Jenis-Jenis Pemeriksaan Organ Dalam: USG, Rontgen, CT Scan, MRI, Endoskopi, hingga Biopsi
RuangVeritas.com – Saat mengalami keluhan seperti nyeri perut yang tak kunjung hilang, sesak napas, sakit kepala hebat, benjolan, atau dokter mencurigai adanya penyakit tertentu, biasanya pasien akan diminta menjalani pemeriksaan penunjang.
Banyak orang hanya mengenal USG, rontgen (X-ray), CT scan, atau MRI. Padahal, masih ada berbagai jenis pemeriksaan lain yang memiliki fungsi berbeda-beda. Masing-masing dipilih sesuai organ yang ingin diperiksa dan dugaan penyakitnya.
Lalu, apa bedanya? Apakah semuanya bisa dilakukan di rumah sakit mana saja? Apakah ditanggung BPJS? Dan mengapa ada pemeriksaan yang harus dipasang infus terlebih dahulu?
Yuk, kita bahas satu per satu.
- USG (Ultrasonografi)
USG adalah salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan karena praktis, aman, dan tidak menggunakan radiasi. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan gelombang suara untuk menghasilkan gambar organ di dalam tubuh.
Dokter biasanya menyarankan USG untuk melihat kondisi hati, kantong empedu, ginjal, pankreas, limpa, kandung kemih, rahim, ovarium, prostat, tiroid, payudara, hingga perkembangan janin selama kehamilan.
Biasanya dilakukan jika dicurigai:
- Batu empedu
- Batu ginjal
- Penyakit hati berlemak (fatty liver)
- Kista ovarium
- Miom
- Pembesaran prostat
- Kehamilan
- Benjolan payudara
- Gangguan tiroid
Persiapan
Tergantung bagian tubuh yang diperiksa.
- USG perut biasanya harus puasa 6–8 jam.
- USG kandung kemih mengharuskan pasien minum banyak air dan menahan buang air kecil.
- USG tiroid, payudara, atau kehamilan umumnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Kelebihan
- Tidak ada radiasi
- Aman untuk ibu hamil dan anak-anak
- Biaya relatif terjangkau
- Hasil bisa langsung dilihat
Kekurangan
- Kualitas gambar dipengaruhi oleh lemak tubuh dan gas di usus.
- Tidak semua organ dapat terlihat jelas, misalnya paru-paru dan tulang.
Risiko
Hampir tidak ada efek samping.
Ketersediaan
Hampir semua rumah sakit, klinik, hingga laboratorium kesehatan menyediakan layanan USG.
Ditanggung BPJS?
Ya, jika ada indikasi medis dan dilakukan melalui prosedur rujukan.
- Foto Rontgen (X-Ray)
Rontgen menggunakan sinar-X untuk melihat struktur tubuh, terutama tulang dan paru-paru.
Biasanya dokter meminta pemeriksaan ini jika dicurigai adanya patah tulang, pneumonia, TBC, kelainan jantung, atau cedera.
Kelebihan
- Cepat (sekitar 5–15 menit).
- Biaya relatif murah.
- Sangat baik untuk melihat tulang dan paru.
Kekurangan
Kurang detail untuk jaringan lunak seperti otak, hati, atau otot.
Risiko
Paparan radiasi sangat kecil. Meski demikian, ibu hamil tetap perlu memberi tahu petugas sebelum pemeriksaan.
Ketersediaan
Hampir semua rumah sakit dan banyak klinik radiologi.
Ditanggung BPJS?
Ya.
- CT Scan
Kalau rontgen menghasilkan satu gambar, CT scan mengambil ratusan gambar dari berbagai sudut lalu menyusunnya menjadi gambar tiga dimensi yang jauh lebih detail.
Karena itulah CT scan sering dipakai pada kondisi darurat.
Biasanya dilakukan untuk
- Stroke
- Cedera kepala
- Perdarahan otak
- Kecelakaan
- Radang usus buntu
- Batu ginjal
- Kanker
- Kelainan paru
- Penyakit pembuluh darah
CT Scan dengan Kontras
Pada beberapa kasus, dokter membutuhkan gambar yang lebih jelas. Karena itu pasien akan diberikan cairan kontras melalui infus.
