Badan Bahasa Perkuat Gerakan Literasi di NTT melalui Kolaborasi Berbagai Elemen Masyarakat
Kupang, NTT, 30 Mei 2026 – Upaya meningkatkan kualitas literasi di Indonesia terus diperkuat melalui keterlibatan berbagai pihak. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), mendorong penguatan Gerakan Literasi Nasional (GLN) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan mitra pembangunan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT yang digelar dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional pada Selasa (26/5). Kegiatan bertema “Dari Bumi Flobamorata Menyemai Benih Menebar Pijar Literasi” itu terlaksana atas kerja sama Pemerintah Provinsi NTT, INOVASI, dan Bank Indonesia.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan kemampuan literasi masyarakat tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga atau kelompok saja. Menurutnya, keberhasilan gerakan literasi sangat bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam membangun budaya membaca yang tumbuh di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” ujar Hafidz.
Ia menjelaskan bahwa berbagai hasil asesmen pendidikan masih menunjukkan perlunya penguatan kemampuan membaca dan pemahaman literasi peserta didik. Karena itu, Badan Bahasa terus memperluas akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan anak di setiap jenjang pendidikan.
Sebagai salah satu daerah prioritas pengembangan literasi nasional pada tahun 2026, NTT akan menerima distribusi buku bacaan bermutu dalam jumlah besar. Badan Bahasa menyalurkan masing-masing 200 eksemplar buku ke 1.294 sekolah dasar serta 300 eksemplar buku ke 393 sekolah menengah pertama di wilayah tersebut.
Menurut Hafidz, ketersediaan buku yang menarik dan relevan dengan usia pembaca menjadi faktor penting dalam menumbuhkan minat baca sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak.
“Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, sesuai usia dan jenjang pendidikan mereka. Dari sanalah kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh,” katanya.
Selain mendistribusikan buku ke sekolah-sekolah, Badan Bahasa juga menyerahkan 5.400 buku bacaan kepada Bunda Literasi NTT untuk disalurkan ke berbagai daerah. Dukungan tersebut dilengkapi dengan perangkat penyimpanan digital yang berisi sekitar 1.400 judul buku elektronik guna memperluas akses bacaan di tingkat kabupaten dan kota.
Libatkan Generasi Muda dalam Aktivitas Literasi
Dalam rangka memperkuat budaya membaca sejak dini, Balai Bahasa Provinsi NTT bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) mengadakan berbagai kegiatan literasi yang melibatkan sekitar 700 pelajar dari tingkat SD hingga SMA.
Setiap kelompok usia mendapatkan aktivitas yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan mereka. Siswa sekolah dasar diajak mengulas buku yang telah dibaca, pelajar SMP mendapatkan pelatihan membaca cepat, sementara siswa SMA dilatih melakukan pembacaan kritis terhadap berbagai cerita dan materi yang disampaikan narasumber.
Hafidz menilai tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa anak-anak memiliki minat belajar yang besar ketika didukung bahan bacaan yang menarik dan lingkungan yang mendukung.
“Ada siswa yang merasa cerita yang dibaca sangat dekat dengan kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar memahami teks, tetapi juga membangun empati. Mereka belajar memahami isi bacaan dan mengembangkan imajinasi serta berpikir kritis,” ungkapnya.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias membaca buku cerita bergambar dan aktif menceritakan kembali isi bacaan yang mereka pahami. Aktivitas tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga melatih keterampilan komunikasi dan pemahaman mereka terhadap isi teks.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, yang membacakan sambutan Gubernur NTT menyampaikan bahwa budaya membaca masyarakat di provinsi tersebut menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2025 yang dilakukan Perpustakaan Nasional, indeks kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai 62,05, melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 54,80.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting dalam upaya membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
“Kita harus menjaga semangat membaca ini dengan menghadirkan bahan bacaan yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan budaya membaca sejak dini. Ia menyambut baik dukungan dan kolaborasi yang dibangun bersama Badan Bahasa untuk memperluas gerakan literasi hingga menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” tuturnya.





