
Band gagal lenyap.
Album yang membosankan terkubur.
Yang tersisa sekarang hanyalah gladiator yang memenangkan pertarungan melawan waktu.
Jadi tanpa sadar kita membandingkan:
100 lagu terbaik dari empat puluh tahun sejarah
dengan
semua lagu yang keluar minggu ini.
Tentu masa lalu menang telak.
Musik hari ini belum menjalani proses seleksi tersebut.
Kita sedang melihat seluruh bayi yang lahir.
Kita belum tahu mana yang kelak menjadi raksasa.
Mungkin tahun 2055, anak muda mendengarkan musik 2020-an dan berkata:
“Gila. Zaman itu musiknya hebat-hebat banget.”
Mereka tidak akan mendengar jutaan lagu yang gagal bertahan.
Mereka hanya akan mendengar para pemenangnya.
Tetapi Itu Justru Membuat Pertanyannya Semakin Serius
Kalau dahulu satu lagu hebat harus mengalahkan ribuan lagu…
sekarang ia harus mengalahkan jutaan lagu, algoritma, video pendek, game, film, podcast dan seluruh internet.
Seleksi alam musik masa depan akan jauh lebih brutal.
Itulah sebabnya sangat mungkin musik hari ini tetap melahirkan karya abadi.
Tetapi jumlah lagu yang benar-benar berhasil menembus generasi mungkin akan terasa semakin langka dibanding jumlah musik yang diproduksi.
Bukan karena kualitas manusia turun.
Karena kebisingan dunia naik.
Orang Tua (yang) Tidak Bisa Move-On?
Sekarang kita masuk ke wilayah paling berbahaya.
Memori.
Ada alasan mengapa seseorang berusia 50 tahun mendadak terdiam ketika lagu tertentu muncul.
Bukan karena permainan gitar itu saja.
Otaknya sedang membuka pintu.
Lagu tersebut mungkin membawanya kembali ke usia 18 tahun.
Teman sekolah.
Cinta pertama.
Patah hati pertama.
Sepeda motor pertama.
Jalan yang sekarang sudah berubah.
Rumah yang sudah direnovasi.
Kamar yang sudah tidak ada.
Ayah yang mungkin sudah meninggal.
Ibu yang dahulu masih muda.
Teman-teman yang sekarang tersebar entah ke mana.
Dan dirinya sendiri…
versi yang sudah lama hilang.
Pada saat itu, ia tidak sedang mendengarkan lagu.
Ia sedang bertemu seseorang yang sudah puluhan tahun tidak ditemuinya: dirinya sendiri.
Musik mempunyai kemampuan mengerikan itu.
Satu nada.
Satu aroma masa lalu terbuka.
Satu intro.
Tiga puluh tahun runtuh.
Dan seseorang kembali berumur 17 tahun selama empat menit.
Bagaimana mungkin manusia “move on” dari kekuatan seperti itu?
Gila: GEN Z Merindukan Zaman Yang Tidak Pernah Mereka Jalani
Inilah fenomena luar biasa era streaming.
Anak yang lahir tahun 2005 bisa hafal Dewa 19.
Anak yang lahir setelah Freddie Mercury meninggal bisa tergila-gila pada Queen.
Remaja yang tidak pernah melihat dunia tanpa internet bisa memakai kaus Nirvana.
Seorang Gen Z bisa tahu lirik Metallica tanpa pernah memegang kaset.
Mereka mendapatkan musik itu dari orang tua.
Dari kakak.
Dari film.
Dari serial.
Dari game.
Dari TikTok.
Dari Spotify.
Dari YouTube.
Algoritma yang dahulu kita duga akan membunuh musik lama ternyata memberi musik lama senjata baru.
Kebangkitan tanpa batas.
Dahulu sebuah lagu bisa hilang ketika kasetnya berhenti diproduksi.
Sekarang sebuah lagu tahun 1977 duduk tepat di sebelah lagu tahun 2026.
Tidak ada rak tua.
Tidak ada toko khusus.
Tidak ada debu.
Satu klik.
Masa lalu hidup lagi.
Teknologi akhirnya melakukan sesuatu yang ironis:
Ia menghancurkan umur musik.
Bagi anak sekarang, lagu bagus tidak harus baru.
Lagu bagus hanya harus…
bagus.
Syarat Membuat Sebuah Lagu Abadi
Bukan hanya kompleksitas.
Lagu sederhana bisa abadi.
Bukan hanya kemampuan instrumental.
Lagu tiga chord bisa hidup selama lima puluh tahun.
Bukan hanya produksi mahal.
Bukan hanya suara luar biasa.
Bukan hanya viral.
Keabadian tampaknya lahir ketika banyak hal bertemu:
melodi yang tidak mudah mati,
emosi yang jujur,
identitas yang kuat,
performa yang manusiawi,
momen sejarah yang tepat,
pengulangan lintas generasi,
dan sesuatu yang paling sulit dijelaskan:
jiwa.
Itulah sebabnya teknologi dapat meniru struktur musik…
tetapi belum tentu mampu menciptakan hubungan manusia terhadap musik.
