Sebanyak 50 SMK di DIY Perkuat Kolaborasi dengan Industri untuk Siapkan Lulusan Siap Kerja
RuangVeritas.com – Upaya meningkatkan kesesuaian pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja terus dilakukan melalui penguatan kemitraan antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sektor industri. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Ditjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, 50 SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta sejumlah perusahaan mitra pada Rabu (19/8) di Sleman, DIY.
PKS tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, bersama PT Handal Yesindo Sejahtera dan PT Agate International. Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, menjalin kerja sama dengan PT Trakindo Utama dan PT Erajaya Swasembada. Adapun 50 SMK di DIY diwakili oleh kepala sekolah atau perwakilan masing-masing dalam proses penandatanganan kerja sama dengan industri.
Kemitraan ini tidak hanya berfokus pada pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL). Ruang lingkup kerja sama juga mencakup penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, keterlibatan tenaga profesional dalam pembelajaran, serta penyelenggaraan proyek berbasis industri. Dengan demikian, murid SMK diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata dan sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah penting untuk merespons perubahan dunia industri yang berlangsung cepat. Perkembangan tersebut juga menuntut para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan dan mengikuti perubahan kebutuhan industri.
Menurut Tatang, kolaborasi antara SMK dan industri diharapkan mampu memperkuat mutu pendidikan vokasi dengan menghadirkan pengalaman belajar yang relevan. Selain meningkatkan kompetensi peserta didik, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Ia berharap kesepakatan yang telah dibuat dapat segera diwujudkan dalam berbagai program konkret. Bentuknya antara lain penyelarasan kurikulum, menghadirkan praktisi industri ke dalam pembelajaran, program magang bagi murid dan guru, pembentukan kelas industri, hingga membuka peluang rekrutmen bagi lulusan SMK.
Tatang menekankan bahwa kerja sama tidak boleh hanya berhenti pada dokumen formal. Setiap program yang dijalankan harus memberikan manfaat nyata, terutama bagi peserta didik. Karena itu, seluruh pihak yang terlibat perlu memastikan bahwa kolaborasi tersebut benar-benar menghasilkan dampak bagi peningkatan kompetensi murid.
Selain kemampuan teknis atau hard skills, lulusan SMK juga perlu memiliki kemampuan nonteknis yang mendukung kesiapan mereka menghadapi lingkungan kerja. Kemampuan berpikir kritis dan analitis, menyelesaikan persoalan, beradaptasi, bekerja sama, serta memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan. Menurutnya, hubungan antara SMK dan industri harus semakin erat karena pendidikan vokasi pada dasarnya memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan sektor industri.
Perubahan teknologi dan percepatan digitalisasi turut memengaruhi jenis kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Oleh sebab itu, kurikulum SMK harus mampu beradaptasi dan disusun dengan melibatkan masukan dari industri agar pembelajaran yang diberikan tetap relevan.
Arie menilai kemitraan antara SMK dan industri ke depan perlu diarahkan pada program yang memberikan pengalaman langsung kepada murid. Salah satunya dengan membuat pelaksanaan PKL yang lebih terstruktur serta memberikan kesempatan kepada industri untuk menyiapkan proyek yang dapat dikerjakan oleh peserta didik.
Dengan penguatan kolaborasi tersebut, pendidikan SMK diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Kemitraan yang terencana antara sekolah dan industri tidak hanya membantu meningkatkan keterampilan teknis murid, tetapi juga membentuk lulusan yang adaptif, kompeten, dan lebih siap memasuki dunia profesional.





