MPLS Ramah di SMPN 15 Kendari Hadirkan Pengalaman Positif bagi Murid Baru Tanpa Perpeloncoan

Kendari, RuangVeritas.com – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) kini semakin menegaskan perubahan budaya di sekolah. Praktik senioritas maupun perpeloncoan yang dahulu kerap membayangi hari-hari pertama masuk sekolah perlahan ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan yang lebih humanis, edukatif, serta berorientasi pada pembentukan karakter. Gambaran tersebut terlihat di SMP Negeri 15 Kendari, Sulawesi Tenggara, yang menyelenggarakan MPLS Ramah dengan berbagai aktivitas interaktif, permainan edukatif, dan penguatan nilai-nilai karakter bagi peserta didik baru.
Komitmen tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat menghadiri penutupan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari, Jumat (17/7). Dalam kesempatan itu, ia memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sesuai semangat MPLS Ramah, yakni menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan sejak hari pertama murid memasuki sekolah.
Di hadapan ratusan peserta didik baru, Wamendikdasmen menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan. Ia mengingatkan pentingnya membangun budaya saling menghargai sehingga sekolah benar-benar menjadi tempat yang membuat setiap anak merasa diterima. “Tidak boleh ada pembulian, tidak boleh ada kekerasan. Jadikan sekolah sebagai rumah kedua buat kita semua,” ujar Fajar.
Suasana kegiatan berlangsung hangat ketika Wamendikdasmen mengajak para siswa berdialog secara langsung sekaligus menyanyikan lagu Rukun Sama Teman karya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Ia juga mengulas kembali sejumlah materi yang telah dipelajari peserta didik selama lima hari pelaksanaan MPLS.
Dalam sesi dialog, para murid mengungkapkan bahwa materi mengenai etika bermedia sosial menjadi salah satu yang paling membekas. Mereka memahami pentingnya menggunakan media digital secara bertanggung jawab, termasuk menghargai karya orang lain dengan menghindari tindakan plagiarisme serta tidak menyebarkan komentar yang bersifat kasar atau merendahkan orang lain di ruang digital.
Selain memperkuat literasi digital, Fajar juga mengajak peserta didik menerapkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Menurutnya, rutinitas sederhana tersebut menjadi pondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari juga menghadirkan pendekatan yang berbeda. Keterbatasan ruang belajar tidak menjadi hambatan, melainkan mendorong sekolah memanfaatkan area luar kelas sebagai ruang pembelajaran. Beragam permainan edukatif dan aktivitas eksplorasi lingkungan sekolah dirancang agar peserta didik dapat mengenal sekolah secara lebih menyenangkan.
Ketua Panitia MPLS Ramah SMP Negeri 15 Kendari, Yudi Eritman, menjelaskan bahwa kegiatan dikemas melalui tema Aku dan Sekolahku serta Aku dan Lingkunganku. Dalam pelaksanaannya, peserta didik diajak berkeliling sekolah, menyelesaikan berbagai tantangan di setiap pos, berdiskusi, sekaligus membangun kerja sama melalui permainan kelompok. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat proses adaptasi berlangsung lebih efektif karena anak-anak belajar sambil bermain. “Anak-anak lebih senang karena mereka belajar sambil bermain. Mereka mengenal lingkungan sekolah dengan cara yang menyenangkan,” ungkap Yudi.
Kesan positif juga dirasakan oleh salah seorang murid baru, Natan Raditya. Sebelum memasuki jenjang SMP, ia sempat khawatir akan mengalami perpeloncoan atau perlakuan kurang menyenangkan dari kakak kelas. Namun, seluruh kekhawatiran tersebut hilang setelah mengikuti MPLS Ramah yang dipenuhi aktivitas edukatif dan suasana yang bersahabat.
“Awalnya saya takut dibully atau diperlakukan tidak baik. Ternyata, selama MPLS tidak ada sama sekali, sangat seru karena banyak permainan, materi dari narasumber, dan guru-gurunya ramah,” ujar Natan.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 15 Kendari menjadi contoh bagaimana masa pengenalan sekolah dapat berlangsung tanpa intimidasi maupun senioritas. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi momentum bagi peserta didik baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, sekaligus memperkuat karakter, kolaborasi, dan budaya saling menghormati sejak awal perjalanan pendidikan mereka.




