Berita UmumPendidikan

Mendikdasmen Tinjau MPLS Ramah di SDN Srengseng Sawah 15, Pastikan Murid Pulih dan Kembali Percaya Diri Pascateror Bom

Jakarta, RuangVeritas.com – Pelaksanaan hari-hari pertama sekolah menjadi fase penting bagi peserta didik, khususnya murid baru yang sedang beradaptasi dengan lingkungan belajar. Untuk memastikan proses tersebut berlangsung dalam suasana yang aman dan kondusif, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengunjungi SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta, pada Selasa (14/7), guna memantau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah sekaligus memberikan dukungan psikologis setelah peristiwa teror bom yang sempat mengguncang lingkungan sekolah.

Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen bergabung bersama para murid mengikuti kegiatan Pagi Ceria yang diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta doa bersama. Ia juga berinteraksi langsung dengan siswa-siswi kelas I yang baru memasuki jenjang sekolah dasar untuk memberikan semangat sekaligus memastikan mereka menjalani masa adaptasi dengan nyaman. Sebagai bentuk motivasi, Abdul Mu’ti turut membagikan buku kepada para murid di penghujung kegiatan.

Menurut Mendikdasmen, suasana sekolah yang kembali dipenuhi keceriaan menunjukkan bahwa proses pemulihan berjalan dengan baik berkat kerja sama berbagai pihak. Ia mengapresiasi kontribusi kepolisian, Dinas Pendidikan, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), para guru, orang tua, hingga unsur masyarakat seperti RT dan RW yang bersama-sama menciptakan kondisi belajar yang aman bagi anak-anak.

“Alhamdulillah, hari ini anak-anak sudah tampak ceria dan kembali bersemangat mengikuti kegiatan belajar. Ini merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga pelaksanaan MPLS Ramah dapat berlangsung dengan baik,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menegaskan bahwa MPLS Ramah bukan sekadar kegiatan pengenalan sekolah, tetapi juga bagian dari upaya Kemendikdasmen membangun ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan berpihak kepada tumbuh kembang peserta didik. Selain membantu murid mengenal lingkungan sekolah, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai positif melalui penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Abdul Mu’ti mengungkapkan rasa syukurnya karena para murid terlihat telah kembali percaya diri dan tidak menunjukkan rasa takut. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa lingkungan sekolah mampu menghadirkan rasa aman sehingga anak-anak dapat belajar secara optimal. Ia juga berharap para murid dapat terus membangun kebiasaan baik, menjalin hubungan sosial yang sehat, serta menggunakan gawai secara bijaksana.

Pada kesempatan itu, Mendikdasmen turut menyampaikan penghargaan kepada para orang tua yang terus mendampingi putra-putrinya selama masa transisi memasuki sekolah. Ia menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam membantu anak beradaptasi dan menjaga semangat belajar.

Sebagai bagian dari upaya pemulihan, Kemendikdasmen menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan layanan pendampingan psikologis bagi warga sekolah. Tidak hanya bagi murid, edukasi juga diberikan kepada para orang tua agar mampu memberikan dukungan emosional kepada anak serta menciptakan suasana yang menenangkan di lingkungan keluarga.

Mendikdasmen juga mengingatkan seluruh pihak agar menjaga privasi peserta didik dengan tidak menyebarluaskan informasi yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis ataupun mengganggu proses pemulihan mereka.

Sementara itu, Kepala SDN Srengseng Sawah 15, Kamtono, menjelaskan bahwa sekolah telah merancang pelaksanaan MPLS Ramah jauh sebelum dimulainya tahun ajaran baru. Beragam aktivitas disusun secara bertahap agar peserta didik baru dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah tanpa merasa terbebani.

Ia menuturkan bahwa perpindahan dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar merupakan masa adaptasi yang membutuhkan perhatian khusus. Oleh sebab itu, sekolah berupaya mempersiapkan kesiapan mental anak agar mampu mengikuti pembelajaran sekaligus merasa nyaman berada di lingkungan barunya.

Kamtono menambahkan, apabila terdapat murid yang memerlukan pendampingan lebih lanjut, sekolah selalu mengedepankan komunikasi intensif dengan orang tua. Menurutnya, terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang erat antara sekolah dan keluarga.

“Keberhasilan mendampingi anak-anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan keterlibatan orang tua. Kami memiliki peran di sekolah, sedangkan orang tua mendampingi di rumah. Sinergi inilah yang akan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, jajaran Polri bersama HIMPSI juga memberikan layanan pendampingan psikososial kepada murid, guru, dan orang tua sebagai bagian dari proses pemulihan pascainsiden. Selain membantu mengembalikan rasa aman, mereka turut memberikan edukasi agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya mendukung kesehatan mental dan perkembangan anak.

Melalui sinergi antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, aparat keamanan, organisasi profesi, dan masyarakat, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap peserta didik memperoleh hak atas pendidikan dalam lingkungan yang aman, ramah anak, serta mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button