Pertamina Pastikan Kesiapan Infrastruktur Energi di Nusa Tenggara Timur
Jakarta, RuangVeritas.com – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan melakukan kunjungan langsung ke sejumlah fasilitas operasional Pertamina di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (12/6/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sistem distribusi serta menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Iriawan di kawasan Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara. Dalam agenda tersebut, sejumlah fasilitas strategis menjadi titik pemantauan, di antaranya SPBU Timor Raya Oesapa, Aviation Fuel Terminal (AFT) El Tari, serta Integrated Terminal (IT) Tenau yang menjadi pusat pengelolaan distribusi energi untuk kawasan NTT dan sekitarnya.
Di SPBU Timor Raya Oesapa, Kupang, Iriawan melihat langsung kesiapan layanan kepada masyarakat sekaligus berdiskusi dengan warga mengenai kondisi pelayanan dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Setelah itu, kunjungan berlanjut ke AFT El Tari untuk memastikan pasokan avtur tetap berjalan optimal guna mendukung kebutuhan transportasi udara di NTT.
Iriawan menyampaikan bahwa stabilitas distribusi energi, termasuk bahan bakar pesawat, memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan melalui kegiatan Management Walkthrough (MWT) di Integrated Terminal Tenau. Fasilitas yang telah beroperasi sejak 1968 tersebut menjadi salah satu pusat penting dalam penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran energi di kawasan timur Indonesia.
Dalam peninjauan itu, Iriawan mengecek berbagai fasilitas pendukung operasional, mulai dari pusat kendali, tangki penyimpanan, hingga area dermaga yang digunakan untuk aktivitas bongkar muat BBM dan LPG.
Ia menegaskan bahwa keberlangsungan pasokan energi membutuhkan pengelolaan distribusi yang kuat dan kesiapan infrastruktur yang terjaga. Menurutnya, berbagai potensi kendala harus diidentifikasi lebih awal agar tidak menghambat pemenuhan kebutuhan energi masyarakat.
“Keandalan pasokan merupakan kunci utama dalam memastikan pelayanan energi tetap berjalan. Seluruh bagian dari rantai distribusi harus bekerja secara maksimal agar tidak terjadi gangguan pada titik pelayanan masyarakat,” kata Iriawan.
Ia menambahkan, gangguan dalam proses distribusi dapat memberikan dampak terhadap ketersediaan BBM maupun LPG di tingkat SPBU dan lembaga penyalur lainnya, sehingga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi warga.
Selain memastikan aspek distribusi, Iriawan juga memberikan perhatian terhadap penerapan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). Ia meminta seluruh pekerja Pertamina terus menjaga kepatuhan terhadap Corporate Life Saving Rules (CLSR) serta membangun kebiasaan kerja yang mengutamakan keselamatan.
“Budaya keselamatan harus melekat dalam setiap aktivitas operasional. Setiap pekerja memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan jika menemukan kondisi yang berisiko,” ujarnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa Integrated Terminal Tenau memiliki fungsi vital sebagai salah satu jalur utama distribusi energi di NTT, termasuk untuk wilayah kepulauan dan kawasan perbatasan.
Saat ini, IT Tenau mendukung penyaluran energi kepada 29 SPBU reguler, 16 penyalur BBM Satu Harga, 16 Pertashop, serta satu SPBU Nelayan. Operasional tersebut diperkuat dengan kapasitas penyimpanan BBM sebesar 33,5 ribu kiloliter dan dua tangki LPG berbentuk spherical dengan kapasitas masing-masing mencapai 500 metrik ton.
“Integrated Terminal Tenau menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan energi masyarakat NTT. Keberadaan terminal ini mendukung berbagai sektor, mulai dari ekonomi daerah, konektivitas antarwilayah, perikanan, pariwisata, hingga aktivitas di kawasan perbatasan negara,” jelas Baron.
Menurutnya, optimalisasi fasilitas tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memperluas akses energi hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Sebagai salah satu terminal bahan bakar utama di wilayah Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus), IT Tenau memiliki cakupan distribusi yang luas. Fasilitas ini menopang kebutuhan energi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Sabu Raijua, Rote Ndao, Belu, Malaka, hingga mendukung kebutuhan energi di wilayah Timor Leste.





