Pendidikan

Mahasiswa UTB Raih Pengakuan Anthropic Berkat Temuan Celah Keamanan pada Claude AI

Bandung, RuangVeritas.com – Mahasiswa Universitas Teknologi Bandung (UTB), Muhamad Arga Reksapati, mencatatkan prestasi di bidang keamanan siber dengan memperoleh pengakuan dari Anthropic, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) yang menghadirkan Claude AI. Pengakuan tersebut diberikan setelah Arga berhasil mengidentifikasi kerentanan pada sistem Claude Code Action yang digunakan dalam ekosistem pengembangan perangkat lunak.

Temuan itu dilaporkan melalui platform HackerOne, tempat berbagai perusahaan teknologi membuka program bug bounty bagi para peneliti keamanan. Dari hasil evaluasi tim keamanan Anthropic, laporan Arga dinilai valid dan memenuhi kriteria untuk memperoleh penghargaan berupa bug bounty senilai 3.700 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp66 juta.

Kerentanan yang ditemukan berkaitan dengan mekanisme eksekusi asisten AI pada GitHub Issue dan Pull Request (PR). Dalam kondisi tertentu, sistem perlindungan yang dirancang untuk menjaga konsistensi data dapat dilewati melalui proses pemrosesan gambar, sehingga memungkinkan AI memproses informasi yang telah berubah setelah tahap pemeriksaan awal dilakukan.

Besaran bug bounty yang diterima ditentukan berdasarkan tingkat keparahan kerentanan yang ditemukan. Anthropic sendiri tidak menerbitkan sertifikat penghargaan resmi dalam program tersebut. Sebagai bentuk apresiasi, perusahaan memberikan imbalan melalui platform HackerOne kepada para peneliti yang berkontribusi meningkatkan keamanan sistem mereka.

Arga menjelaskan bahwa kecerdasan buatan hanya dimanfaatkan sebagai pendukung dalam proses penelitiannya. AI digunakan untuk mempercepat analisis awal dan membantu menyusun hipotesis, sementara seluruh tahapan pengujian, verifikasi, hingga pembuktian kerentanan tetap dilakukan secara manual.

Menurutnya, penggunaan AI tanpa pemahaman yang memadai justru berpotensi menghasilkan laporan keamanan yang keliru. Karena itu, kemampuan analisis, penguasaan teknis, serta penerapan etika profesi tetap menjadi fondasi utama dalam bidang keamanan siber.

Ketertarikannya terhadap dunia keamanan digital telah berkembang sejak lama. Berawal dari rasa penasaran terhadap cara kerja sistem komputer, Arga kemudian mempelajari keamanan siber secara otodidak melalui eksplorasi source code, penyusunan proof-of-concept (PoC), hingga aktif mengikuti berbagai program bug bounty berskala internasional.

Perjalanan tersebut menjadi semakin menarik karena Arga tidak berasal dari jalur pendidikan teknologi informasi. Saat menempuh pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK), ia mengambil jurusan Teknik Mesin. Namun, minatnya terhadap dunia pemrograman sudah tumbuh sejak SMP, sehingga ia terus mengembangkan kemampuan secara mandiri hingga akhirnya mampu berkontribusi dalam penguatan keamanan sistem milik perusahaan teknologi global.

Bagi Arga, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan belajarnya di bidang teknologi. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi bukti bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan maupun fasilitas tidak menjadi penghalang untuk terus berkembang dan berprestasi di tingkat internasional.

Keberhasilan yang diraih Muhamad Arga Reksapati sekaligus menunjukkan bahwa talenta muda Indonesia memiliki kemampuan bersaing dalam bidang keamanan siber dan pengembangan teknologi AI di kancah global. Capaian tersebut juga memperlihatkan pentingnya budaya belajar mandiri, eksplorasi teknologi, serta keberanian untuk berinovasi dalam menghadapi tantangan industri digital yang terus berkembang.

Universitas Teknologi Bandung pun menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi digital dan keamanan siber. Melalui penguatan ekosistem pembelajaran dan inovasi, UTB berharap semakin banyak mahasiswa yang mampu menghasilkan karya dan kontribusi nyata bagi perkembangan teknologi di tingkat nasional maupun internasional.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button