Pendidikan

Main Raya Anak Nusantara Tunjukkan Permainan Tradisional dan Sains sebagai Media Pembelajaran Bermakna

Kepulauan Riau, RuangVeritas.com – Permainan tradisional kembali menunjukkan perannya sebagai sarana belajar yang efektif dalam kegiatan Main Raya Anak Nusantara, bagian dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Melalui kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (Direktorat PAUD), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), anak-anak diajak memperoleh pengalaman belajar secara langsung melalui aktivitas bermain yang selaras dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

Suasana riang tampak di setiap sudut arena ketika anak-anak mencoba beragam permainan tradisional, seperti engklek, congklak, gasing, hingga kegiatan eksplorasi alam. Aktivitas tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi media yang mendorong anak mengembangkan kemampuan motorik, berpikir logis, berkomunikasi, bekerja sama, mengelola emosi, serta menumbuhkan kreativitas melalui pengalaman nyata.

Guru POS PAUD Putri Payung Tanjungpinang, Yuli, menjelaskan bahwa permainan tradisional telah menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari di satuan pendidikannya. Salah satu contoh adalah permainan engklek yang dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara bersamaan.

“Kami di sini anak-anak, kita melatih motoriknya terutama kan. Kita kan kelompok usia beda-beda. Kalau di kelompok kami kebanyakan anak yang usia 3–4 dan 4–5. Jadi kami motorik halusnya kami ajarkan juga di permainan engklek, anak-anak kan secara langsung motorik dan kognitifnya juga bermain, sosial emosionalnya juga bermain. Mereka kan sabar menunggu giliran. Terus kalau kognitifnya mereka itu tahu berapa kotak yang akan mereka lompatin. Kalau motoriknya mereka melompat,” ujar Yuli, Kamis (23/7).

Menurutnya, manfaat serupa juga diperoleh melalui permainan lain seperti congklak maupun aktivitas melompat sambil berhitung. Melalui permainan tersebut, anak-anak belajar mengenal angka, melatih kesabaran, memperkuat kemampuan berbahasa, sekaligus membangun interaksi sosial dengan teman sebaya.

“Anak melompat sambil berhitung. Di situ sudah bermain kognitifnya, sosial emosionalnya mereka bersama-sama bermain, bahasa juga bermain di sana. Sekarang bermain congkak, itu berhitung berarti kan, berhitung dan kesabaran mereka,” tambahnya.

Konsep belajar melalui pengalaman juga tampak pada wahana Eksplorasi Alam yang mengangkat kekayaan ekosistem laut Kepulauan Riau. Kepala TK Negeri Pembina 2 Kota Tanjungpinang, Indarti, mengatakan bahwa tema tersebut dipilih agar anak-anak lebih mengenal lingkungan tempat tinggal mereka melalui kegiatan yang menyenangkan.

“Karena di Tanjungpinang ini adalah kepulauan, jadi kami mengambil tema tentang lautan. Di situ insya Allah anak-anak akan belajar tentang eksplorasi alam yang di dalamnya itu ada bermacam-macam biota laut, seperti ikan, kepiting, gonggong, kerang, siput, dan lain sebagainya,” jelas Indarti.

Ia menuturkan, pembelajaran tidak berhenti pada tahap mengenal objek. Anak-anak didorong untuk mengamati, bertanya, menemukan informasi, kemudian menyampaikan kembali hasil pengamatannya kepada guru, teman, maupun orang tua. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam mengembangkan kemampuan bernalar kritis, literasi, dan keberanian berkomunikasi sejak usia dini.

“Di dalam pembelajaran perlu adanya bernalar kritis, anak-anak harus bisa belajar mengeksplorasi. Dia menemukan sesuatu dan dia bisa menceritakan kepada teman-temannya, dia bisa menceritakan dengan orang tuanya. Eksplorasi atau bernalar kritis itu sangat-sangat penting sekali, karena di situ anak belajar berimajinasi, anak belajar bercerita, anak belajar berbicara atau literasi,” ungkapnya.

Semangat pendidikan yang inklusif juga tercermin melalui permainan congklak yang diikuti anak-anak berkebutuhan khusus. Guru SLB Negeri 2 Tanjungpinang, Sella Melinda, menjelaskan bahwa permainan tersebut mampu menjadi sarana untuk melatih kemampuan berhitung sekaligus memperkuat interaksi sosial peserta didik.

“Kami di mana mereka bermain congklak di sini. Dalam pembelajaran kami bisa untuk anak-anak biasa, terutama kami bisa berhitung, dan juga bagi anak-anak yang bergangguan sosial, jadi bisa terbantu juga dengan permainan ini. Jadi permainan ini saling keterkaitan, saling membantu satu sama lain,” tutur Sella.

Pada kesempatan yang sama, Sella juga memberikan semangat kepada seluruh anak Indonesia, khususnya anak-anak penyandang disabilitas, agar terus percaya diri dalam belajar dan mengejar cita-cita.

“Buat teman-teman anak-anak disabilitas, saya sebagai guru, kalian terus semangat, terus belajar, capailah cita-cita kalian,” pesannya.

Pelaksanaan Main Raya Anak Nusantara memperlihatkan bahwa proses belajar yang efektif dapat tumbuh melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak. Permainan tradisional dan eksplorasi lingkungan menjadi media yang tidak hanya menjaga kelestarian budaya lokal, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kepedulian terhadap lingkungan. Pendekatan inilah yang menjadi bagian penting dari implementasi Pembelajaran Mendalam yang terus diperkuat Kemendikdasmen untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan anak.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button