Berita UmumTeknologi

Komdigi Ungkap Pola Baru Penyebaran Spam Judi Online, Kreator Konten Lokal Mulai Dibidik

Jakarta, RuangVeritas.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap adanya perubahan pola dalam aktivitas penyebaran spam judi online di ruang digital. Berdasarkan pemantauan terbaru, penyebaran konten promosi judi online kini tidak lagi berjalan di satu kanal saja, tetapi bergerak secara serentak melalui berbagai platform media sosial.

Tidak hanya menyasar akun-akun besar, pelaku juga mulai mengarahkan aktivitasnya kepada influencer serta kreator konten daerah yang memiliki basis pengikut cukup kuat.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengatakan bahwa pola serangan spam judi online mengalami perluasan yang cukup signifikan.

“Penyebaran spam judi online saat ini tidak lagi ditemukan hanya pada satu platform digital. Kami melihat aktivitas serupa muncul secara bersamaan di beberapa layanan seperti Instagram, TikTok, Facebook, X, dan YouTube,” ujar Alexander, Selasa (30/06/2026).

Sebelumnya, Komdigi menemukan adanya pola penggunaan akun palsu dan sistem otomatis atau bot untuk menyebarkan komentar berisi promosi judi online. Aktivitas tersebut dilakukan dengan memanfaatkan berbagai variasi kata, frasa, hingga tagar agar dapat melewati mekanisme penyaringan otomatis dari platform.

Dalam perkembangannya, strategi pelaku turut berubah. Jika sebelumnya komentar promosi lebih banyak diarahkan ke akun milik lembaga pemerintah, kini fokus serangan mulai bergeser kepada figur publik digital yang memiliki pengaruh di komunitas masing-masing.

“Sekitar 52 persen sasaran spam judi online saat ini mengarah kepada akun influencer daerah. Hal ini karena akun-akun tersebut memiliki hubungan yang lebih dekat dengan pengikutnya, tingkat interaksi tinggi, serta ruang komentar yang memungkinkan konten tersebut bertahan lebih lama,” jelas Alexander.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat komentar promosi ilegal berpotensi menjangkau pengguna yang lebih luas karena adanya tingkat kepercayaan yang sudah terbentuk antara kreator dan audiens.

Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi lokasi dengan intensitas serangan paling tinggi, terutama karena banyak digunakan oleh kreator konten lokal. Sementara itu, platform Threads belum menjadi sasaran utama karena jumlah penggunanya masih relatif lebih terbatas.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa jaringan penyebar judi online terus mengubah pendekatan mereka dengan mengikuti kebiasaan masyarakat dalam menggunakan media sosial.

Alexander menjelaskan, operasi tersebut dilakukan menggunakan sistem otomatis berbasis bot yang berasal dari sejumlah negara, termasuk India dan Brasil. Aktivitas tersebut diduga terhubung dengan jaringan agen lokal yang menjalankan pola distribusi tertentu.

“Jaringan ini menggunakan mekanisme otomatis dan melibatkan banyak pihak dalam ekosistem white-label. Selama periode tertentu, termasuk momentum besar seperti Piala Dunia hingga 19 Juli 2026, potensi peningkatan aktivitas masih perlu diwaspadai,” katanya.

Untuk merespons situasi tersebut, Komdigi terus memperkuat kerja sama dengan berbagai penyelenggara platform digital agar penanganan akun maupun konten yang terindikasi melakukan promosi judi online dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami mendorong seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk meningkatkan sistem moderasi, memperkuat kemampuan mendeteksi akun tidak autentik, serta mempercepat penghapusan konten yang mengarah pada promosi judi online,” tegas Alexander.

Selain memperkuat pengawasan, Komdigi juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan interaksi terhadap konten yang mengandung promosi judi online, termasuk membuka, membagikan, atau memberikan respons yang dapat memperluas jangkauan konten tersebut.

Pemberantasan judi online membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, perusahaan teknologi, kreator digital, dan masyarakat.

“Laporan dari masyarakat terhadap akun maupun konten yang melanggar sangat membantu mempersempit ruang gerak pelaku. Kolaborasi bersama menjadi kunci agar ruang digital Indonesia tetap aman dan sehat,” tutup Alexander.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button