Anda bisa menyuruh AI membuat “lagu rock 1980-an”.
Mungkin secara teknis sempurna.
Drumnya benar.
Gitarnya benar.
Synth-nya benar.
Vokalnya benar.
Tetapi apakah seseorang akan mendengarnya tiga puluh tahun kemudian dan menangis?
Itulah ujian sebenarnya.
Viral Bukan Berarti Abadi
Ini mungkin kalimat yang paling penting dalam pembicaraan tentang musik modern.
Popularitas adalah angka.
Keabadian adalah ingatan.
Viral berarti jutaan orang melihatmu hari ini.
Abadi berarti seseorang masih mencarimu ketika zamanmu sudah lama berakhir.
Viral mengatakan:
“Semua orang sedang membicarakan lagu ini.”
Abadi mengatakan:
“Tidak ada lagi yang membicarakan kapan lagu ini dirilis. Mereka hanya terus memutarnya.”
Pada titik itulah musik keluar dari kalender.
Dewa 19 tidak lagi sekadar milik 1990-an.
Queen tidak lagi milik 1970-an.
Metallica tidak lagi milik 1980 atau 1990-an.
Sheila On 7 tidak lagi milik pergantian milenium.
Ketika sebuah karya benar-benar menang…
tahun kelahirannya menjadi catatan kaki.
Mungkin Itulah Masalah Musik Zaman Sekarang
Bukan bahwa tidak ada karya bagus.
Ada.
Banyak.
Bukan bahwa tidak ada musisi jenius.
Ada.
Mungkin ribuan yang belum kita temukan.
Masalahnya adalah sebuah karya sekarang lahir di dalam dunia yang hampir tidak memberinya waktu untuk menjadi tua.
Belum sempat menempel di hati…
datang lagu berikutnya.
Belum sempat menjadi kenangan…
tren berganti.
Belum sempat kita rindu…
algoritma menawarkan sesuatu yang baru.
Belum sempat album selesai dicerna…
artis didorong mengeluarkan konten berikutnya.
Semua bergerak.
Semua cepat.
Semua baru.
Semua sekarang.
Dan mungkin keabadian membutuhkan sesuatu yang justru sangat langka pada zaman ini:
waktu.
Lagu-lagu Tua Itu Tidak Pernah Pergi
Maka suatu malam seseorang masuk ke mobil.
Hujan mungkin turun.
Lampu kota bergerak di kaca depan.
Playlist berjalan acak.
Kemudian sebuah intro yang sudah berumur puluhan tahun muncul.
Tidak ada promosi.
Tidak ada challenge.
Tidak ada hashtag.
Tidak sedang trending.
Tidak membutuhkan algoritma untuk menjelaskan bahwa lagu itu pernah besar.
Tangan seseorang spontan menaikkan volume.
Ia tersenyum.
Penumpang di sebelahnya ikut bernyanyi.
Mungkin umur mereka berbeda dua puluh tahun.
Tidak masalah.
Lagu itu telah melewati sesuatu yang jauh lebih besar daripada chart.
Ia telah melewati zaman.
Kaset mati.
CD hampir pergi.
MTV kehilangan singgasananya.
Radio berubah.
Musik pindah ke MP3.
MP3 pindah ke streaming.
Streaming memasuki era algoritma.
AI mulai menciptakan lagu.
Dunia berubah berkali-kali.
Tetapi lagu itu…
masih di sana.
Dan mungkin itulah bentuk kesombongan terbesar sebuah karya seni.
Ia melihat teknologi datang.
Ia melihat industri berganti.
Ia melihat generasi menua.
Lalu dengan tenang berkata:
“Silakan berubah. Gue tidak ikut mati.”
Musik Tidak Sedang Mati
Justru sebaliknya.
Musik sedang diproduksi dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah manusia.
Kita sedang mengalami ledakan kreativitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tetapi mungkin karena itulah perjuangan sebuah karya untuk menjadi abadi sekarang jauh lebih berat.
Dahulu musisi bertarung agar dapat diterbitkan.
Sekarang musisi bertarung agar dapat ditemukan.
Besok mungkin mereka akan bertarung agar dapat dibedakan dari jutaan karya buatan mesin.
Tetapi pada akhirnya tantangannya tetap sama seperti seratus tahun lalu:
membuat sebuah suara…
yang mampu membuat manusia merasakan sesuatu.
Dan karya yang benar-benar berhasil melakukan itu akan mempunyai peluang untuk menembus zaman apa pun.
Karena mungkin kita salah ketika mengatakan generasi 70-an, 80-an dan 90-an tidak bisa move on.
Mungkin mereka tidak terjebak di masa lalu.
Mungkin mereka hanya kebetulan pernah hidup pada zaman ketika beberapa lagu besar lahir…
dan lagu-lagu tersebut ternyata tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Hari ini anak-anak mereka mendengarkannya.
Besok cucu mereka mungkin melakukan hal yang sama.
Kemudian suatu malam, tiga puluh tahun dari sekarang, seorang anak yang bahkan belum lahir hari ini mungkin memasuki mobil.