Kontras ini membantu memperjelas pembuluh darah, organ, maupun tumor sehingga lebih mudah dibedakan dari jaringan normal.
Mengapa kadang pasien diinfus cairan dulu?
Banyak pasien mengira cairan infus tersebut adalah kontras. Padahal sering kali ada dua hal berbeda:
Pertama, infus dipasang sebagai jalur untuk menyuntikkan zat kontras.
Kedua, pada pasien tertentu dokter memberikan cairan infus sebelum atau sesudah pemeriksaan untuk:
- menjaga tubuh tetap terhidrasi,
- membantu ginjal membuang zat kontras,
- mengurangi risiko gangguan ginjal akibat kontras, terutama pada pasien diabetes, lansia, atau yang fungsi ginjalnya kurang baik.
Tidak semua pasien memerlukan cairan infus tambahan. Sebagian besar cukup dianjurkan minum air putih lebih banyak setelah pemeriksaan.
Persiapan
- Puasa sekitar 4–6 jam (untuk CT scan kontras).
- Pemeriksaan fungsi ginjal biasanya dilakukan terlebih dahulu.
- Lepas seluruh benda logam.
Kelebihan
- Sangat cepat.
- Sangat baik untuk keadaan gawat darurat.
- Detail untuk hampir semua organ.
Kekurangan
Menggunakan radiasi lebih tinggi dibanding rontgen.
Risiko
- Reaksi alergi terhadap kontras (jarang).
- Mual atau rasa hangat sesaat setelah kontras disuntikkan.
- Gangguan ginjal pada pasien dengan faktor risiko tertentu.
Ketersediaan
Tidak semua rumah sakit memilikinya.
Ditanggung BPJS?
Ya, bila ada indikasi medis.
- MRI
Kalau CT scan menggunakan sinar-X, MRI menggunakan medan magnet yang sangat kuat.
MRI menjadi pilihan utama ketika dokter ingin melihat jaringan lunak secara lebih rinci.
Misalnya:
- tumor otak,
- saraf kejepit,
- cedera ligamen,
- kelainan tulang belakang,
- gangguan sendi,
- beberapa jenis kanker.
MRI dengan Kontras
Pada beberapa pemeriksaan, dokter memberikan zat kontras berbahan dasar gadolinium melalui infus.
Berbeda dengan CT scan, MRI biasanya tidak memerlukan cairan infus tambahan, kecuali pasien memiliki kondisi medis tertentu.
Persiapan
- Lepas seluruh benda logam.
- Beritahu dokter bila memiliki alat pacu jantung, implan logam, atau klip aneurisma tertentu.
- Bila takut ruang sempit (claustrophobia), dokter dapat memberikan obat penenang ringan.
Kelebihan
- Tidak menggunakan radiasi.
- Sangat detail untuk otak, saraf, sendi, dan otot.
Kekurangan
- Waktu pemeriksaan lebih lama (20–60 menit).
- Biaya lebih mahal.
Risiko
- Tidak cocok bagi pasien dengan beberapa jenis implan logam.
- Sebagian pasien merasa tidak nyaman karena ruang pemeriksaan cukup sempit.
- Reaksi terhadap kontras sangat jarang.
- Endoskopi
Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan, endoskopi memungkinkan dokter melihat organ secara langsung menggunakan kamera kecil yang dimasukkan melalui mulut, hidung, atau anus.
Karena melihat langsung, dokter bahkan bisa mengambil sampel jaringan (biopsi) atau melakukan tindakan kecil sekaligus.
Contohnya
- Gastroskopi → lambung
- Kolonoskopi → usus besar
- Bronkoskopi → saluran napas
- Sistoskopi → kandung kemih
Persiapan
- Puasa.
- Untuk kolonoskopi harus membersihkan usus menggunakan obat pencahar.
- Biasanya dipasang infus untuk memberikan obat penenang (sedasi).
Risiko
- Kembung sementara.
- Nyeri tenggorokan ringan (gastroskopi).
- Perdarahan ringan setelah biopsi.
