Menkeu: APBN Menumbuhkan Perekonomian dan Melindungi Masyarakat
RuangVeritas.com – Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan dan ketidakpastian, Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan bahwa Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas perekonomian nasional melalui penerapan kebijakan fiskal yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadapi tekanan jangka pendek akibat gejolak geopolitik, fluktuasi pasar, serta perubahan suku bunga global, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan ekonomi tanpa mengabaikan kesinambungan fiskal di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Suahasil saat memberikan sambutan penutup (closing remarks) dalam acara Investor Daily Summit 2026 yang berlangsung di Raffles Jakarta, Kamis (8/10).
“Kita harus bisa membuat kebijakan fiskal yang baik. Belanja memang harus tinggi, tetapi masa depan tidak boleh menjadi tergerus bantalan fiskalnya. Peranan dari kebijakan fiskal itu adalah sebagai shock absorber; agent of development, yaitu membiayai prioritas nasional yang produktif; dan menjaga fiscal sustainability,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Suahasil juga menyampaikan bahwa kondisi perekonomian domestik Indonesia masih menunjukkan kinerja yang kuat. Hal ini terlihat dari tren positif arus masuk modal (capital inflow) hingga 7 Oktober 2026, peningkatan pertumbuhan kredit, serta capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) yang secara konsisten berada di atas angka 50. Kondisi tersebut mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap permintaan di pasar domestik.
Ia menjelaskan bahwa arus masuk modal dapat menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Hingga 7 Oktober 2026, arus modal masuk tercatat mencapai Rp171 triliun sejak awal tahun, didukung oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI).
“Aliran modal masuk Indonesia itu adalah indikator seberapa dipercayanya ekonomi Indonesia. Sampai dengan 7 Oktober, ini masih menunjukkan tren positif sebesar Rp171 triliun sepanjang tahun dari 1 Januari sampai dengan 7 Oktober (2026), yang didukung oleh Surat Berharga Negara dan Surat Berharga Bank Indonesia,” tambahnya.
Dari sisi pengelolaan keuangan negara, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 menunjukkan perkembangan sesuai dengan rencana. Pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target APBN. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun, dengan penyerapan anggaran diperkirakan semakin meningkat pada November dan Desember.
Pada periode yang sama, defisit APBN tercatat sebesar Rp319 triliun atau setara dengan 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal tetap diarahkan agar berjalan secara terukur dan terkendali.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Pemerintah akan memperkuat keterpaduan antara kebijakan fiskal dan kebijakan investasi melalui sinergi APBN dengan Danantara. APBN akan diarahkan untuk mendukung pemberian insentif fiskal, menjaga daya beli masyarakat, menyediakan layanan publik, serta membiayai pembangunan infrastruktur dasar dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang produktif.
Sementara itu, Danantara diharapkan berperan sebagai sumber modal strategis untuk mempercepat pelaksanaan proyek-proyek yang memiliki nilai tambah tinggi. Langkah ini ditujukan untuk memperbesar kapasitas perekonomian nasional sekaligus memperkuat potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.
“Kebijakan fiskal dan kebijakan investasi itu adalah dua hal yang akan di-connect. Tadi pagi Pak COO Danantara menyajikan banyak sekali mengenai peran penting dari Danantara. Peran tersebut akan dikombinasikan dengan peran dari kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal nanti akan konsentrasi pada layanan publik, sementara sisi Danantara akan berperan dalam meningkatkan investasi dan meningkatkan kapasitas dari ekonomi kita dengan berbagai macam proyek yang mereka sedang desain,” jelas Suahasil.
Menkeu optimistis bahwa melalui tata kelola yang terukur dan dapat dipercaya, APBN akan terus memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta memastikan manfaat penerimaan negara dapat dirasakan secara maksimal oleh seluruh rakyat Indonesia.
Selain itu, koordinasi antara kebijakan fiskal, Danantara, sektor swasta, kebijakan moneter, dan sektor keuangan dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional. Sinergi berbagai unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global.





