Anak-anak Belajar STEM dengan Cara yang Menyenangkan, dari Kardus menjadi Menara Kudus
RuangVeritas.com – Kardus bekas, tutup botol, batu, hingga gelas plastik merupakan benda-benda sederhana yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, melalui kreativitas anak-anak di RA Miftahul Falah Dawe dan PAUD Terpadu Kalirejo, berbagai benda tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM). Praktik tersebut sejalan dengan Program STEM Nasional yang mengedepankan prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
Di RA Miftahul Falah Dawe, guru Fitria Anggraeni mengembangkan kegiatan pembelajaran melalui proyek pembuatan miniatur sekolah berbahan kardus. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak tidak sekadar membuat sebuah bentuk bangunan, tetapi juga diajak berpikir mengenai cara menyusun kardus agar bangunan dapat berdiri kokoh, memilih bahan perekat yang tepat, serta mengukur dan menghitung jumlah kardus yang diperlukan.
Fitria menjelaskan bahwa unsur teknologi terlihat dari pemanfaatan kardus sebagai bahan untuk membuat miniatur bangunan. Sementara aspek enjinering diterapkan ketika anak mencari cara agar konstruksi tidak mudah roboh. Adapun konsep matematika diperkenalkan melalui aktivitas mengukur dan menghitung bahan yang digunakan.
Menurut Fitria, kegiatan tersebut membuktikan bahwa pembelajaran STEM sebenarnya dapat diterapkan secara sederhana dan alami sejak usia dini. Berbagai aktivitas yang selama ini dilakukan dalam pembelajaran ternyata telah mengandung unsur STEM, meskipun sebelumnya belum secara khusus disebut dengan istilah tersebut.
Ia juga menilai pengenalan STEM penting untuk membekali anak dalam menghadapi perkembangan zaman. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba, bereksperimen, serta menghubungkan pembelajaran dengan teknologi dan konsep matematika yang akan semakin dibutuhkan pada masa mendatang.
Penerapan pembelajaran berbasis STEM juga dilakukan di PAUD Terpadu Kalirejo yang dipimpin Sumiyati. Sekolah tersebut memanfaatkan berbagai benda yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai media belajar. Selain murah dan mudah diperoleh, bahan-bahan tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati benda, memahami kegunaannya, merencanakan pemanfaatannya, melakukan eksplorasi, menciptakan karya, sekaligus mengenal konsep matematika.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah membuat miniatur Menara Kudus. Dalam prosesnya, anak-anak menggunakan gelas plastik sebagai bagian penyangga bangunan karena bentuknya memungkinkan untuk berdiri. Mereka kemudian menentukan bahan yang digunakan untuk membuat atap, menghias miniatur, serta menghitung jumlah tingkat bangunan yang berhasil dibuat.
Sumiyati mengatakan bahwa kegiatan seperti itu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Mereka terlihat lebih antusias dan menikmati proses pembelajaran karena diberikan kesempatan untuk bereksplorasi menggunakan berbagai benda yang telah disiapkan guru.
Menurut Sumiyati, praktik STEM sebenarnya sudah banyak ditemukan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Berbagai pendekatan seperti pembelajaran berbasis inkuiri, berpikir komputasional, hingga penerapan Kurikulum Merdeka dapat dikembangkan dan diintegrasikan dengan konsep STEM.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan bahwa rasa ingin tahu anak perlu terus dipupuk dan diarahkan sejak usia dini. Menurutnya, berbagai peristiwa dan benda yang ditemukan anak di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari proses belajar apabila guru mampu membantu mereka memahami serta memberikan makna terhadap pengalaman tersebut.
Melalui penerapan STEM dengan prinsip 5M, Kemendikdasmen berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki kemampuan berpikir ilmiah sekaligus berkarakter Pancasila. Mereka diharapkan kelak menjadi generasi saintis yang memiliki akhlak mulia dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak.





