Pendidikan

Wamendiktisaintek Ajak Kampus di Sulawesi Tengah Bangun Konsorsium Perguruan Tinggi Siaga Bencana

Palu, RuangVeritas.com – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat risiko bencana geologi cukup tinggi. Letaknya yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) menjadikan berbagai wilayah di Tanah Air memiliki potensi gempa dan bencana turunan lainnya. Situasi ini membutuhkan langkah penanganan yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mengedepankan pendekatan berbasis riset, teknologi, dan inovasi.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mitra pemerintah dalam menghasilkan solusi yang dapat diterapkan bagi masyarakat.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Indonesia mengalami ribuan kejadian gempa setiap tahun dengan rata-rata sekitar 6.000 hingga 7.000 kejadian. Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi. Peristiwa gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi pada 2018 lalu menjadi catatan penting, dengan jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 2.200 orang serta nilai kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai Rp13,82 triliun.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa diperlukan sinergi berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk memperkuat upaya mitigasi melalui penelitian, inovasi teknologi, serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi di Sulawesi Tengah untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat melalui pembentukan konsorsium perguruan tinggi tanggap bencana. Dorongan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Konsorsium Tanggap Bencana di Universitas Tadulako, Senin (22/6).

Menurut Fauzan, perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dan melakukan perubahan agar keberadaannya tidak hanya terlihat dari perkembangan institusi, tetapi juga melalui kontribusi nyata yang dirasakan masyarakat.

“Transformasi perguruan tinggi tidak cukup hanya berbicara tentang perubahan bentuk atau fasilitas. Hal yang lebih utama adalah perubahan karakter, pola pikir, dan bagaimana kampus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki potensi besar yang perlu dikonsolidasikan agar tidak berjalan secara terpisah. Berbagai kekuatan kampus, mulai dari kompetensi dosen, mahasiswa, hingga hasil penelitian, perlu digabungkan menjadi satu kekuatan bersama untuk menyelesaikan persoalan pembangunan daerah.

“Sulawesi Tengah memiliki banyak potensi dan sumber daya akademik. Potensi tersebut harus dikumpulkan dan diperkuat agar mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat,” jelasnya.

Fauzan menyebut sejumlah persoalan daerah yang dapat menjadi sasaran kolaborasi antarperguruan tinggi, seperti percepatan penurunan angka stunting, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengurangan tingkat pengangguran, serta penguatan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi harus diwujudkan dalam bentuk program nyata yang mampu memberikan dampak langsung.

“Ketika perguruan tinggi bekerja bersama pemerintah daerah dan sektor industri, berbagai persoalan seperti stunting, pengangguran, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat ditangani secara lebih efektif,” tambahnya.

Lebih lanjut, keberadaan konsorsium perguruan tinggi juga diyakini dapat memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui berbagai kegiatan bersama, seperti riset kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga program pengabdian kepada masyarakat.

Melalui skema tersebut, perguruan tinggi yang telah memiliki kapasitas lebih kuat dapat membantu mendorong perkembangan kampus lain agar tumbuh bersama. Wamendiktisaintek juga memberikan apresiasi atas inisiatif Universitas Tadulako bersama sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Tengah yang menggagas Konsorsium Tanggap Bencana.

Di akhir penyampaiannya, Fauzan mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

Ia berharap kampus dapat menjadi pusat inovasi dan penggerak perubahan melalui kerja sama, penelitian, serta semangat kolaborasi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan bahwa perguruan tinggi harus terus mengambil peran sesuai dengan tanggung jawabnya. Ketika kampus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, maka pendidikan tinggi telah menjalankan fungsi strategisnya bagi kemajuan bangsa.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button