Kemendikdasmen bersama OJK Perkuat Literasi Keuangan melalui Bahan Ajar Gratis di Rumah Pendidikan
RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi keuangan di lingkungan pendidikan melalui penyediaan bahan ajar yang bisa dimanfaatkan secara gratis melalui platform Rumah Pendidikan. Sinergi kedua lembaga tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dalam acara puncak Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2026 yang berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (24/9).
Materi pembelajaran yang disediakan mencakup berbagai aspek literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Topik yang dibahas meliputi pengelolaan keuangan pribadi, pengenalan lembaga keuangan, perkembangan ekonomi digital, perencanaan keuangan, investasi, pinjaman, hingga pengelolaan anggaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengapresiasi kepercayaan OJK yang menjadikan Kemendikdasmen sebagai mitra dalam pengembangan ekonomi syariah sekaligus memperkuat literasi keuangan melalui pendidikan. Ia menyampaikan bahwa buku literasi keuangan syariah yang dikembangkan OJK dapat dimanfaatkan secara gratis oleh murid, guru, maupun masyarakat luas melalui platform pendidikan.
Menurut Abdul Mu’ti, akses terhadap materi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman keuangan para murid, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan inklusi keuangan. Pada akhirnya, penguatan literasi tersebut diharapkan dapat mendukung kemajuan serta kesejahteraan masyarakat dengan ekonomi syariah sebagai salah satu unsur penting.
Melalui Rumah Pendidikan, bahan ajar literasi keuangan tersedia dalam bentuk perangkat ajar pada Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Sejumlah materi yang telah melalui proses kurasi Kemendikdasmen tersebut dikembangkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran bersama OJK. Materi yang tersedia di antaranya “Mengelola Keuangan Pribadi”, “Manajemen Keuangan Kegiatan Kepanitiaan”, “Lembaga Keuangan”, “Barisan dan Deret”, “Perekonomian Digital”, serta “Analisis Data dan Peluang”.
Berbagai materi tersebut dirancang untuk memasukkan unsur literasi keuangan ke dalam pembelajaran Ekonomi dan Matematika, serta dapat diterapkan dalam kegiatan kokurikuler.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan memiliki posisi penting dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pengelolaan keuangan. Sementara itu, perluasan akses dan penyediaan berbagai fasilitas pendukung dilakukan melalui kerja sama dengan mitra strategis, termasuk OJK dan Kementerian Koperasi.
Dari perspektif regulator, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menjelaskan bahwa kerja sama dengan Kemendikdasmen merupakan bagian dari upaya merancang strategi literasi dan inklusi keuangan syariah melalui pendidikan formal.
Menurut Dicky, strategi tersebut diarahkan agar pemahaman mengenai keuangan syariah mulai dibangun sejak usia dini, khususnya melalui jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kolaborasi juga mencakup pengembangan bahan ajar, penguatan kurikulum, serta pelatihan bagi para guru.
Ia menilai peningkatan pemahaman generasi muda mengenai berbagai layanan dan produk keuangan menjadi semakin penting seiring dengan semakin luasnya pemanfaatan layanan keuangan berbasis digital.
Sementara itu, Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (PP MES), Ferry Juliantono, turut mengapresiasi kolaborasi antara OJK, Kemendikdasmen, dan berbagai pihak dalam pelaksanaan ISFO 2026. Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki potensi menjadi wirausahawan sekaligus berkontribusi dalam pemanfaatan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
ISFO 2026 diikuti oleh 11.952 peserta yang tergabung dalam 4.030 tim dari berbagai daerah di Indonesia. Dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah peserta mengalami pertumbuhan sekitar 12 persen, sementara jumlah tim bertambah sekitar 15 persen.
Kerja sama Kemendikdasmen dan OJK tersebut diharapkan semakin meningkatkan kemampuan murid dalam memahami berbagai pilihan dan risiko keuangan. Selain itu, penguatan literasi keuangan sejak dini diharapkan dapat membentuk kebiasaan dalam mengambil keputusan finansial secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Pembekalan literasi keuangan sejak usia sekolah juga diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan nilai ekonomi serta memiliki ketangguhan dalam menghadapi perkembangan dan tantangan di era digital.





