Berita Umum

Gubernur Pramono Dorong Pengolahan Sampah Modern di Pasar Kramat Jati

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi. Salah satu langkah tersebut ditunjukkan saat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau fasilitas pengolahan sampah organik di Pasar Area 7 Pasar Kramat Jati, Senin (11/5).

Dalam kunjungan itu, Pramono menyoroti penerapan teknologi hidrotermal yang dinilai mampu mempercepat proses pengolahan sampah organik secara signifikan. Jika metode konvensional membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 10 hari, teknologi tersebut dapat menyelesaikan proses pengolahan hanya dalam waktu sekitar dua jam.

Teknologi hidrotermal bekerja menggunakan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai limbah organik tanpa pembakaran. Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta dalam memperkuat pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, terutama di pasar tradisional yang setiap hari menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar.

“Teknologi ini mampu mempercepat pengolahan sampah menjadi hanya sekitar dua jam untuk setiap proses. Selain efisien, hasil akhirnya juga memiliki nilai ekonomis,” kata Pramono Anung.

Berdasarkan hasil uji coba selama April 2026, fasilitas tersebut berhasil mengolah sekitar 1.708 kilogram sampah organik. Dari proses itu dihasilkan sekitar 936 liter pupuk cair, dengan efisiensi pengolahan yang diklaim mencapai 80 kali lebih cepat dibanding metode biasa. Selain pupuk cair, proses pengolahan juga menghasilkan residu padat yang masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam dan pupuk organik.

Menurut Pramono, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis inovasi mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular. Ia berharap model pengolahan di Pasar Kramat Jati dapat diterapkan di pasar-pasar lain yang dikelola Perumda Pasar Jaya.

“Ke depan kami ingin sistem ini menjadi contoh bagi pasar lain agar pengelolaan sampah bisa dilakukan lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai salah satu pasar terbesar di Jakarta Timur, Pasar Kramat Jati memiliki lebih dari 1.800 tempat usaha dan memproduksi sekitar enam ton sampah setiap hari. Mayoritas limbah tersebut berupa sampah organik seperti sisa buah, sayuran, daun, dan makanan.

Pemerintah menilai pengolahan sampah langsung di lokasi pasar menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengiriman sampah ke TPST Bantargebang. Selain menekan volume sampah kota, sistem ini juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan pasar yang lebih bersih dan sehat.

Pramono menegaskan bahwa pasar tradisional memiliki posisi strategis dalam mendukung pengurangan sampah perkotaan. Karena itu, pola pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada pengangkutan menuju tempat pembuangan akhir, melainkan juga pengolahan langsung dari sumbernya.

“Pasar harus menjadi ruang publik yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan, bukan hanya pusat aktivitas ekonomi,” katanya.

Peninjauan tersebut juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang mulai dijalankan sejak 10 Mei 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai keberhasilan program pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat, pedagang, pengelola pasar, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Pramono menambahkan, sinergi antara Pemprov DKI Jakarta dan Perumda Pasar Jaya akan terus diperkuat guna memperluas konsep pasar hijau di berbagai wilayah Jakarta. Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap sistem pengelolaan sampah di pasar dapat berjalan lebih efektif sekaligus memberi manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button