Pendidikan

Kemendikdasmen Gelar Ekshibisi Kompetisi AI untuk Cetak Talenta Digital Muda melalui LKS dan OSN Dikmen 2026

Jakarta, RuangVeritas.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menggandeng Cakrawala University dan Merkle Innovation untuk memperkenalkan Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA). Kegiatan sosialisasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang Pendidikan Menengah (Dikmen) tahun 2026 yang digelar pada Senin (15/6).

Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam membangun kesiapan generasi muda menghadapi kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (KA). Melalui sosialisasi EKKA, murid, guru, sekolah, serta Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota dan provinsi mendapatkan gambaran mengenai aturan, alur, hingga tahapan pelaksanaan kompetisi tersebut.

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, menjelaskan bahwa penguatan kemampuan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan harus dilakukan secara terbuka dengan melibatkan berbagai pihak.

Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan murid agar mampu menghadapi perubahan zaman yang terus berkembang.

“Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh kelulusan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang siap menghadapi masa depan. Melalui EKKA, kami ingin murid Indonesia tidak hanya memakai teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi berbasis kecerdasan artifisial,” kata Muchlas.

Ia berharap kompetisi ini dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kemampuan sebagai pemecah masalah, inovator, peneliti, serta pengembang solusi berbasis AI. Inovasi yang dihasilkan diharapkan mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, seperti sektor pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan, layanan publik, UMKM, hingga bidang inklusi sosial.

Muchlas juga menekankan pentingnya penerapan kecerdasan artifisial yang beretika dan bertanggung jawab. Menurutnya, teknologi AI harus diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi manusia.

“Kecerdasan artifisial yang dikembangkan harus memperhatikan keamanan, keterbukaan, keadilan, serta nilai kebermanfaatan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan bahwa kemampuan di bidang kecerdasan artifisial kini menjadi kebutuhan penting di berbagai sektor kehidupan.

Karena itu, Puspresnas kembali menghadirkan EKKA pada tahun 2026 dengan persiapan lebih awal agar peserta memiliki waktu lebih panjang untuk meningkatkan kemampuan.

“Indonesia sebelumnya telah mengirimkan perwakilan untuk mengikuti International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI). Tahun ini, EKKA diperluas melalui ajang LKS Dikmen untuk memperkuat pembinaan talenta AI di tingkat nasional,” tutur Irene.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Rektor Cakrawala University, Alim Anggono. Ia menilai penguasaan teknologi kecerdasan artifisial menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi generasi masa depan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membentuk ekosistem pengembangan talenta kecerdasan artifisial Indonesia,” ungkap Alim.

Salah satu calon peserta EKKA dari LKS Dikmen, Annisa Rahmayanti dari SMK Negeri 1 Tarakan, mengaku tertarik mengikuti kompetisi tersebut karena ingin memperluas pengetahuan sekaligus mengasah kemampuan di bidang teknologi.

“Bagi saya, ini menjadi kesempatan untuk mempelajari hal baru dan meningkatkan keterampilan. Saya tertarik dengan kecerdasan artifisial dan ingin mencoba mengembangkan kemampuan tersebut,” ujar Annisa.

Dalam pelaksanaan LKS Dikmen, EKKA menggunakan konsep kompetisi berbasis studi kasus. Peserta akan bekerja dalam tim untuk membuat rancangan, membangun, serta mempresentasikan aplikasi berbasis kecerdasan artifisial yang mampu menyelesaikan persoalan nyata sesuai tantangan yang diberikan panitia.

Peserta EKKA LKS Dikmen merupakan murid aktif jenjang pendidikan menengah seperti SMA, MA, SMK, MAK, atau sederajat yang menjadi perwakilan provinsi berdasarkan keputusan kepala dinas pendidikan. Pendaftaran berlangsung pada 15–22 Juni 2026, pengumpulan karya pada 22 Juni–3 Juli 2026, seleksi pada 6–10 Juli 2026, pengumuman finalis pada 13 Juli 2026, dan babak final nasional dilaksanakan pada 30 Juli–1 Agustus 2026 di Jakarta.

Selain LKS Dikmen, EKKA juga menjadi bagian dari rangkaian OSN Dikmen 2026 sebagai pengenalan cabang kompetisi kecerdasan artifisial dalam ajang sains nasional tersebut.

Peserta OSN EKKA merupakan murid jenjang pendidikan menengah kelas X hingga XII yang belum lolos OSN tingkat provinsi (OSN-P) 2026 pada bidang apa pun serta mendapatkan persetujuan dari orang tua/wali, guru, maupun kepala sekolah.

Tahapan OSN EKKA dimulai dengan pendaftaran pada 15 Juni–15 Juli 2026, pra-seleksi pada 30 Juli 2026, pengumuman hasil pra-seleksi pada 5 Agustus 2026, seleksi semifinal pada 12 Agustus 2026, pengumuman 30 finalis pada 18 Agustus 2026, dan babak final nasional pada 14–20 September 2026 di Malang, Jawa Timur.

Peserta yang berhasil lolos seleksi daring OSN EKKA akan mengikuti tahap final nasional serta berpeluang mendapatkan pembinaan untuk mengikuti seleksi menuju IOAI.

Kegiatan sosialisasi ini turut menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Ikhsanul Habibie dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) sekaligus perwakilan Ikatan Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (IA TOKI), serta Darianti dari Merkle Innovation.

Melalui EKKA, Kemendikdasmen menargetkan semakin banyak generasi muda Indonesia yang mampu menciptakan inovasi teknologi berbasis kecerdasan artifisial yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Informasi pendaftaran dapat dilakukan melalui satuan pendidikan masing-masing melalui portal registrasi Kemendikdasmen.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button