Kemendikdasmen Dorong Pemerataan Pendidikan Berkualitas untuk Mendukung Asta Cita Presiden
Jakarta, RuangVeritas.com – Pemerataan akses terhadap pendidikan berkualitas menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menjalankan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), pengembangan sains dan teknologi, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, olahraga, kesetaraan gender, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Di sektor pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat berbagai kebijakan strategis untuk mencapai tujuan tersebut. Upaya itu dilakukan melalui sejumlah program prioritas, mulai dari revitalisasi sekolah, percepatan digitalisasi pembelajaran, hingga peningkatan kesejahteraan dan kompetensi tenaga pendidik.
Saat melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (11/6), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan laporan perkembangan sejumlah program unggulan Kemendikdasmen.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah revitalisasi satuan pendidikan. Hingga tahun 2025, program tersebut telah rampung sepenuhnya dengan cakupan sebanyak 16.167 sekolah dan total dukungan anggaran mencapai lebih dari Rp16,9 triliun.
Sementara untuk pelaksanaan revitalisasi pada tahun 2026, progres pengerjaan telah mencapai hampir 70 persen dari target yang ditetapkan. Sebanyak 11.744 satuan pendidikan telah masuk tahap pembangunan, dan sebagian di antaranya diproyeksikan selesai pada Juli hingga Agustus 2026. Dengan demikian, fasilitas baru tersebut diharapkan dapat langsung dimanfaatkan saat memasuki tahun ajaran baru 2026/2027.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa revitalisasi sekolah tidak hanya berorientasi pada perbaikan sarana pendidikan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melalui pola swakelola, proyek tersebut diperkirakan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 1,1 juta tenaga kerja selama masa pengerjaan yang berlangsung antara tiga hingga delapan bulan.
“Program revitalisasi melalui mekanisme swakelola memberikan manfaat ganda, yakni memperkuat kualitas pendidikan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (11/6).
Selain pembenahan infrastruktur, Kemendikdasmen juga terus mendorong transformasi pembelajaran berbasis teknologi. Pada 2025, sebanyak 288.865 perangkat Interactive Flat Panel (IFP) telah disalurkan ke berbagai sekolah di Indonesia.
Perangkat digital tersebut kini mulai digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil evaluasi, pemanfaatan IFP memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran serta mendorong semangat belajar peserta didik.
Penguatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru
Peningkatan kualitas pendidikan tidak terlepas dari peran guru sebagai ujung tombak pembelajaran. Karena itu, pemerintah terus memperkuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus kompetensi para pendidik.
Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pemerintah terus menjalankan komitmen dalam memperbaiki kesejahteraan guru melalui penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Bagi guru ASN, tunjangan tersebut telah diberikan secara langsung melalui rekening masing-masing dengan besaran satu kali gaji pokok setiap bulan.
Sementara bagi guru non-ASN yang telah memiliki sertifikasi, pemerintah juga telah menyalurkan tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan.
Menurut Abdul Mu’ti, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menyederhanakan proses layanan agar manfaat program dapat diterima langsung oleh para guru.
“Langkah ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah agar guru dapat memperoleh haknya dengan proses yang lebih mudah dan cepat,” katanya.
Selain aspek kesejahteraan, Kemendikdasmen juga memperluas program peningkatan kompetensi guru melalui jalur pendidikan lanjutan. Pada 2025, sebanyak 12.500 guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan D4 atau S1 mendapatkan dukungan beasiswa melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan bantuan senilai Rp3 juta per orang setiap semester.
Program tersebut kembali diperluas pada 2026 dengan target penerima mencapai 150.000 guru yang masih membutuhkan peningkatan kualifikasi akademik. Besaran bantuan yang diberikan tetap sama.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa program tersebut saat ini telah memasuki tahap semester kedua. Ia berharap keberlanjutan program tersebut dapat semakin memperkuat kualitas tenaga pendidik di seluruh Indonesia.
“Kami berharap program ini dapat berjalan baik dan nantinya Presiden Prabowo Subianto dapat hadir memberikan apresiasi kepada para guru penerima manfaat,” pungkas Mendikdasmen.





