Pendidikan

Persiapan Matang, Kontingen Indonesia Siap Berlaga di WorldSkills Competition 2026 Shanghai

RuangVeritas.com – Indonesia terus memperkuat persiapan untuk mengikuti WorldSkills Competition (WSC) 2026 yang akan berlangsung di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 20 kompetitor dan 17 eksper (expert) dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia dalam ajang tersebut. Mereka akan didukung oleh technical delegate, technical delegate assistant, pelatih, pendamping, serta sejumlah tim pendukung lainnya.

Para kompetitor berasal dari beragam latar belakang, mulai dari murid dan alumni SMK hingga talenta dari institusi pendidikan serta mitra industri. Sebelum berangkat ke Shanghai, mereka menjalani pembinaan dan pelatihan secara intensif. Tidak hanya kemampuan teknis yang diasah, tetapi juga kesiapan mental, kedisiplinan, konsentrasi, dan ketelitian yang menjadi bagian penting dalam kompetisi keterampilan berskala internasional.

Tahapan persiapan telah dimulai sejak awal 2026. Dari aspek teknis, para kompetitor mengikuti Competition Preparation Week pada Februari 2026. Setelah itu, pembinaan dilanjutkan melalui berbagai simulasi yang dibuat menyerupai kondisi kompetisi sebenarnya. Melalui simulasi tersebut, para peserta dibiasakan bekerja sesuai standar internasional, menyelesaikan tugas dalam batas waktu tertentu, serta mempertahankan tingkat ketepatan yang tinggi.

Salah satu kompetitor Indonesia, Kanya Anggrek Gunawan, alumnus SMK Raden Umar Said (RUS), Kudus, Jawa Tengah, mengungkapkan rasa bangga sekaligus antusias karena mendapat kesempatan tampil mewakili Indonesia di ajang vokasi dunia. Sejak Februari 2026, Kanya menjalani rangkaian persiapan untuk bertanding dalam bidang 3D Game Art.

“Persiapan yang kami jalani cukup panjang dan banyak hal yang saya pelajari, bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga bagaimana menjaga fokus, disiplin, dan mental dalam menghadapi kompetisi. Saya harap ketika bertanding, kami bisa fokus mengerjakan sesuai apa yang sudah dipelajari dan bisa memberikan yang terbaik untuk negeri. Mohon doa dan dukungannya agar kami bisa memberikan hasil terbaik untuk Indonesia,” ujar Kanya Anggrek di Jakarta, Selasa (15/9).

Kanya menilai bidang 3D Game Art memiliki tantangan tersendiri karena menjadi salah satu bidang yang untuk pertama kalinya diikuti oleh Indonesia dalam WSC. Kondisi tersebut mendorongnya untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri secara maksimal agar mampu tampil optimal di Shanghai.

Sementara itu, kompetitor Indonesia dari bidang Auto Body Repair, Dewangga Pratama Putra dari SMK Krian 2 Sidoarjo, Jawa Timur, telah menjalani pembinaan selama kurang lebih enam bulan bersama mitra industri. Pelatihan berlangsung di dua lokasi dengan dukungan peralatan dan suasana kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi.

“Untuk target saya, yang paling utama adalah Gold Medal, tapi yang paling minimum adalah Medal of Excellence,” ungkap Dewangga.

Bagi Dewangga, WSC bukan sekadar arena untuk menguji kemampuan, melainkan juga kesempatan memperkaya kompetensi yang nantinya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Seusai mengikuti kompetisi, ia berencana kembali ke sekolah untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya selama menjalani proses pembinaan.

“Saya mengharapkan ada junior yang meneruskan bakat-bakat saya di bidang auto body repair terutama, dan skill-skill yang saya miliki bisa diasah oleh adik-adik kelas selanjutnya,” tuturnya.

Persiapan serupa dilakukan oleh tim Indonesia yang berlaga di bidang Robot Systems Integration. Eks bidang tersebut, Reza Pahlevi, menyampaikan bahwa tim yang didampinginya merupakan peraih juara pertama ASEAN Skills 2025 di Filipina. Untuk menghadapi WSC 2026, tim tersebut menjalani pelatihan selama sekitar tiga hingga empat bulan di training center industry.

Reza menjelaskan bahwa Robot Systems Integration menjadi salah satu bidang yang berkaitan erat dengan kebutuhan teknologi industri masa kini. Pesatnya perkembangan robotika dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menuntut talenta vokasi untuk terus meningkatkan dan memperbarui kompetensinya.

“Kalau kita tidak meng-upskilling, tidak me-reskilling kita, kita akan ketinggalan zaman, ketinggalan teknologi yang nantinya akan diambil oleh AI dan robotik yang ada di dunia. Jadi, kita harus persiapkan ke era baru yaitu robotik dan AI,” ujarnya.

Reza menambahkan, tim yang didampinginya optimistis menghadapi WSC 2026. Meski terdapat keterbatasan karena tidak seluruh peralatan latihan identik dengan perangkat yang digunakan dalam kompetisi, pelatihan tetap diarahkan untuk membangun kemampuan adaptasi para kompetitor terhadap kondisi lomba.

“Targetnya di WorldSkills 2026 ini, tetap kita optimistis kita bisa bawa pulang emas pertama untuk Indonesia tahun ini di bidang Robot Systems Integration,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, berharap seluruh kontingen Indonesia dapat menunjukkan kemampuan terbaik di tingkat dunia. Selain mengejar prestasi, ia juga mendorong para peserta membawa pulang pengalaman dan pengetahuan yang nantinya dapat dibagikan kepada komunitas pendidikan dan vokasi di Indonesia.

Menurut Fajar, keberhasilan dalam sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh posisi atau medali yang diperoleh. Proses persiapan dan pengalaman selama mengikuti kompetisi juga menjadi bagian penting dalam membentuk mental serta cara pandang peserta.

“Juara itu bukan semata-mata kita ranking 1, ranking 2, atau ranking 3, ataupun tidak semata-mata kita meraih medali atau tidak, tetapi itu juara menyangkut soal mentalitas, menyangkut soal cara pandang hidup,” ujarnya.

Fajar juga berpesan agar seluruh kontingen tetap menghargai dan bangga terhadap proses panjang yang telah mereka lalui. Sepulang dari Shanghai, pengalaman, pengetahuan, dan pembelajaran yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat pendidikan dan vokasi di Indonesia, khususnya di lingkungan masing-masing.

“Apa pun hasilnya, pulanglah kembali ke tanah air dengan kebanggaan, dengan tanggung jawab bahwa apa yang telah dicapai di Shanghai, apa yang telah dilihat dan dipelajari di Shanghai itu perlu ditularkan, disebarkan di Indonesia, terutama di komunitas masing-masing,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button