Semangat Guru SD Katolik Doki, Bangkitkan Pembelajaran Pascagempa Flores
RuangVeritas.com – Gempa bumi yang melanda Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 menyebabkan dua ruang kelas SD Katolik Doki roboh, sementara empat ruang lainnya mengalami kerusakan berat. Meski fasilitas sekolah terdampak cukup parah, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para guru untuk tetap mendampingi murid dan menjaga kegiatan pembelajaran tetap berlangsung.
Ketika ruang kelas sudah tidak memungkinkan untuk digunakan, para guru melanjutkan kegiatan mengajar di posko pengungsian. Selanjutnya, pihak sekolah bersama orang tua murid dan pemerintah setempat berinisiatif mendirikan posko belajar sederhana di tiga lokasi. Bangunan sementara tersebut dibuat menggunakan rangka bambu dan terpal sebagai tempat anak-anak belajar di tengah keterbatasan akibat bencana.
Kepala SD Katolik Doki, Maria Sefiriana Sebo, menjelaskan bahwa guru dituntut segera beradaptasi dengan situasi pascagempa. Sejak 20 Agustus, para pendidik mulai memberikan pendampingan kepada peserta didik di sejumlah posko pengungsian. Selain pembelajaran secara langsung, guru kelas juga menyiapkan lembar kerja yang kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp paguyuban orang tua murid.
Pelaksanaan pembelajaran di posko pengungsian memiliki tantangan tersendiri. Satu lokasi pengungsian dapat ditempati anak-anak dari berbagai jenjang, mulai dari TK, SD, hingga SMP. Kondisi tersebut membuat guru harus menerapkan pembelajaran kelas rangkap. Di sisi lain, suasana posko juga belum sepenuhnya mendukung proses belajar karena masih menjadi tempat aktivitas masyarakat yang terdampak bencana.
Untuk menciptakan ruang belajar yang lebih terarah, sekolah bersama orang tua dan pemerintah daerah kemudian membangun tiga posko belajar khusus. Lokasi posko ditentukan dengan mempertimbangkan jangkauan tempat tinggal para murid. Keberadaan posko tersebut memberikan ruang yang lebih sesuai bagi anak-anak untuk kembali belajar sekaligus menjadi tempat guru memberikan pendampingan.
Dalam pelaksanaannya, materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang peserta didik. Murid kelas 1–3 mendapatkan penguatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Sementara itu, siswa kelas tinggi diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi, numerasi, serta mempelajari sejumlah materi esensial.
Selain menjaga keberlangsungan pembelajaran, guru juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak. Gempa yang terjadi menyebabkan sebagian peserta didik mengalami trauma sehingga membutuhkan pendampingan agar mereka dapat kembali merasa aman dan nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dukungan psikososial dan pemulihan trauma dilakukan pada 26 Agustus 2026 melalui kerja sama sekolah dengan tim relawan Argem (Arrow Generation Movement) Kota Kupang. Pendampingan tersebut membantu anak-anak secara perlahan kembali beraktivitas dan mengikuti pembelajaran tanpa rasa takut yang berlebihan.
Menurut Maria, perubahan positif mulai terlihat setelah pendampingan diberikan. Anak-anak mulai menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan dan tidak lagi terlihat terlalu takut maupun panik ketika berada di lingkungan belajar.
Untuk menunjang kegiatan pembelajaran di posko, sekolah juga menerima bantuan berupa terpal dan alat tulis kantor (ATK) dari Taman Baca Pelangi (TPB). Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sarana belajar sementara bagi peserta didik.
Maria berharap guru-guru juga memperoleh pelatihan khusus mengenai penyusunan pembelajaran kelas rangkap. Menurutnya, kemampuan tersebut akan sangat membantu pendidik ketika harus melaksanakan kegiatan belajar dalam situasi darurat dan di luar ruang kelas seperti yang terjadi setelah gempa.
Sementara itu, upaya pemulihan sarana dan prasarana SD Katolik Doki sebelumnya telah memiliki dasar melalui program revitalisasi sekolah. SD Katolik Doki tercatat sebagai salah satu sekolah yang masuk dalam Program Revitalisasi Angkatan 3 Tahap 1. Sekolah tersebut telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) di Surabaya dan memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS). Dalam program tersebut, enam ruang kelas direncanakan mendapatkan rehabilitasi.
Namun, gempa bumi mengubah kondisi bangunan sekolah secara signifikan. Dua ruang kelas mengalami keruntuhan total, sedangkan empat ruang lainnya rusak berat. Karena itu, Maria berharap pemerintah dapat melakukan survei langsung untuk melihat kondisi terbaru dan menentukan tindak lanjut penanganan bangunan sekolah.
Ia berharap program revitalisasi yang sebelumnya telah diikuti sekolah dapat segera ditindaklanjuti sehingga perbaikan fasilitas pendidikan dapat disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi setelah gempa.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah. Rumah dinas kepala sekolah yang ditempati Maria juga roboh, sedangkan sejumlah rumah dinas guru mengalami kerusakan berat. Meski menghadapi kondisi tersebut, para guru tetap berupaya hadir dan mendampingi anak-anak dalam proses pemulihan serta pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa bencana tidak seharusnya membuat anak kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan. Menurutnya, kegiatan belajar dalam kondisi darurat dapat dilaksanakan dengan metode maupun lokasi yang berbeda, selama keselamatan dan pemulihan psikologis peserta didik tetap menjadi perhatian utama.
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa keberlangsungan pendidikan setelah bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat perlu menjalankan peran masing-masing agar anak-anak dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman dan mendukung proses tumbuh kembang mereka.
Kisah para guru di SD Katolik Doki menjadi gambaran ketangguhan pendidik dalam menghadapi situasi bencana. Ketika ruang kelas tidak lagi dapat digunakan, mereka tetap mengajar di bawah terpal dengan fasilitas yang terbatas dan menghadapi tantangan pembelajaran kelas rangkap.
Bagi para guru, keberadaan mereka di tengah anak-anak bukan sekadar untuk menyampaikan materi pelajaran. Kehadiran tersebut juga menjadi bagian dari proses pemulihan. Dengan terus mendampingi murid, guru membantu anak-anak kembali beraktivitas, membangun rasa aman, dan perlahan bangkit dari trauma setelah gempa.





