Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan
RuangVeritas.com – Bedah buku Menulis Tanpa Menangis yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemendikdasmen, tidak hanya menjadi forum untuk mengenalkan isi buku. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah bagi para guru untuk bertukar pengalaman serta menemukan berbagai pendekatan yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar di kelas.
Pengalaman para pendidik menunjukkan bahwa hambatan membaca dan menulis pada peserta didik dapat ditangani melalui penyesuaian sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yakni pembelajaran yang berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Bagi peserta didik, kegiatan menulis tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan membentuk huruf dan kata di atas kertas. Proses tersebut melibatkan kemampuan memahami informasi, mempertahankan konsentrasi, mengatur koordinasi gerak, serta membangun rasa percaya diri. Karena itu, pengembangan kemampuan membaca dan menulis perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik serta kebutuhan setiap peserta didik.
Salah satu pengalaman tersebut disampaikan Redha, guru kelas III di sebuah sekolah dasar negeri di Depok. Setelah membaca buku Menulis Tanpa Menangis, ia mulai mengubah cara pandangnya dalam melihat peserta didik yang mengalami hambatan menulis. Alih-alih hanya meminta anak meningkatkan usaha atau memberikan motivasi, ia berupaya mencari penyebab kesulitan dan mengubah strategi pembelajaran sesuai kebutuhan murid.
Redha mencontohkan pengalaman Lutfy, seorang murid yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menulis dan belum mampu memberikan jarak yang konsisten antar kata. Untuk membantunya, Lutfy ditempatkan di bagian depan kelas. Bahan yang perlu disalin juga diletakkan lebih dekat agar ia tidak terlalu sering mengalihkan pandangan antara papan tulis dan buku.
Guru juga menggunakan stik es krim atau ruas jari sebagai alat bantu untuk menentukan jarak antar kata. Selain itu, waktu pengerjaan tugas diberikan secara fleksibel sesuai kemampuan Lutfy.
Penyesuaian tersebut memberikan hasil yang positif. Sebelumnya, Lutfy dapat menangis hingga tiga kali dalam sehari ketika harus menyelesaikan tugas menulis dari tiga mata pelajaran. Setelah mendapatkan pendampingan yang sesuai, ia tidak lagi menangis ketika mengerjakan tugas menulis. Ia bahkan mampu menyelesaikan setidaknya separuh catatan untuk setiap mata pelajaran, sedangkan bagian yang belum selesai dapat diteruskan di rumah.
Kasus lain ditemukan pada Una yang kerap mengeluhkan kelelahan ketika menulis. Setelah diamati, kondisi tersebut berkaitan dengan cara Una menggenggam dan memberikan tekanan yang terlalu kuat pada pensil sehingga tulisannya bahkan menembus beberapa halaman.
Untuk mengatasinya, Una ditempatkan di bagian depan kelas dan pensilnya dibuat lebih mudah digenggam dengan bantuan kain perca atau pencil grip. Setelah sekitar satu bulan, kemampuan Una dalam menyelesaikan tugas menulis mengalami perkembangan. Tulisan yang sebelumnya dapat menembus hingga enam halaman berkurang menjadi sekitar tiga halaman.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mengembangkan kemampuan membaca dan menulis tidak selalu berarti menambah jumlah latihan yang diberikan kepada anak. Langkah pertama yang lebih penting adalah memahami kondisi peserta didik, kemudian menyesuaikan pengalaman belajar agar sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kerangka Pembelajaran Mendalam yang mendorong peserta didik untuk mengalami tiga proses penting, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh selama pembelajaran.
Kegiatan bedah buku ini juga mendapat sambutan positif dari guru dan orang tua yang hadir. Wahyu Rinaningsih, guru kelas di SLB Negeri 10 Jakarta, menilai isi buku Menulis Tanpa Menangis sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik kelas I dan II yang sedang berada pada tahap awal belajar menulis.
Menurut Wahyu, pengalaman mengikuti bedah buku memberikan wawasan baru yang dapat memperkaya cara guru menangani kesulitan menulis pada peserta didik. Berbagai contoh dan strategi dalam buku tersebut dinilai dapat diterapkan untuk membantu anak yang baru memasuki dunia sekolah.
Hal serupa disampaikan Nia, guru SD Negeri Katulampa 5, Bogor. Ia menilai buku tersebut sesuai dengan kebutuhan guru sekolah dasar, khususnya dalam menghadapi beragam persoalan yang berkaitan dengan kemampuan menulis. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, Nia berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada guru-guru lain di sekolahnya.
Menurut Nia, buku tersebut memberikan berbagai alternatif pendekatan untuk menghadapi anak yang enggan menulis maupun peserta didik yang memiliki hambatan tertentu dalam proses menulis.
Pada akhirnya, penguatan literasi tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak tulisan yang mampu dihasilkan peserta didik. Hal yang lebih penting adalah bagaimana anak menjalani proses belajar tersebut. Ketika guru mampu mengenali kesulitan peserta didik dan bersedia menyesuaikan metode pembelajaran, aktivitas membaca dan menulis yang sebelumnya terasa melelahkan dapat berkembang menjadi pengalaman belajar yang lebih sadar, bermakna, dan menyenangkan.





