Groundbreaking Sekolah Pelita Harapan Jadi Penegasan Pentingnya Pendidikan Karakter dan Kualitas Pembelajaran
Jakarta, RuangVeritas.com – Pembangunan sekolah sejatinya tidak hanya menghadirkan ruang belajar baru, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi penerus bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) Sekolah Pelita Harapan (SPH) yang diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melalui penandatanganan prasasti pada Selasa (2/6).
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar penyediaan infrastruktur. Menurutnya, setiap pembangunan satuan pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ia memberikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) yang dinilai konsisten berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan nasional. Komitmen tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya bersama untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki fondasi karakter yang kuat.
“Pendidikan adalah investasi bagi manusia. Yang dibangun bukan hanya gedung sekolah, melainkan juga karakter generasi masa depan dan fondasi bagi bangsa yang lebih kuat,” ujar Abdul Mu’ti.
Lebih lanjut, Mendikdasmen menekankan pentingnya sekolah sebagai ruang yang mampu menyatukan keberagaman. Lingkungan pendidikan, kata dia, harus menjadi tempat bertemunya peserta didik dari berbagai latar belakang untuk saling belajar, memahami, dan membangun nilai kebersamaan.
Menurutnya, sekolah perlu berfungsi sebagai titik temu sekaligus ruang pembauran yang memperkuat identitas kebangsaan. Interaksi yang berlangsung di dalamnya menjadi sarana penting bagi peserta didik untuk menumbuhkan rasa persatuan serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
“Di sekolah, anak-anak belajar hidup bersama dalam keberagaman. Dari proses itu lahir karakter yang baik sekaligus semangat kebangsaan yang semakin kuat,” jelasnya.
Abdul Mu’ti juga menyoroti dinamika perkembangan teknologi yang membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, ia menilai penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan penguatan nilai moral dan spiritual.
Menurutnya, kecanggihan teknologi dapat membantu manusia memperoleh berbagai informasi dan pengetahuan, namun karakter dan nilai-nilai kehidupan tetap menjadi penentu dalam menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana.
“Ilmu pengetahuan memberi banyak jawaban, tetapi nilai dan keyakinan membantu kita menentukan pilihan yang tepat. Karena itu, pendidikan harus mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kekuatan moral,” tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Executive Director Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, Stephanie Riady. Ia mengatakan bahwa pembangunan Sekolah Pelita Harapan merupakan simbol harapan untuk masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.
Menurut Stephanie, proyek yang dimulai hari itu bukan hanya pembangunan fisik sebuah gedung sekolah, melainkan penciptaan ruang yang memungkinkan generasi muda mengembangkan potensi, menemukan tujuan hidup, dan mempersiapkan diri untuk berkontribusi bagi bangsa.
“Hari ini kita memulai pembangunan sebuah sekolah, tetapi sesungguhnya yang sedang dibangun adalah harapan serta masa depan bagi generasi berikutnya,” ungkap Stephanie.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak boleh menggeser peran penting karakter dalam pendidikan. Teknologi memang mampu membantu menemukan berbagai solusi dan jawaban, tetapi karakterlah yang membimbing seseorang dalam menentukan keputusan yang benar.
Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, jiwa kepemimpinan, serta kepedulian terhadap sesama.
Melalui pembangunan Sekolah Pelita Harapan, diharapkan semakin banyak anak Indonesia memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan berorientasi pada pengembangan karakter. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya siap menghadapi tantangan masa depan secara akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai kemanusiaan, kepemimpinan, dan integritas yang menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.





