Kemendikdasmen Dukung Residensi Rimbaud, Perkuat Diplomasi Bahasa dan Sastra Indonesia–Prancis
RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis melalui kerja sama di bidang bahasa dan sastra. Komitmen tersebut terlihat dari kehadiran Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, yang mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat menyambut penulis asal Prancis, Louis-Philippe Dalembert, di Semarang, Jumat (11/9). Kehadiran tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Program Residensi Rimbaud.
Program yang diinisiasi Kedutaan Besar Prancis dan Institut français d’Indonésie (IFI) bersama Pemerintah Kota Semarang ini menjadi wadah interaksi antara penulis dengan masyarakat, akademisi, maupun komunitas sastra. Selain memperluas pertukaran budaya, program tersebut juga diharapkan membuka kesempatan bagi lahirnya karya sastra yang merefleksikan pengalaman Indonesia melalui sudut pandang penulis internasional.
Hafidz Muksin menyampaikan bahwa keterlibatan Kemendikdasmen dalam Residensi Rimbaud merupakan salah satu bentuk pemanfaatan bahasa dan sastra sebagai sarana diplomasi. Menurutnya, pertukaran budaya melalui karya sastra dapat menjadi cara untuk mengenalkan Indonesia secara lebih mendalam sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Prancis.
“Badan Bahasa secara terbuka mendukung Louis-Philippe Dalembert dalam menghasilkan karya sastra selama berada di Semarang. Melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, kami akan membantu memberikan informasi serta fasilitasi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan literasi,” ujar Hafidz.
Bahasa dan Sastra Menjadi Penghubung Antarbangsa
Residensi Rimbaud merupakan program residensi sastra bilateral yang mengambil nama penyair Prancis, Arthur Rimbaud. Kota Semarang dipilih karena memiliki hubungan historis dengan Rimbaud. Pada 1876, penyair tersebut pernah tiba di Semarang sebelum melanjutkan perjalanan ke Salatiga.
Louis-Philippe Dalembert, seorang novelis sekaligus penyair kelahiran Haiti yang saat ini tinggal di Paris, menjadi penulis pertama yang mengikuti program Residensi Rimbaud. Selama tiga bulan, mulai September hingga November 2026, Dalembert akan menjalani proses kreatif di Semarang.
Dalam masa residensi tersebut, ia dijadwalkan berkarya di sejumlah lokasi, termasuk Lawang Sewu, serta berinteraksi secara langsung dengan penulis, mahasiswa, peneliti, pembaca, dan komunitas sastra melalui berbagai kegiatan, seperti diskusi dan lokakarya.
Program ini memiliki arti strategis karena bahasa dan sastra bukan hanya menjadi media komunikasi dan ekspresi kebudayaan, tetapi juga dapat berperan dalam membangun pemahaman antarbangsa. Karya sastra yang dihasilkan dalam bahasa Prancis diharapkan turut memperkenalkan kekayaan tradisi dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Dalam mendukung proses kreatif tersebut, Badan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah akan memberikan informasi dan fasilitasi mengenai bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkaya pengalaman serta perspektif Dalembert selama menjalani residensi di Semarang.
Program Residensi Rimbaud secara resmi diluncurkan di kediaman Duta Besar Prancis untuk Indonesia di Jakarta pada 10 September 2026. Duta Besar Prancis Fabien Penone menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Prancis.
Kerja sama tersebut sejalan dengan Deklarasi Bersama Strategi Kebudayaan (Borobudur Declaration) yang disepakati dalam kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada Mei 2025.
Ke depan, Kedutaan Besar Prancis dan IFI berencana mengembangkan program residensi serupa di sejumlah daerah di Indonesia. Pengembangan tersebut juga akan mencakup program yang berfokus pada kegiatan penulisan dan penerjemahan.
Melalui dukungannya terhadap Residensi Rimbaud, Kemendikdasmen menegaskan posisi bahasa dan sastra sebagai salah satu unsur penting dalam diplomasi pendidikan dan kebudayaan. Kehadiran penulis internasional di Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan, memperkenalkan keragaman bahasa dan budaya Indonesia ke dunia internasional, serta memperluas jejaring kerja sama di bidang kebahasaan dan kesastraan dengan negara-negara mitra.





