Pendidikan

Enam ASN Kemendikdasmen Terima Satyalancana Karya Satya, Tegaskan Komitmen Pengabdian di Tengah Tantangan

RuangVeritas.com – Enam aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperoleh Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut disematkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (17/8).

Satyalancana Karya Satya diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, negara, dan pemerintah, sekaligus dedikasi dalam menjalankan tugas dengan penuh kejujuran dan kedisiplinan. Masa pengabdian yang menjadi dasar pemberian penghargaan tersebut mencakup 10, 20, hingga 30 tahun.

Enam penerima penghargaan tersebut terdiri atas Nunuk Suryani dan Mansur untuk masa pengabdian 30 tahun; Yudhistira Nugraha dan Tuti Wibowo untuk 20 tahun; serta Eka Yuli Arisanti dan Vidy Binsar Ferdianto untuk masa pengabdian 10 tahun.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menilai penghargaan tersebut tidak semata-mata menjadi bentuk apresiasi atas masa kerja, tetapi juga pengingat mengenai tanggung jawab dalam menjaga amanah kemerdekaan.

“Dalam momentum kemerdekaan ini, mari kita menjaga amanah kemerdekaan dengan memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia mengajak seluruh insan pendidikan menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai momentum untuk memperkuat persatuan sekaligus menghasilkan kerja nyata. Menurutnya, pengabdian di bidang pendidikan harus terus diarahkan untuk menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat.

Pengabdian ASN Harus Terus Berkembang

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menyambut penghargaan tersebut dengan rasa syukur. Ia memandang Satyalancana Karya Satya sebagai bentuk penghormatan negara terhadap ASN yang menjalankan tugas dan memberikan kontribusi secara konsisten.

“Saya merasa bangga dan bersyukur karena pemerintah atau negara, khususnya Presiden, mengapresiasi kinerja para ASN. Ini menunjukkan perhatian yang besar pemerintah terhadap insan-insan ASN yang berdedikasi dan berkontribusi terhadap negara,” tutur Nunuk.

Namun, menurut Nunuk, bentuk pengabdian tidak berhenti pada lamanya seseorang menjalankan tugas. Perubahan teknologi dan tuntutan zaman membuat ASN perlu terus meningkatkan kapasitas serta memberikan kontribusi yang relevan dengan perkembangan di bidang masing-masing.

“Ke depan, salah satu indikator pengabdian juga perlu melihat kontribusi terhadap bidang kerja yang berbasis teknologi, sehingga pengabdian dapat terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Semangat tersebut, lanjut Nunuk, juga penting ketika menghadapi situasi darurat seperti bencana alam. Pascagempa yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), ia memberikan dukungan kepada para pegawai dan insan pendidikan yang tetap menjalankan tugas meski berada dalam kondisi terbatas.

“Musibah adalah sesuatu yang tidak bisa kita minta dan tidak bisa kita hindari. Yang dapat kita lakukan adalah melakukan mitigasi terhadap risiko bencana dan terus hadir membantu mereka yang terdampak,” kata Nunuk.

Kemendikdasmen sendiri memiliki pengalaman dalam memberikan pendampingan kepada wilayah yang terdampak bencana. Selain dukungan terhadap satuan pendidikan, pendampingan juga dilakukan melalui trauma healing bagi guru serta pembekalan agar pendidik mampu membantu murid memulihkan kondisi psikologis setelah mengalami bencana.

“Kami sudah berpengalaman menangani daerah-daerah yang terkena musibah, termasuk memberikan trauma healing kepada guru dan pembekalan agar guru dapat membantu anak-anak segera bangkit dan terhindar dari trauma,” jelasnya.

Nunuk menambahkan, semangat pengabdian harus tetap terjaga meskipun berbagai keterbatasan muncul di lapangan. Dalam konteks pendidikan saat ini, kemerdekaan bagi guru juga berarti memiliki ruang untuk mengembangkan diri, berkreasi, serta menyampaikan gagasan demi kemajuan pembelajaran.

“Kemerdekaan bagi guru pada zaman sekarang adalah merdeka untuk berekspresi, mengembangkan kompetensi, serta menyampaikan ide dan gagasan. Saatnya guru memerdekakan pikiran dan dirinya untuk terus meningkatkan kompetensi dan mengabdi kepada murid,” tuturnya.

Dua Dekade Mengabdi, Terus Berikan Manfaat

Senada dengan Nunuk, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, yang menerima Satyalancana Karya Satya atas pengabdian selama 20 tahun, memandang penghargaan tersebut sebagai bentuk keberkahan sekaligus pengingat untuk terus memberikan manfaat.

“Bisa bertahan dan mengabdi selama 20 tahun tentu menjadi sebuah keberkahan. Mudah-mudahan ke depan kami tetap dapat memberikan kontribusi, manfaat, dan inovasi bagi bangsa Indonesia, khususnya untuk mendorong Indonesia maju,” ujar Yudhistira.

Ia menilai tantangan yang dihadapi sektor pendidikan saat ini semakin beragam. Karena itu, ASN dituntut memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan beradaptasi, termasuk ketika harus merespons kondisi luar biasa seperti bencana alam.

Bagi Yudhistira, makna kemerdekaan juga tidak berhenti pada seremoni tahunan. Nilai kemerdekaan perlu diwujudkan melalui tindakan dan kontribusi yang dirasakan masyarakat.

“Makna kemerdekaan tidak hanya kita rasakan pada saat memperingati hari kemerdekaan. Kemerdekaan harus terus membara dalam kehidupan masyarakat. Sebagai ASN, kami memiliki tanggung jawab untuk mendukung pemerintah dan hadir memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button