Mahasiswa Universitas Teuku Umar Ciptakan Sistem IoT untuk Perkuat Mitigasi Banjir di Gampong Gajah Air
Medan, RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) terus mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Salah satu wujudnya terlihat dalam Program Mahasiswa Berdampak yang melahirkan berbagai solusi berbasis teknologi sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Beragam hasil program tersebut dipaparkan dalam Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026 yang berlangsung di Medan, Kamis (2/7). Kegiatan ini menjadi wadah bagi perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman, mempresentasikan inovasi, serta menunjukkan kontribusi nyata dunia akademik dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian berasal dari Universitas Teuku Umar (UTU). Tim mahasiswa dan dosen kampus tersebut mengembangkan Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT) sebagai sistem peringatan dini banjir yang diterapkan di Gampong Gajah Air, Aceh.
Ketua Tim Pelaksana Program Mahasiswa Berdampak UTU, Delfian Masrura, menjelaskan bahwa Gampong Gajah Air dipilih karena hampir setiap tahun mengalami banjir kiriman, termasuk banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025. Kondisi itu mendorong tim untuk merancang teknologi yang mampu memberikan informasi lebih cepat mengenai kenaikan muka air sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk bersiap menghadapi potensi banjir.
“Kami mengembangkan teknologi ini agar masyarakat memperoleh peringatan sejak dini ketika debit air mulai meningkat. Dengan begitu, proses evakuasi maupun langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko bencana dapat ditekan,” jelas Delfian.
Ia menambahkan, pengembangan sistem tersebut tidak semata-mata berorientasi pada inovasi teknologi, tetapi juga lahir dari kebutuhan masyarakat yang selama ini hidup di kawasan rawan banjir.
Perangkat yang dikembangkan memanfaatkan sensor ketinggian air yang terintegrasi dengan panel surya sehingga dapat beroperasi tanpa henti selama 24 jam. Ketika permukaan air mencapai batas tertentu, sistem akan secara otomatis mengaktifkan alarm sekaligus mengirimkan informasi ke aplikasi berbasis IoT. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat memantau kondisi sungai secara langsung (real time) dan mengambil langkah antisipasi sebelum banjir terjadi.
Atas keberhasilan tersebut, tim Universitas Teuku Umar meraih penghargaan Golden Winner pada kategori Produk Hasil Pemberdayaan Terbaik. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas kemampuan tim dalam memadukan inovasi teknologi dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat guna mendukung upaya mitigasi bencana yang berkelanjutan.
Kontribusi tim UTU tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Selama sekitar satu bulan pelaksanaan program, mereka juga melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat, mulai dari pemetaan kawasan rawan banjir, penyusunan jalur evakuasi, normalisasi aliran sungai, penanaman pohon di bantaran sungai, edukasi pengelolaan sampah, hingga pendampingan psikososial bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup, serta berbagai mitra lainnya agar upaya mitigasi dapat berjalan secara terpadu.
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UTU, Rio Amin Kantarigan, mengaku program tersebut memberikan pengalaman yang jauh melampaui proses pembelajaran di ruang kuliah. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menciptakan inovasi, tetapi juga belajar memahami kondisi masyarakat serta merancang solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Program ini membuat kami memahami bahwa teknologi yang bermanfaat harus berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Selain mengembangkan inovasi, kami juga belajar membangun komunikasi, bekerja sama, dan mencari solusi bersama warga,” ujar Rio.
Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak di Gampong Gajah Air menjadi contoh bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang memberikan manfaat nyata. Tidak hanya menghadirkan teknologi untuk mendukung mitigasi banjir, program ini juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana secara berkelanjutan.