- Sangat jarang terjadi robekan saluran cerna.
- PET Scan dan SPECT Scan
Kalau CT scan dan MRI melihat bentuk organ, PET scan melihat aktivitas sel.
Karena itu pemeriksaan ini sering digunakan pada pasien kanker.
Dokter dapat mengetahui apakah sel kanker masih aktif, sudah menyebar, atau bagaimana respons terhadap kemoterapi.
Radiofarmaka disuntikkan melalui infus, lalu pasien menunggu sekitar 30–90 menit agar zat tersebut tersebar ke seluruh tubuh sebelum pemindaian dilakukan.
Risiko
Paparan radioaktif sangat kecil dan akan keluar melalui urine dalam beberapa jam. Karena itu pasien dianjurkan banyak minum setelah pemeriksaan.
- Angiografi
Angiografi digunakan untuk melihat kondisi pembuluh darah. Pemeriksaan ini sering dilakukan pada pasien serangan jantung atau stroke. Selain untuk melihat sumbatan, dokter juga bisa langsung memasang ring (stent) bila diperlukan.
Karena merupakan tindakan invasif, pasien akan dipasang infus, mendapatkan obat, serta zat kontras selama prosedur berlangsung.
- Ekokardiografi (USG Jantung)
Ekokardiografi sebenarnya adalah USG khusus jantung. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan bagaimana jantung memompa darah, kondisi katup, hingga adanya kelainan bawaan. Sebagian besar pasien tidak memerlukan persiapan apa pun.
- Elastografi
Elastografi adalah pengembangan dari USG atau MRI yang mampu mengukur tingkat kekakuan jaringan.
Pemeriksaan ini paling sering digunakan pada pasien hepatitis kronis atau sirosis hati sehingga tidak selalu perlu dilakukan biopsi.
- Biopsi
Jika dokter menemukan benjolan yang mencurigakan, pemeriksaan yang paling memastikan diagnosis adalah biopsi.
Dokter mengambil sedikit jaringan, kemudian diperiksa di laboratorium patologi anatomi menggunakan mikroskop. Biopsi dapat memastikan apakah suatu benjolan bersifat jinak atau ganas.
Apakah Semua Pemeriksaan Bisa Dilakukan di Semua Rumah Sakit?
Tidak. Secara umum:
| Pemeriksaan | Hampir semua RS | RS besar/rujukan | Laboratorium swasta |
| USG | ✅ | ✅ | Sebagian |
| Rontgen | ✅ | ✅ | Sebagian |
| CT Scan | Sebagian | ✅ | Beberapa |
| MRI | ❌ | ✅ | Sangat sedikit |
| Endoskopi | Sebagian | ✅ | Tidak |
| PET Scan | ❌ | Sangat terbatas | Tidak |
| Angiografi | ❌ | RS dengan Cath Lab | Tidak |
| Ekokardiografi | Sebagian | ✅ | Jarang |
| Elastografi | Sebagian | ✅ | Beberapa |
| Laboratorium | ✅ | ✅ | ✅ |
| Biopsi | Sebagian | ✅ | Pengambilan sampel umumnya di RS, analisis dapat dilakukan di laboratorium patologi anatomi |
Apakah Ditanggung BPJS?
Kabar baiknya, sebagian besar pemeriksaan ini dapat ditanggung BPJS Kesehatan, selama:
- ada indikasi medis,
- direkomendasikan oleh dokter,
- mengikuti alur pelayanan dan rujukan yang berlaku,
- serta tersedia di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS.
Jika rumah sakit tidak memiliki alat yang dibutuhkan, pasien biasanya akan dirujuk ke rumah sakit lain.
Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan berbagai penyakit dideteksi lebih cepat dan lebih akurat. Namun, pemeriksaan yang dipilih bukanlah yang paling mahal atau paling canggih, melainkan yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
Semakin tepat pemeriksaan yang dilakukan, semakin cepat pula dokter dapat mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, ikuti anjuran dokter, lakukan persiapan pemeriksaan dengan baik, dan jangan sungkan bertanya apabila ada hal yang belum dipahami.
Penulis : Liana





