Pendidikan

Lewat Program PKW Santri Tunarungu dan Tunawicara Rintis Usaha Batik melalui Pendidikan Kecakapan Wirausaha

Jepara, Jawa Tengah, 21 Mei 2026 – Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun usaha mandiri. Melalui pelatihan membatik yang difasilitasi Direktorat Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), para peserta didorong untuk menciptakan produk berbasis budaya lokal, termasuk peserta berkebutuhan khusus dari Jepara, Jawa Tengah.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Ajibatin Ni’mah atau Mbak Aik, santri tunarungu dan tunawicara alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara. Di tengah keterbatasan komunikasi, ia tetap bersemangat mengikuti pelatihan membatik PKW 2025 yang berlangsung sejak Mei hingga Juni 2025.

Pendamping pelatihan, Muhammad Zainal Abidin, menjelaskan bahwa Mbak Aik sebenarnya telah mengenal seni membatik sejak masih sekolah. Melalui program PKW, kemampuan tersebut kemudian diasah lebih mendalam agar dapat menjadi bekal usaha di masa depan.

Abidin mengatakan proses pembelajaran dilakukan menggunakan bahasa isyarat dengan pendampingan khusus agar komunikasi selama pelatihan berjalan lancar. Menurutnya, setelah program selesai, peserta juga tetap memperoleh pendampingan lanjutan hingga Maret 2026 untuk membantu pengembangan usaha secara mandiri.

Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, mengapresiasi semangat dan tekad Mbak Aik untuk menjadi wirausaha. Ia menegaskan bahwa model pembelajaran dalam program PKW dirancang secara inklusif agar peserta didik berkebutuhan khusus tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi diri.

Saat ini, Mbak Aik masih aktif menimba ilmu di pondok pesantren sambil terus menekuni keterampilan membatik di sela kegiatan belajar agama. Bersama tim pendamping, hasil karya batiknya mulai dipasarkan secara daring melalui toko digital bernama “Santui Jepara”, singkatan dari Santri Tuli.

Menurut Abidin, manfaat program PKW tidak hanya terletak pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada tumbuhnya rasa percaya diri peserta disabilitas agar mampu berkarya dan mandiri secara ekonomi.

Ia berharap ke depan semakin banyak pelatihan yang dirancang khusus untuk penyandang disabilitas sehingga mereka memperoleh dukungan dan pendampingan yang lebih optimal dalam membangun usaha.

Kisah serupa juga datang dari Tsabita Durratul Hikmah, alumni SMKN 2 Jepara yang turut mengikuti pelatihan PKW 2025. Berbekal pengalaman belajar seni batik di sekolah, Tsabita bersama rekannya mulai merintis usaha kelompok bernama Batik Catur Wastawa.

Produk batik yang mereka hasilkan kini mulai dipasarkan secara daring meski masih dalam tahap pengembangan produksi dan pemasaran. Proses pembuatan dilakukan di wilayah Sekuro, Jepara, dengan mengangkat motif khas daerah seperti Lung-lungan Jepara yang terinspirasi dari seni ukir tradisional setempat.

Tsabita mengaku pelatihan PKW memberinya pemahaman lebih luas mengenai teknik membatik, pemilihan bahan, hingga proses produksi secara menyeluruh.

Sementara itu, Instruktur PKW Dekranasda Kabupaten Jepara, Titik Susanti, menjelaskan bahwa pelatihan tahun 2025 diikuti 15 peserta dari berbagai sekolah dan daerah, termasuk peserta disabilitas. Kegiatan berlangsung menggunakan metode blended learning selama 32 hari dengan total 250 jam pembelajaran.

Menurut Titik, setiap peserta didorong untuk mengangkat kekayaan budaya lokal dalam desain batik mereka. Beragam motif khas daerah pun muncul, mulai dari ukiran Jepara, terumbu karang, ikan, kura-kura, hingga panorama pesisir Bandengan.

Ia menilai kemampuan membatik para peserta sudah cukup baik. Namun, tantangan terbesar saat ini masih berada pada aspek pemasaran dan pengembangan usaha.

Karena itu, ia berharap terdapat program lanjutan yang fokus pada penguatan kemampuan pemasaran, manajemen usaha, dan strategi pengembangan produk agar usaha peserta dapat berkembang lebih luas.

Pada tahun 2026, program PKW di Jepara direncanakan kembali berjalan dengan jumlah peserta yang meningkat menjadi 30 orang. Program tersebut diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan dan peserta didik berkebutuhan khusus, untuk memperoleh keterampilan wirausaha.

Melalui program PKW, Kemendikdasmen terus berupaya melahirkan generasi wirausaha muda yang kreatif, mandiri, dan mampu mengangkat potensi budaya lokal, sekaligus memastikan pendidikan keterampilan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button