Pendidikan

Memuliakan Murid, Fondasi Pembelajaran Mendalam di Pendidikan Vokasi

RuangVeritas.com – Transformasi pendidikan pada akhirnya bermuara pada satu hal penting, yakni bagaimana murid mengalami proses belajar di dalam kelas. Karena itu, pembelajaran tidak cukup hanya berorientasi pada materi yang disampaikan guru, tetapi juga perlu memastikan setiap murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan menyenangkan.

Prinsip tersebut menjadi salah satu landasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam mendorong penerapan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Pendekatan yang menekankan pembelajaran Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menyenangkan (Joyful) itu kembali ditunjukkan melalui Apresiasi Karya Implementasi Pembelajaran Mendalam (Aksi PM) jenjang SMK yang berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jawa Timur, Minggu (9/8).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan perubahan dalam pendidikan harus menyentuh persoalan mendasar yang berlangsung dalam proses pembelajaran. Menurutnya, kelas merupakan titik awal penting untuk membangun kualitas pendidikan secara menyeluruh.

“Kita ingin memperbaiki problematika pendidikan kita itu dari hulunya, yaitu dari pendekatan pembelajaran yang kita kembangkan, yang kita sebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menjelaskan, Pembelajaran Mendalam tidak semata-mata berbicara mengenai metode atau teknik mengajar. Lebih dari itu, pendekatan tersebut berangkat dari cara pandang pendidik terhadap murid serta bagaimana proses belajar dirancang agar memberikan pengalaman yang berkualitas.

Tiga prinsip utama, yakni Mindful, Meaningful, dan Joyful, menjadi pijakan dalam pelaksanaannya. Abdul Mu’ti menekankan bahwa proses belajar harus dibangun dengan penghargaan terhadap keberadaan setiap murid, tanpa membedakan kemampuan akademik maupun latar belakang mereka.

“Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang ingin kita lakukan dengan prinsip dasar memuliakan. Kata kuncinya adalah memuliakan: memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu,” jelasnya.

Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan teori Information Processing yang menempatkan kualitas proses sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Namun, sebelum berbicara mengenai teori dan metode, pendidik perlu memiliki perspektif yang tepat dalam memperlakukan murid sebagai individu yang harus dihargai dan dimuliakan.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, menyebut Pembelajaran Mendalam sebagai bagian penting dalam membangun pendidikan vokasi yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masa depan.

Menurut Tatang, Aksi PM tidak seharusnya dipandang hanya sebagai ajang perlombaan antarguru. Kegiatan tersebut justru menjadi ruang untuk memberikan penghargaan sekaligus memperlihatkan berbagai inovasi pembelajaran yang lahir dari persoalan nyata di kelas.

Penilaian dalam Aksi PM dilakukan dengan melihat keseluruhan proses yang dijalankan guru, mulai dari kemampuan mengidentifikasi persoalan, menentukan pendekatan pedagogis, sampai melihat perubahan yang terjadi pada murid.

“Aksi PM menjadi ruang apresiasi bagi guru SMK yang telah menerapkan Pembelajaran Mendalam di kelas. Karya yang ditampilkan menggambarkan perjalanan pembelajaran secara utuh, dari masalah yang dihadapi, strategi pedagogis yang dipilih, hingga bukti pembelajaran dan dokumen pendukung,” kata Tatang.

Ia menegaskan, kualitas karya tidak semata-mata ditentukan oleh tampilan atau kemasan yang menarik. Hal yang jauh lebih penting adalah sejauh mana inovasi tersebut mampu memberikan perubahan terhadap pengalaman belajar murid.

Gambaran tersebut terlihat dari karya para guru yang memperoleh penghargaan dalam Aksi PM. Salah satunya ditunjukkan Krisna Kirana dari SMK Negeri 2 Jiwan, Madiun, yang meraih penghargaan Terbaik 1 melalui karya berjudul “MATABOR” atau Matematika Terapan Abad 21: Basis Operasi Trigonometri pada Pengeboran Presisi.

Krisna menghubungkan konsep trigonometri yang dipelajari dalam matematika dengan praktik pengeboran presisi di bengkel mesin. Melalui pendekatan tersebut, murid tidak hanya memahami teori secara abstrak, tetapi dapat melihat secara langsung bagaimana konsep matematika digunakan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan bidang keahlian mereka.

Menurut Krisna, Pembelajaran Mendalam tidak harus diwujudkan melalui metode yang kompleks. Guru dapat memulainya dengan menghubungkan materi pelajaran dengan situasi yang benar-benar dekat dengan kehidupan maupun kebutuhan dunia kerja.

Ia juga mendorong para guru untuk membuka peluang kolaborasi dan mengintegrasikan materi dari berbagai bidang keahlian sehingga pembelajaran menjadi semakin kontekstual bagi murid.

Inovasi berbeda ditampilkan Yusra Khairunnisa dari SMK Negeri 1 Singosari, Malang, yang meraih Terbaik 2. Ia memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) melalui pendekatan pembelajaran hybrid untuk menghadirkan objek pembelajaran secara lebih konkret.

Salah satu inovasinya berupa Diorama AR. Dengan memindai marker yang tersedia, murid dapat mengeksplorasi berbagai informasi mengenai furnitur, psikologi warna, hingga aspek ergonomi secara interaktif.

Pemanfaatan teknologi tersebut dirancang bukan sekadar untuk menarik perhatian murid, tetapi juga membantu mereka mengembangkan kemampuan analisis sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Baik Krisna maupun Yusra sama-sama mengajak guru untuk tidak menunggu hadirnya kondisi yang sempurna sebelum melakukan perubahan. Pembelajaran Mendalam dapat dimulai dari persoalan sederhana yang ditemukan dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Yusra menilai guru justru merupakan pihak yang paling memahami kondisi dan kebutuhan murid di kelasnya masing-masing. Karena itu, perubahan dapat dimulai melalui langkah sederhana yang sesuai dengan persoalan nyata yang dihadapi.

“Silakan dimulai dari hal kecil karena yang paling mengetahui permasalahan di kelas adalah Bapak/Ibu guru sendiri,” ujarnya.

Aksi PM SMK dilaksanakan sepanjang 22 Juli hingga 9 Agustus 2026. Kegiatan ini melibatkan 250 satuan pendidikan yang menjadi sasaran pelatihan pada 2025. Dari rangkaian tersebut, terpilih 10 karya terbaik yang memperoleh penghargaan dalam berbagai kategori.

Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen terus mendorong agar praktik Pembelajaran Mendalam tidak berhenti pada karya atau ajang apresiasi. Berbagai pengalaman dan inovasi yang telah dihasilkan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lain untuk mengembangkan pembelajaran yang semakin dekat dengan kebutuhan murid.

Pada akhirnya, keberhasilan Pembelajaran Mendalam bukan hanya ditentukan oleh seberapa inovatif metode yang digunakan, melainkan oleh seberapa jauh proses tersebut mampu membuat murid merasa dihargai, memahami manfaat dari apa yang dipelajari, dan menemukan pengalaman belajar yang memberi dampak bagi masa depannya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button