Ia membuka sebuah perangkat yang sekarang belum kita kenal.
Ia meminta sistem memutar musik.
Dan tiba-tiba terdengar suara gitar yang direkam setengah abad sebelumnya.
Ia berhenti.
Mendengarkan.
Lalu menaikkan volumenya.
Pada saat itulah kita akan tahu:
lagu itu bukan lagi lagu lama.
Ia bukan musik generasi tertentu.
Ia bukan nostalgia.
Ia telah menjadi abadi.
Dan di dunia yang setiap harinya menghasilkan lautan musik baru, mungkin tidak ada kemenangan yang lebih besar dari itu.
Bukan menjadi nomor satu minggu ini.
Bukan viral hari ini.
Bukan mendapatkan seratus juta stream tahun ini.
Melainkan tetap membuat manusia menekan tombol PLAY…
ketika hampir semua orang yang hidup saat lagu itu diciptakan sudah lama pergi.
Itulah level tertinggi musik.
Bukan popularitas.
Bukan ketenaran.
Bukan algoritma.
Keabadian.
Nah, kalau ditarik ke pertanyaan paling ujung: apakah kondisi ini sebenarnya merugikan industri musik? Secara komersial, belum tentu—bahkan mungkin sebaliknya. Teknologi membuat biaya produksi turun, distribusi nyaris tanpa batas, pasar menjadi global, dan sebuah lagu bisa terus menghasilkan nilai melalui streaming selama masih didengarkan. Musisi baru memperoleh pintu masuk yang jauh lebih lebar daripada generasi sebelumnya. Masalahnya, pintu yang lebar itu juga dimasuki jutaan orang sekaligus. Maka yang semakin mahal bukan lagi rekaman atau distribusi, melainkan perhatian. Industri boleh semakin besar, platform boleh semakin ramai, dan jumlah lagu boleh meledak; tetapi belum tentu keuntungan itu terbagi merata kepada setiap musisi. Paradoksnya: semakin mudah seseorang menerbitkan musik, semakin sulit musiknya dianggap penting.
Lalu dari sisi psikologis, lagu-lagu yang abadi mempunyai nilai yang tidak tercatat dalam laporan keuangan. Ia menjadi penanda umur, tempat menyimpan kenangan, bahkan semacam arsip emosional sebuah masyarakat. Dewa 19, Chrisye, Queen atau Metallica akhirnya bukan hanya katalog lagu; bagi sebagian orang mereka adalah jalan pulang menuju masa tertentu dalam hidup. Tetapi pertanyaannya kemudian: apakah musik memang masih perlu menjadi abadi di zaman sekarang? Jawabannya: secara bisnis, sebenarnya tidak harus. Sebuah lagu yang viral enam bulan, menghasilkan ratusan juta stream, melahirkan konser dan keuntungan besar lalu menghilang tetap dapat disebut sukses. Industri modern bahkan sangat mungkin hidup sehat dari ribuan ledakan singkat semacam itu. Keabadian bukan syarat agar musik menghasilkan uang.
Namun keabadian penting apabila ukuran yang dipakai bukan sekadar uang, melainkan warisan kebudayaan. Sebab tanpa karya yang bertahan, sebuah generasi bisa mempunyai jutaan soundtrack tetapi tidak mempunyai cukup banyak lagu yang kelak mampu mewakili zamannya. Teknologi mungkin membuat keadaan ini semakin ekstrem: AI akan membuat produksi musik hampir tanpa batas, algoritma semakin pintar menemukan selera pribadi, dan musik bahkan mungkin diciptakan khusus untuk satu orang. Secara pengalaman personal itu luar biasa. Tetapi ada sesuatu yang mungkin hilang: momen ketika jutaan manusia dari latar belakang berbeda pernah menyanyikan lagu yang sama. Musik masa depan mungkin menjadi semakin personal, semakin tepat sasaran, semakin efisien—namun justru semakin sulit menjadi monumen bersama.
Jadi, apakah kita sedang rugi atau untung? Secara industri: kemungkinan besar untung. Secara musisi: peluangnya membesar, tetapi pertarungannya jauh lebih brutal. Secara pendengar: kita memperoleh kebebasan musik yang belum pernah dimiliki manusia sebelumnya, tetapi juga menghadapi risiko hubungan yang semakin singkat dengan sebuah karya. Dan secara kebudayaan: di sinilah kerugiannya mungkin baru akan terasa puluhan tahun kemudian. Musik abadi memang tidak diperlukan agar industri terus hidup. Tetapi ia diperlukan agar sebuah zaman meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada angka streaming. Karena pada akhirnya teknologi bisa membuat musik menjadi tak terbatas, tetapi sejarah tetap mempunyai ruang yang sangat sempit. Dan barangkali ukuran paling kejam sebuah generasi musik bukan berapa juta lagu yang berhasil dibuatnya—melainkan berapa banyak yang masih ingin didengarkan manusia setelah generasi pembuatnya sendiri telah pergi.





