Pendidikan

Wamendikdasmen Dorong Guru Menjadi Perancang Pengalaman Belajar Lewat Pendekatan Deep Learning

Garut, RuangVeritas.com – Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan fasilitas belajar, tetapi juga pada kemampuan guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat menghadiri kegiatan Penguatan Kompetensi Guru bertema Deep Learning dan Transformasi Pendidikan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/6).

Dalam kesempatan itu, Fajar mengajak para guru untuk mengambil peran lebih dari sekadar penyampai materi. Menurutnya, guru perlu menjadi perancang pengalaman belajar yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan peserta didik sehingga proses belajar menjadi lebih relevan dan berkesan.

Ia menilai penguatan kompetensi guru menjadi langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan yang masih ditemui di sejumlah daerah. Di Kabupaten Garut, misalnya, rata-rata lama sekolah masih berada di bawah angka nasional dan persoalan putus sekolah masih memerlukan perhatian bersama melalui kerja sama berbagai pihak.

Fajar menjelaskan bahwa konsep Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam bukanlah kurikulum baru yang menggantikan sistem yang ada. Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada bagaimana peserta didik memahami suatu pengetahuan secara utuh, menggunakannya dalam praktik, lalu melakukan refleksi terhadap apa yang telah dipelajari.

Menurutnya, keberhasilan pembelajaran tidak diukur dari banyaknya materi yang berhasil disampaikan guru, melainkan sejauh mana peserta didik mampu memahami dan memaknai materi tersebut. Ia menggambarkan proses belajar seperti makanan yang harus dikunyah dan dicerna terlebih dahulu agar dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Begitu pula dengan pengetahuan, yang perlu diproses oleh peserta didik agar benar-benar menjadi bagian dari pemahamannya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mengubah pola pembelajaran yang masih didominasi komunikasi satu arah. Guru didorong untuk menciptakan ruang yang memungkinkan peserta didik aktif bertanya, berdiskusi, mengeksplorasi ide, dan membangun pemahaman mereka sendiri.

“Guru harus menjadi arsitek pembelajaran, bukan sekadar operator pembelajaran. Seorang arsitek mampu merancang dan menghadirkan pengalaman belajar yang kreatif, inovatif, dan bermakna sesuai kebutuhan peserta didik,” ujar Fajar.

Lebih lanjut, ia mendorong para pendidik untuk memanfaatkan potensi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Kekayaan budaya lokal, sejarah daerah, hingga berbagai potensi yang dimiliki masyarakat dapat menjadi media pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga materi pelajaran terasa lebih nyata dan mudah dipahami.

Fajar juga menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di pundak sekolah. Keberhasilan pendidikan membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagaimana konsep Tri Pusat Pendidikan yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, keselarasan visi antara guru dan orang tua sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga akan membantu membangun lingkungan belajar yang konsisten. Dengan dukungan yang sejalan dari rumah maupun sekolah, peserta didik memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dalam aspek karakter maupun kemampuan akademik.

Melalui penerapan Pembelajaran Mendalam yang dilakukan secara berkelanjutan serta penguatan kapasitas guru, pemerintah berharap satuan pendidikan di Kabupaten Garut dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan literasi dan numerasi peserta didik sekaligus membentuk generasi yang berkarakter, berpikir kritis, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button