Perjuangan 22 Tahun Guru Asal Boyolali, Tempuh Perjalanan Jauh Demi Tetap Mengajar di Kudus
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 15 Mei 2026 – Langit pagi bahkan belum sepenuhnya terang ketika Sutimah memulai aktivitasnya. Dari kediamannya di Kabupaten Boyolali, ia mengendarai sepeda motor menuju SDN 7 Getassrabi di Kabupaten Kudus, sekolah tempat ia mengabdikan diri selama lebih dari dua dekade.
Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari. Demi bisa mengajar murid-murid sekolah dasar, Sutimah harus menempuh perjalanan lintas kabupaten dengan waktu tempuh mencapai empat jam pulang-pergi. Seusai salat subuh, ia berangkat dari rumah dan baru tiba kembali sekitar pukul empat sore.
Meski perjalanan yang dijalani cukup melelahkan, semangatnya sebagai pendidik tidak pernah pudar. Baginya, profesi guru bukan hanya sumber penghasilan, melainkan bentuk pengabdian yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Kisah Sutimah menggambarkan dedikasi para guru di berbagai daerah yang tetap bertahan mengajar di tengah keterbatasan. Perjalanan panjang pengabdiannya dimulai sejak 2004 saat ia masih berstatus guru honorer atau Guru Wiyata Bakti.
Kala itu, penghasilan yang diterimanya jauh dari kata cukup. Pada awal mengajar, ia bahkan baru memperoleh honor sekitar Rp50 ribu per bulan. Nominal tersebut kemudian meningkat menjadi Rp220 ribu pada periode 2008 hingga 2010.
Perubahan besar terjadi ketika pemerintah membuka rekrutmen CPNS pada 2010. Sutimah berhasil lolos dan resmi menjadi CPNS setahun kemudian. Ia ditempatkan di SDN 7 Getassrabi, sekolah dengan 72 siswa dan enam ruang kelas.
Di sekolah tersebut, Sutimah dipercaya menjadi wali kelas 1. Menurutnya, mengajar anak-anak yang baru memasuki jenjang sekolah dasar membutuhkan perhatian dan kesabaran ekstra. Banyak murid masih berada dalam tahap belajar membaca dan menulis sehingga membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Karena itu, selepas jam pelajaran selesai, Sutimah kerap meluangkan waktu tambahan untuk membantu siswa yang belum lancar membaca ataupun masih tertinggal dalam menulis. Semua dilakukan secara sukarela tanpa biaya tambahan, setelah terlebih dahulu berkomunikasi dengan orang tua murid.
Bagi dirinya, keberhasilan seorang guru bukan semata-mata dilihat dari nilai akademik siswa, tetapi dari kemampuan memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar.
Di tengah pengabdiannya, Sutimah turut merasakan dampak peningkatan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satunya melalui kebijakan penyaluran tunjangan profesi guru yang kini diberikan langsung setiap bulan ke rekening penerima sesuai Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2026.
Jika sebelumnya tunjangan diterima setiap tiga bulan sekali, kini pencairannya dilakukan setiap bulan mengikuti gaji pokok. Menurut Sutimah, perubahan tersebut sangat membantu kebutuhan keluarga sekaligus memberinya kesempatan berbagi dengan sesama.
Sebagian dari penghasilannya rutin digunakan untuk membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid dari keluarga kurang mampu. Ia juga bersyukur masih dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk berkurban setiap tahun.
Namun, bertambahnya usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan tersendiri. Sutimah berharap dapat dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah agar tidak lagi menempuh perjalanan panjang setiap hari.
Keinginan mutasi sebenarnya telah dua kali ia ajukan, tetapi belum dapat terealisasi lantaran sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan guru.
Harapan baru muncul saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mendengar langsung kisah perjuangannya dalam sebuah kunjungan kerja. Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti meminta agar pemerintah daerah segera mencari solusi terkait permohonan mutasi tersebut mengingat jarak tempuh yang harus dijalani Sutimah setiap hari sangat jauh.
Pemerintah sendiri telah menerbitkan aturan mengenai redistribusi guru ASN melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung pemerataan tenaga pendidik sekaligus memberikan penataan yang lebih manusiawi bagi para guru.
Di usia yang tidak lagi muda, Sutimah tetap menjalani tugasnya dengan penuh ketulusan. Bagi dirinya, menjadi guru bukan soal beratnya perjalanan, melainkan tentang pengabdian demi masa depan generasi penerus bangsa.





