Mendikdasmen dan Menteri Pendidikan Singapura Perkuat Kolaborasi Pendidikan Berorientasi Masa Depan
RuangVeritas.com – Kerja sama di bidang pendidikan antara Indonesia dan Singapura memasuki babak baru. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, dengan Menteri Pendidikan Singapura, Desmond Lee, yang berlangsung di sela Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14 (14th ASEAN Education Ministers Meeting/ASED), Rabu (22/7).
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepahaman strategis yang mencakup pengembangan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran, pembaruan Nota Kesepahaman (MoU) bidang pendidikan, hingga penguatan akses layanan pendidikan bagi peserta didik di kedua negara.
Dalam dialog tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tantangan tersendiri sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 50 juta peserta didik yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus memperluas akses pendidikan melalui transformasi digital sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, teknologi, termasuk AI, memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran jarak jauh sehingga kualitas layanan pendidikan dapat semakin merata, baik di perkotaan maupun di wilayah yang sulit dijangkau.
“Kita dapat memanfaatkan teknologi dan akses internet, termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi kesenjangan layanan pendidikan antara peserta didik di wilayah perkotaan dan mereka yang berada di daerah pelosok,” ujar Abdul Mu’ti.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus tetap dibarengi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Menurutnya, teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu, sementara kemampuan manusia dalam memahami konteks, budaya, dan nilai-nilai lokal tetap tidak tergantikan.
Ia kemudian membagikan pengalamannya saat meminta AI menyusun bahan presentasi dalam bahasa Jawa. Sistem tersebut tidak mampu memenuhi permintaan tersebut secara memadai. Pengalaman itu, kata Abdul Mu’ti, menjadi contoh bahwa AI masih memiliki keterbatasan dalam memahami keragaman bahasa maupun konteks budaya.
“AI memang dapat membantu menyusun informasi atau narasi tertentu. Namun, kemampuan berpikir reflektif dan berpikir kritis tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Singapura, Desmond Lee, mengusulkan pembaruan Nota Kesepahaman kerja sama pendidikan yang terakhir ditandatangani pada 2017. Ia menilai perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama perkembangan teknologi dan munculnya berbagai tantangan global, menuntut adanya kerangka kerja sama yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Apalagi, pada 2027 Indonesia dan Singapura akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik, sehingga pembaruan kerja sama dinilai menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat kemitraan kedua negara.
“Sejak 2017 banyak perkembangan yang terjadi, baik dalam teknologi, AI, maupun tantangan global. Karena itu, kami memandang perlu memperbarui MoU agar lebih adaptif dan berorientasi pada masa depan hubungan pendidikan Indonesia dan Singapura,” ujar Desmond Lee.
Menanggapi usulan tersebut, Abdul Mu’ti menyatakan dukungannya terhadap pembaruan MoU sebagai landasan memperluas kolaborasi di sektor pendidikan. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan Temasek maupun berbagai perusahaan Singapura yang beroperasi di Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Menurutnya, sinergi tersebut dapat difokuskan pada wilayah yang memiliki kedekatan geografis dengan Singapura, seperti Sumatra, termasuk dalam mengatasi tantangan learning loss melalui berbagai program penguatan pembelajaran.
Selain membahas pemanfaatan teknologi dan pembaruan kerja sama, kedua menteri turut mendiskusikan keberlanjutan operasional Sekolah Indonesia Singapura (SIS), mengingat masa penggunaan lokasi sekolah tersebut akan berakhir pada April 2027. Abdul Mu’ti berharap kedua pemerintah dapat menemukan solusi terbaik agar layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Singapura tetap dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Pertemuan juga membahas peluang peningkatan kompetensi guru serta pengembangan kapasitas pekerja migran Indonesia agar memiliki keterampilan yang semakin baik selama bekerja di Singapura.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Kedua menteri saling berbagi cerita mengenai kekayaan budaya masing-masing, mulai dari angklung, Batik Megamendung khas Cirebon, Batik Peranakan, hingga durian yang menjadi salah satu ikon kuliner kedua negara. Pertukaran tersebut mencerminkan eratnya hubungan Indonesia dan Singapura yang terus diperkuat, tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga melalui kolaborasi di bidang pendidikan.





