Menkeu Optimistis Fundamental Ekonomi Nasional Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global
Yogyakarta – Menteri Keuangan Republik Indonesia menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang kuat dan stabil meskipun situasi ekonomi global terus diwarnai ketidakpastian. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Jogja Financial Festival (JFF) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.
Ajang yang digelar melalui sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu tidak hanya menjadi sarana peningkatan literasi keuangan, tetapi juga forum diskusi terkait strategi menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
Dalam pemaparannya, Menteri Keuangan menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Pada triwulan I tahun 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen yang didukung oleh konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, serta belanja pemerintah yang semakin akseleratif.
Menurut Menkeu, penggerak ekonomi nasional kini semakin seimbang karena ditopang oleh peran pemerintah dan sektor swasta secara bersamaan.
“Sekarang mesin ekonomi kita sudah mulai bergerak dua-duanya, mesin pemerintah dan mesin sektor swasta. Dan ini akan kita jalankan terus ke depan,” ujar Menkeu.
Ia menambahkan, pemerintah tetap menjaga pengelolaan APBN secara hati-hati dan terukur agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga tanpa mengabaikan kesehatan fiskal negara. Hingga April 2026, defisit APBN disebut masih berada dalam batas aman, yakni sebesar 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Defisit tidak bertambah, tetapi pertumbuhan ekonomi kita lebih cepat dari desain. Jadi kita bisa manage anggaran lebih efisien dan memastikan sektor swasta lebih hidup lagi,” jelasnya.
Selain menjaga stabilitas fiskal, pemerintah juga terus memperkuat iklim investasi melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Berbagai hambatan investasi disebut terus diselesaikan melalui pembentukan satuan tugas khusus percepatan investasi.
“Semua pelaku bisnis boleh melaporkan kendalanya ke satgas, dan setiap minggu kita adakan sidang untuk membereskannya,” kata Menkeu.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan juga menyoroti tingginya minat investor global terhadap instrumen keuangan Indonesia. Di tengah fluktuasi pasar internasional, penerbitan global bond Indonesia tetap memperoleh respons positif dari investor.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa pasar internasional masih menaruh kepercayaan besar terhadap kebijakan fiskal dan prospek ekonomi Indonesia.
“Global bond kita tetap diminati karena investor melihat fondasi ekonomi Indonesia kuat dan kredibel,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Menkeu, akan terus memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menutup paparannya, Menkeu menekankan bahwa optimisme pemerintah terhadap ekonomi nasional bukan sekadar keyakinan tanpa dasar, melainkan hasil dari perhitungan dan strategi kebijakan yang matang.
“Itu bukan over optimistis, itu calculated move. Kita hitung langkah-langkah kita seperti apa, kita lihat dampaknya, kira-kira memang akan ke sana,” tutup Menkeu.





