248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB di Jatim Mendapatkan Revitalisasi
RuangVeritas.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. Kedua program tersebut menjadi bagian dari prioritas pemerintah yang ditugaskan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam kegiatan Penguatan Implementasi Program Prioritas dan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Jawa Timur. Ia menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan dibangun di atas empat fondasi utama. Pertama, infrastruktur fisik yang mencakup revitalisasi dan digitalisasi. Kedua, infrastruktur pedagogis melalui peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Ketiga, infrastruktur budaya melalui penguatan karakter peserta didik. Keempat, infrastruktur regulasi yang menjadi landasan penyelenggaraan pendidikan bermutu.
Untuk meningkatkan kelayakan fasilitas pembelajaran, pemerintah menargetkan perbaikan secara bertahap terhadap seluruh satuan pendidikan yang mengalami kerusakan sedang maupun berat. Sepanjang 2025, sebanyak 16.167 satuan pendidikan telah mendapatkan program revitalisasi. Sementara pada 2026, pemerintah menargetkan revitalisasi terhadap 71.744 satuan pendidikan dengan dukungan tambahan anggaran dari APBN.
Program revitalisasi dilaksanakan menggunakan mekanisme swakelola. Menurut Abdul Mu’ti, pola tersebut memberikan sejumlah keuntungan, antara lain mempermudah pelaksanaan, meningkatkan efisiensi karena pengelolaan dilakukan secara langsung, serta memungkinkan pembangunan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap sekolah. Selain itu, keterlibatan masyarakat sekitar dalam pelaksanaan swakelola diharapkan turut memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan di sekitar satuan pendidikan.
Untuk tahun 2026, pemerintah menetapkan sejumlah prioritas penerima revitalisasi, yaitu satuan pendidikan yang terdampak bencana, berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan tingkat kerusakan berat. Mendikdasmen juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengawal program tersebut agar pelaksanaannya tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
“Saya ingin mengajak semua kita untuk mendukung program ini. Jangan ada yang mengganggu program ini untuk kepentingan pribadi,” tegas Abdul Mu’ti.
Selain pembenahan sarana dan prasarana, pemerintah juga menjalankan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk membantu guru menciptakan proses belajar yang lebih menarik, interaktif, dan bermakna. Salah satu bentuk dukungannya berupa penyediaan Interactive Flat Panel (IFP), yang dilengkapi dengan pelatihan bagi guru, bantuan perangkat laptop, serta materi pembelajaran yang disediakan melalui media penyimpanan.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa distribusi IFP akan terus diperluas. Pada 2026, pemerintah menyiapkan tambahan perangkat dengan target setiap satuan pendidikan dapat memperoleh tiga IFP. Bersamaan dengan penyediaan perangkat tersebut, peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi perhatian agar perangkat digital benar-benar mendukung terciptanya pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan di Jawa Timur, terutama melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Menurutnya, manfaat program tersebut telah dirasakan oleh berbagai satuan pendidikan, termasuk sekolah yang berada di wilayah yang membutuhkan dukungan afirmatif.
“Salah satu program nasional yang sangat kami rasakan dampaknya adalah Revitalisasi Satuan Pendidikan. Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh keluarga besar pendidikan di Provinsi Jawa Timur, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Menteri, dan seluruh jajarannya,” ujar Aries.
Khusus di Jawa Timur, program revitalisasi pada 2026 mencakup 248 SMA, 307 SMK, dan 121 SLB. Penerima manfaat tersebut termasuk satuan pendidikan yang berada di wilayah 3T. Data tersebut menunjukkan bahwa program revitalisasi tidak semata-mata berorientasi pada pembenahan bangunan dan fasilitas fisik, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih mendukung proses belajar bagi seluruh warga sekolah.
“Bagi kami, revitalisasi bukan hanya soal memperbaiki gedung atau tembok. Revitalisasi harus menghidupkan kembali semangat sekolah. Gedung boleh baru, tetapi yang jauh lebih penting [adalah] bagaimana di dalam gedung ini lahir pembelajaran yang lebih baik,” pungkas Aries.





